Langsung ke konten utama

Berkemah Di Karimunjawa



a Story By Instagram: @beautycampdiary

Pengantar

Rasa-rasanya aku selalu jauh dari keberuntungan.

Akhir Oktober 2018, aku gagal bersepeda ke Flores karena mengalami kecelakaan di jalan raya Jogja-Klaten. Insiden itu benar-benar menjatuhkan mental dan psikis-ku, meskipun sebenarnya aku cukup beruntung masih diberi kesempatan hidup tanpa ada cacat sedikit pun.

Sebelum merencanakan petualangan besar di tanah Flores lagi, aku ingin kembali mengunjungi Karimunjawa lebih dulu, sekaligus latihan hitchiking kecil-kecilan sewaktu di tanah Karimunjawa. Aku sudah merencanakan berkemah di Karimunjawa jauh-jauh hari. Dengan dukungan peralatan berkemah dan hiburan yang cukup baik, seharusnya cerita perjalananku di Karimunjawa bisa menjadi petualangan terbaik dalam hidupku.

Tetapi, kemudian....

*****

Bab l: Adventure Karimunjawa Camp

Cerita ini dimulai dari loteng kamar tidurku yang menyejukkan hati dan pikiran.

Awal musim kemarau tahun 2019, Secang, Magelang, provinsi Jawa Tengah.

Hari pertama: Perjalanan ke Jepara

Di dalam bus Ramayana jurusan Jogja-Semarang, sambil mendengarkan lagu Didi Kempot: Terminal Tirtonadi.

Aku mengenakan kemeja flanel hijau-biru-kuning favoritku, dikombinasikan t-shirt berwarna putih, dan celana krem lusuhku masih terasa nyaman bagi pahaku yang ramping—aku mengenakannya sebagai simbol kesederhanaan dan kebebasan. Daypack biru yang melekat di punggungku berisi: pakaian ganti, logistik, dan peralatan camping yang simpel.

“....” Aku mengembuskan napas panjang sambil menepuk-nepuk dadaku. Hanya ingin meyakinkan diri sendiri jika aku adalah seorang pria dewasa yang berani, percaya diri, namun sedikit serampangan.

Aku duduk di seat nomor tujuh samping jendela. Raungan knalpot kendaraan bermotor mulai menarik perhatianku. Ketika aku memperhatikannya dengan seksama, dunia seolah berputar lebih cepat, dan membuatku terbelenggu sepanjang perjalanan.

Satu-satunya hal terbaik yang bisa menghiburku adalah sepasang novel semi-autobiografi favoritku.

Sejak awal, buku adalah sayapku. Aku bisa membaca, menulis, menganalisa, atau bahkan bisa menjadi karakter yang kuinginkan dalam hidup ini. Yeah, seperti bisa terbang ke mana pun sesuka hatiku, kemudian memilih dan memilah hal-hal yang bermanfaat untuk masa depan yang lebih baik.

Butuh waktu dua jam setengah untuk perjalanan dari Magelang ke Semarang menggunakan bus, dua jam lagi menuju Jepara dengan bus mini, lima belas menit dari kota Jepara menuju pelabuhan Kartini naik becak, empat jam setengah perjalanan laut menggunakan kapal feri menuju pelabuhan Karimunjawa, lalu lima belas menit perjalanan darat dengan motor menuju desa Alang-alang—desa pertama yang akan menjadi tempat camp pertamaku.

Cukup disayangkan, aku tiba di pelabuhan Kartini menjelang magrib, sehingga rencana berkemah di pulau Panjang tidak terealisasi karena sudah tidak ada kapal kecil yang hilir-mudik ke pulau Panjang dan pantai Kartini lagi. Jadi, dengan sangat terpaksa aku mencari penginapan murah di sekitar pelabuhan.

*****

Hari kedua: Perjalanan yang Seru dan Menyenangkan

Matahari terbit di pelabuhan Kartini membuat semangatku berlipat ganda.

Setelah menikmati secangkir kopi hingga tetes terakhir di lapak pedagang kaki lima, aku bergegas membeli tiket kapal.

Aku berkata dalam hati sambil memejamkan mata, petualangan hebat akan segera dimulai.

Kemudian, aku berjalan menuju kapal yang akan segera berangkat, bersama orang-orang yang ingin berlibur ke pulau Karimunjawa.

Tetapi, kemudian....

Sekilas aku melihat sesuatu yang mengusik pikiranku, hingga memaksanya mengingat-ingat kenangan lima tahun yang lalu.

Aku menatap pintu masuk kapal itu tanpa bernapas, fokus pada satu objek, Raline Shah, seperti itu lah hasil gambaran yang diolah otak kecilku. Tentu itu bukan nama sebenarnya, melainkan aktris idolaku. Boleh dibilang pujaan hatiku. Mestinya itu berarti sesuatu yang sangat berharga.

Tiba-tiba Raline Shah mulai melangkah menaiki tangga kapal.

Raline Shah adalah wanita dewasa muda yang baik, energik, dan disukai semua orang. Itu karena senyumnya yang bisa melelehkan hati cowok-cowok bermata “stereo”. Leleh, kemudian mencair, sampai-sampai membasahi celana dalam mereka, hahaha.

Ya, seperti itu lah kesan pertamaku bertemu Raline.

Namun, kami berdua adalah teman yang sangat serasi. Mungkin saling menyukai, tapi bukan berarti harus saling memiliki. Karena kehidupanku dan kehidupan Raline tidak seperti kisah Cinderella atau Snow White.

Terakhir kali aku berkomunikasi dengannya, dia memberitahuku bahwa dia akan segera melahirkan anak perempuan. Aku pun tersenyum dan menyemangatinya. Kemudian, setelah buah hatinya lahir, kami tidak pernah berkomunikasi lagi.

*****

Kapal Singinjai, 1 April, 2019

Suasana di dalam kapal cukup bersahabat. Di sini seperti tidak ada perbedaan kasta, banyak orang yang tidak saling mengenal satu sama lain namun saling berinteraksi. Aku pun bertemu keluarga kecil mas Andi yang ingin mengunjungi kerabatnya di Karimunjawa. Kami sempat bertukar nomor telepon agar kami bisa bertemu lagi di Karimunjawa atau rumah mas Andi di Jepara.

Kemudian, aku bertemu Dono di dek atas kapal, anak muda urakan tapi cukup sopan dan menyenangkan. Seperti tema obrolan cowok pada umumnya, obrolanku dan Dono pun gak jauh-jauh dari bola, hobi, dan wanita. Kebetulan, arah jam 10 dari tempat obrolan kami, ada empat wanita dewasa muda yang sedang nongkrong-nongkrong manja di area kantin, sambil memainkan gadgetnya masing-masing.

“Aku traktir sea food di resto termahal Karimun kalau kamu berhasil mendapatkan nomor telepon dari salah satu wanita-wanita itu,” tantangku pada Dono.

“Gak wani aku, Bro! Coba awakmu wani, ra!” Dono malah berbalik menantangku.

“Lihat dan perhatikan baik-baik seorang profesional beraksi,” kataku sambil membusungkan dada.

Bagiku, mengobrol dengan wanita yang tidak pernah kita kenal sebelumnya adalah hal yang cukup seru, menantang, dan menyenangkan. Dan setahuku, naluri wanita selalu ingin dihargai, dilindungi, dan dibayari juga barang belanjaannya.

Wahahaha....

“Hai, bisa ngobrol sebentar?” Aku menyapa wanita berkerudung yang duduk di ujung kursi kantin sambil menyibakkan rambut.

“Hah? Ya...." Dia tampak terkejut dan kebingungan. Ekspresinya seperti disamperin Lee Min Ho di siang bolong, hahaha.

Aku mengembuskan napas panjang, lalu duduk di sampingnya tanpa meminta izin lebih dulu. “Kalau boleh tahu, kamu ke Karimunjawa ikut paket tour atau trip sendiri?”

“Trip sendiri.”

“Aha, kebetulan banget. Bolehkah aku gabung tour lautnya?”

“Mas berapa orang?”

“Aku sendirian. Makanya aku bingung ni tour lautnya mau gimana?”

“Ohh, jadi gitu ya, mas. Gabung aja gapapa, kok.”

“Oke, kalau begitu, berapa nomor telponmu?”

Begitulah akhirnya.

Aku memenangkan tantangan Dono. Wanita berkerudung itu memberikan nomor teleponnya padaku. Kemudian, kami mengobrol cukup lama. Namanya Evi, wanita yang bersahabat, gak jaim, gak malu membuka topik obrolan lebih dulu jika aku kehabisan topik obrolan. Evi bertanya banyak hal tentangku, sedangkan aku cuma tanya tentang saldo rekeningnya. Aku merasa nyambung dengan Evi, tapi tidak mendapatkan chemistry yang baik dengannya.

“Jadi, siapa namamu?” Evi akhirnya penasaran denganku.

“Luca Scofish,” jawabku mantap. “Kamu bisa memanggilku Luca atau Fish.”

“Fish? Kok, gitu?”

“Ya, begitulah. Mungkin karena aku adalah mantan juara lomba renang marathon antar kelas, jadi teman-temanku dulu memanggilku seperti itu.” Aku tidak bermaksud sombong.

“Bawa kamera, mas?” Salah satu wanita berkerudung yang duduk di samping Evi tiba-tiba bertanya padaku.

“Ya, hanya kamera microless.” Aku menjawab dengan gugup, tapi pandanganku malah auto fokus pada wanita berambut pendek sebahu yang duduk di sebelahnya.

“....(>,<)....” Mata kami saling beradu pandang, tapi kemudian mataku yang kalah dan mengalihkan pandangan karena malu.

“Evi, sampai ketemu besok, ya! Makasih lho sebelumnya udah diizinkan gabung tour lautnya.” Cepat-cepat aku berpamitan pada Evi sebelum otakku berpikir hal-hal yang jorok pada wanita berambut pendek sebahu tadi.

Sebelum aku kembali ke Dono, aku bertemu dengan owner toko outdoor di Salatiga yang dulu pernah kukunjungi. Lalu, aku bergabung dengan rombongannya dan mengobrol banyak hal tentang pendakian gunung.

*****

Dono, nama yang unik, seperti nama legenda komedian tanah air. Dono bercerita padaku bahwa dia ingin ke Karimunjawa karena menginginkan pengalaman dan suasana baru dalam kehidupannya. Sebelum ini, Dono adalah seorang mantan supir truk kontainer. Dia sudah terbiasa dengan kehidupan keras di jalanan. Kemudian dia bosan hidup jauh dari keluarganya yang ada di Jepara. Dia sempat melamar kerja menjadi supir bus jurusan Semarang-Jepara PP, tapi ditolak karena masih sangat muda. Karena tidak mau jadi pengangguran, dia pun nekat pergi ke Karimunjawa untuk belajar menangkap ikan dengan pamannya.

"Jadi, apa kau akan mentraktirku sea food di resto termahal Karimun?" Aku duduk di atas pagar keamanan dek kapal, menunduk menatap Dono yang tiduran sambil menatap lautan.

"Hm," gumamnya. "Tapi, bukankah itu terlalu mudah? Kamu dan wanita itu mengobrol tantang apa? Atau jangan-jangan kamu memakai jimat?"

"Ya, jimat kepercayaan diri dan sedikit rayuan gombal." Aku berbohong. Sebenarnya, cara berkenalan atau mendekati wanita itu sangat mudah, namun harus diperhatikan baik-baik situasi, kondisi, timing, dan tujuan yang jelas, jadi topik pembicaraannya pun jelas dan terarah dengan baik. Ini modus yang bekelas bagi laki-laki, namun wanita tidak terlalu menyadarinya.

"Aku tidak percaya." Dono masih tiduran sambil menatap laut, sepertinya dia melihat putri duyung.

"Don!" Aku memainkan hidungku sambil menatap wanita berambut pendek sebahu tadi.

"Apa?" Dono menoleh ke arahku.

"Aku ini orang yang misterius."

"Masa?"

"Iya. Sangat misterius. Kadang, kemisteriusanku ini bisa membuatku takut, karena sewaktu-waktu bisa berubah-ubah."

"Hahaha.... jadwal kapal kali, bro, bisa berubah-ubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya." Dono tertawa keras.

"...." Aku tercegang. Sial! Dasar urakan!

Sesampainya di pelabuhan Karimunjawa, sebagai ganti sea food termahal di Karimunjawa, Dono mentraktirku es teh manis. Kami juga bertukar nomor telepon. Setelah itu, aku melanjutkan perjalanan ke desa Alang-alang, meninggalkan Dono yang menunggu jemputan pamannya.

Cerita bersambung….

*****

Credit: cerita ini sudah saya publish di situs resmi Wattpad. Jadi, tolong hargai karya tulis saya dengan tidak mencopasnya.

Follow instagram dan subscribe youtube: Beauty Camp Diary

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Memilih Sekolah Sepakbola

Kepengen jago main bola? Ikutan, dong, sekolah sepakbola atau yang lebih populer disingkat SSB. Kalo kita melihat gimana tim-tim sepak bola luar negeri bertanding, kayaknya para pemainnya pada jago-jago semua, ya? Nah, mereka itu jagonya tidak datang secara tiba-tiba, lho. Ada usaha ekstra keras dan latihan yang rutin di tim junior suatu klub profesional. Misalkan Barcelona, punya tim junior La Masia dan tim junior yang berusia di bawah 19 tahun dan 17 tahun. Sedangkan tim-tim elite dari Belanda kayak PSV Eindhoven dan Ajax Amsterdam, terkenal rajin mencari pemain-pemain berbakat untuk dididik di akademi sepak bola mereka. Hasilnya sangat-sangat memuaskan! Tengok aja, deh, hasil binaan tim Ajax. Mulai dari pemain legendaris Johan Cruijff, Marko Van Basten, Frank Rijkaard, Dennis Bergkamp, sampai Patrick Kluivert yang semuanya pernah jadi jagoan tim Ajax, bahkan sampai tim nasional Belanda. Kemampuan mereka semakin terasah berkat tempaan kompetisi yang ketat. Tim junior...

Pertemuan Pertama Di Karimunjawa

Balet adalah tarian yang membidik langit. Para penari balet sering melompat tinggi ketika menari, dan lompatan itu akan semakin tinggi. Para balerina berdiri menggunakan ujung kaki, menahan rasa sakit demi menggapai impian-impian mereka yang setinggi langit. Aku tidak tahu banyak tentang balet, namun aku tahu esensi balet terhadap impian yang setinggi langit itu. Dimulai dari hal kecil, sedang, hingga besar. Rintangan, hambatan, dan berbagai masalah yang tak ada habisnya. Namun, semua itu bisa saja dihancurkan dengan mudah oleh seorang balerina ketika menari-nari di atas panggung. Ia menari dan melabuhkan impiannya ke langit, tanpa ada sedikitpun rasa keraguan di dalam hatinya. Rasa-rasanya aku sedang menjadi seorang balerina yang sedang mengejar impian setinggi langit itu. Tak peduli impian itu sedang diincar oleh kamu, dia, mereka, dan mereka. Aku akan terus maju dan berjuang semampuku dengan caraku sendiri. Dan aku hanya akan menyerah jika 'impianku itu se...

Biografi Pele Legenda Sepak Bola Dunia Dari Brasil

Nama lengkapnya Edson Arantes do Nascimento. Namun, cukup panggil dia Pele, striker 1000 gol. Lahir tanggal 23 Oktober 1940 di Tres Coracoes. Karirnya bermula dari tukang semir. Kemudian, berakhir jadi selebriti dunia berkat keahliannya mengolah dan menceploskan si kulit bundar ke gawang lawan. Pele mewarisi keahlian ayahnya dalam bermain sepak bola, Joao Ramos do Nascimento, atau yang lebih akrab disapa Dondinho. Pada masa kejayaannya, Dondinho dijuluki "penguasa langit" karena selalu memenangkan duel-duel untuk bola atas. Ia pernah membela Fluminense sebagai penyerang tengah, namun cedera memaksanya harus gantung sepatu lebih dini dari lapangan hijau. Kemudian, karena tidak bisa bekerja dan menghidupi keluarganya lagi, Celeste, istrinya, mengambil alih peran sang suami untuk membesarkan Pele dan saudara-saudaranya. Ketika Pele masih kecil, keluarganya pindah ke Bauru, Sao Paulo, untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Di sana, ia belajar dan menekuni sepak bo...