Balet adalah tarian yang membidik langit. Para penari balet sering melompat tinggi ketika menari, dan lompatan itu akan semakin tinggi. Para balerina berdiri menggunakan ujung kaki, menahan rasa sakit demi menggapai impian-impian mereka yang setinggi langit.
Aku tidak tahu banyak tentang balet, namun aku tahu esensi balet terhadap impian yang setinggi langit itu.
Dimulai dari hal kecil, sedang, hingga besar. Rintangan, hambatan, dan berbagai masalah yang tak ada habisnya. Namun, semua itu bisa saja dihancurkan dengan mudah oleh seorang balerina ketika menari-nari di atas panggung. Ia menari dan melabuhkan impiannya ke langit, tanpa ada sedikitpun rasa keraguan di dalam hatinya.
Rasa-rasanya aku sedang menjadi seorang balerina yang sedang mengejar impian setinggi langit itu.
Tak peduli impian itu sedang diincar oleh kamu, dia, mereka, dan mereka.
Aku akan terus maju dan berjuang semampuku dengan caraku sendiri.
Dan aku hanya akan menyerah jika 'impianku itu sendiri' yang mematahkannya.
.
.
.
Jepara, 1 Januari 2020.
Di dalam kapal Siginjay, dalam pelayaran menuju pulau Karimunjawa.
Pagi itu, suasana kapal cukup sepi meskipun libur akhir tahun belum usai. Aku yang kelelahan setelah merayakan malam pergantian tahun di Semarang langsung duduk di ruang tengah penumpang. Karena sangat lelah, aku bisa tertidur nyenyak selama beberapa saat. Namun, di tengah-tengah perjalanan, ombak laut mulai mengganas, sehingga menyebabkan kapal jadi bergoyang-goyang tak beraturan.
Saat aku terbangun, di sebelah kiriku, ada seorang gadis berkerudung yang menyandarkan kepalanya di pundaknya sendiri. Parasnya mirip Laudya Cintya Bella. Tipeku banget. Kemudian, saat mata kami tak sengaja saling beradu pandang, hatiku seakan mau melompat ke laut. Dan pada saat itulah, aku kembali merasakan yang namanya:
'Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama'
Kemudian, sayup-sayup terdengar lagu Yovie n Nuno: Merindu Lagi.
Sejak saat pertama, melihat senyumannya, jantung berdebar-debar, ini kah pertanda?
"Bisa tidur?" Sambil mengatur irama detak jantungku yang tak beraturan, aku melontarkan senyum bersahabat kepada cewek jelmaan Laudya Cintya Bella itu.
"Bisa," katanya kalem, namun…
Jelas dia berbohong! Kalo bisa tidur, ngapain juga bangun dan membalas sapaanku. Ya, kan?
"Dari mana asalnya, Mbak?" Aku bertanya sambil menatap wajahnya.
Matanya sungguh jernih dan tajam. Ada beberapa bintik-bintik tahi lalat kecil di pipinya yang membuatnya begitu indah dan tidak membosankan jika dipandang terus-menerus. Rasanya seperti melihat Laudya Cintya Bella sewaktu masih membintangi film 'Lentera Merah' dulu.
"Bekasi," ujarnya kalem, namun dengan intonasi yang cukup jelas.
"Lho, bukannya Bekasi lagi banjir, ya? Itu breaking news," kataku sambil menunjuk tivi di ruang tengah penumpang.
"Gak, sih. Tempat tinggalku aman."
Sejak awal cewek ini memang sudah berbakat menjadi seorang narasumber yang handal.
Haduh!
Aku yang mulai kebingungan mencari topik obrolan pun hanya mampu berkata, "Oh."
Kendati demikian, percakapan basa-basi terus berlanjut. Aku jadi wartawan, gadis itu jadi narasumber. Sampai kapal tiba di pelabuhan Karimunjawa, kami belum berkenalan secara resmi. Aku juga lupa menanyakan akun media sosialnya. Intinya aku sangat menyesal karena tidak sempat memperkenalkan diriku padanya saat masih di kapal.
Kemudian, aku berusaha menenangkan gejolak di hatiku, 'Kalo memang jodoh, nanti pasti ketemu lagi.'
Dan benar saja.
Kejadian selanjutnya bagaikan di dalam FTV.
.
.
.
Alun-alun Karimunjawa, 2 Januari 2020.
Malam itu, aku makan malam bersama suami istri dari Spanyol yang kutemui sewaktu makan siang di kedai sea food. Namanya Pablo dan Ariana. Couple traveller itu sudah berada di Indonesia selama hampir satu tahun. Lalu, selesai makan, ketika hendak membayar, aku melihat gadis jelmaan Laudya Cintya Bella itu dan adik perempuannya sedang berjalan dari arah utara menuju ke arahku.
Ketika ia melewatiku, aku pun langsung menyapanya dengan sigap. "Eh, Mbak yang ketemu kemarin."
"Ketemu di mana, ya?" Tanyanya, defensif.
Astaga… kok dia tidak mengenalku ya? Kebingungan atau pura-pura lupa? Duh, gimana, nih. Mati lah, aku!
"Ketemu di kapal. Mbak yang dari Bekasi, kan?"
Untungnya aku masih inget asalnya. Coba kalo tidak, aku pasti mati berdiri, karena banyak wisatawan yang sedang menikmati kuliner malam di sepanjang trotoar alun-alun juga memperhatikan gerak-gerikku, seolah mereka penasaran langkah apa yang akan aku lakukan selanjutnya.
"Iya." Mata gadis itu lebih bercahaya daripada sorot lampu jalan raya, mengalahkan temaram bulan, bahkan lebih menarik dibandingkan kerlap-kerlip bintang di angkasa.
Karena terbuai dengan sorot matanya yang tajam bak mata Elang itu, hatiku pun meleleh. Leleh, kemudian mencair, dan membasahi celana dalamku.
Hohoho….
Tiba-tiba hening. Moment awkward. Orang-orang di sekitar masih ngelihatin kami sambil makan.
Duh, aku grogi. Sangat tidak keren jika aku mati kutu di hadapannya. Namun, aku yang sudah berpengalaman berkenalan dengan cewek Eropa dan Amerika seharusnya bisa mengatasi rasa gugup ini.
Akhirnya aku membuka mulut untuk memecah keheningan, "Jadi pulang hari minggu?"
"Nggak jadi, sih. Besok."
"Lho, kenapa? Kecewa, ya, sama Karimun?"
"Gak kok, pengen ganti destinasi aja di Jepara."
O begitu rupanya.
Hening lagi.
"Oh iya, kita belum kenalan." Aku mendekatinya sambil mengulurkan tangan.
"Dinta." Tangan Dinta yang halus menjabat tanganku, kehangatannya mengalir hingga relung hatiku.
Ceilah….
(Dinta adalah nama samaran).
"Dinta punya IG?" Aku langsung to the point aja.
"Oh iya, boleh."
Boleh? Padahal kan aku tidak meminta persetujuannya.
Dalam waktu singkat, kami bertukar akun Instagram.
"Kalau begitu, sampai bertemu lagi, Dinta."
"Iya."
Hari itu adalah hari yang sangat istimewa bagiku.
Hatiku yang berbunga-bunga sudah digenggam olehnya, tanpa tahu sedikit pun bahwa Dinta sebenarnya adalah seorang mahasiswi yang sudah memiliki pacar.
Beberapa minggu kemudian, saat Dinta memamerkan pacarnya di Instastory-nya dengan penuh rasa bangga, hatiku seakan hancur berkeping-keping bagaikan dilindas truk kontainer. Rasanya teramat sakit; perih sekali. Hancur sudah semua harapan-harapan indahku bersamanya.
Perlahan-lahan, air mata mulai membasahi pelupuk mataku, namun tidak ada setetes pun yang keluar.
Dinta seakan ingin mengusirku dari kehidupannya secara halus. Aku yang menyadarinya pun langsung mengucapkan selamat tinggal padanya saat itu juga.
Setelah itu, aku tidak menyapa Dinta lagi selama hampir dua bulan. Aku memilih pergi dan berusaha melupakannya. Namun, bayang-bayang indah Dinta selalu saja menghantuiku. Akhirnya, aku pun merindukannya lagi. Siklusnya selalu saja seperti itu.
Hubunganku dengan Dinta sudah berakhir. Dia sudah punya pacar, aku tidak punya hak untuk mendekatinya lagi.
Aku selalu berpikir begitu untuk meyakinkan diriku agar tetap istiqomah melupakannya. Namun, hati kecilku seakan tidak rela jika hubungan yang awalnya cukup seru ini tiba-tiba berakhir begitu saja.
Bayangkan saja, aku mengenalnya secara baik-baik. Di tempat yang baik pula: Karimunjawa. Pulau yang sangat aku cintai. Berharap suatu hari nanti aku bisa hidup sederhana bersama kekasih hatiku di pulau ini.
Ya Tuhan, kenapa kau mempertemukanku dengan Dinta jika kau hanya ingin membuat hatiku terluka? Drama lagi. Cinta lagi. Berakhir sakit hati lagi. Aku sudah muak dengan semua itu.
Tuhan, maafkan aku karena menangis.
Hari-hari silih berganti, setiap harinya aku selalu kepikiran tentang hal ini.
Karena itu, aku berencana ingin menyapa Dinta lagi pada tanggal 1 Januari 2021. Menurutku, ini adalah momen terbaik untuk mengenang satu tahun pertemuan kami. Aku sudah memantapkan keputusan itu meskipun masih sangat lama, jadi hatiku sedikit lega. Bayang-bayang indah pertemuanku dengan Dinta mulai bersemi kembali menghiasi relung hatiku. Aku jadi lebih bersemangat menjalani hari-hariku.
Akan tetapi, karena ada wabah pandemi virus Corona yang masuk ke Indonesia dan kota Bekasi menjadi salah satu zona merah penyebarannya, maka aku memberanikan diri untuk menyapa Dinta lebih cepat dari rencana awal. Aku benar-benar mengkhawatirkan keadaannya. Walaupun dia tidak peduli padaku, itu bukan masalah. Yang penting aku sudah menunjukkan rasa simpatiku padanya.
Meski demikian, aku tidak tahu harus bagaimana lagi nanti. Biarkan Tuhan yang mengatur semuanya. Pada akhirnya, kembali lagi pada statement legend itu:
'Kalau Memang Jodoh, Suatu Hari Nanti Pasti Akan Menemukan Jalan Untuk Bersama'
Namun, ternyata statemen legend itu sudah dipastikan tidak akan berlaku untukku.
Karena 'impianku itu sendiri' semalam sudah mematahkanku.
Dan sesuai prinsipku sejak awal: Aku hanya akan menyerah jika 'impianku itu sendiri' yang mematahkannya.
Kemudian, lirik lagu Yovie n Nuno kembali menghiasi dinginnya malam ini.
.
.
.
Sejak saat pertama melihat senyumannya
Jantung berdebar-debar, inikah pertanda?
Namun ternyata salah, harapanku pun musnah
Sejak aku melihat kau selalu dengannya
Tuhan tolong aku ingin dirinya
Rindu padanya, memikirkannya
Namun mengapa saat jatuh cinta
Sayang sayang dia ada yang punya
Mungkin ku harus pergi untuk melupakannya
Dalam hati berkata takkan sanggup pergi
Telah 'ku coba menghapus bayang-bayang indah
Tetapi selalu aku merindu lagi….
.
.
.
Selamat tinggal untuk selamanya 😉

Komentar
Posting Komentar