Langsung ke konten utama

Solo Backpacker Keliling Flores Dari Labuhan Bajo Sampai Bajawa



Flores adalah salah satu surga terindah di NTB, Nusa Tenggara Barat, Indonesia bagian Tengah. Dari ujung barat sampai timur, pemandangan alamnya sangat indah. Beruntung sekali saya punya kesempatan melakukan petualangan solo backpacker keliling Flores dari Labuhan Bajo, Ruteng, Sampai Bajawa.


*****


a Story By Instagram: @beautycampdiary


Pengantar


Saat ini aku sedang duduk di samping tenda biruku, membaca novel mandarin, mendengarkan lagu campursari Tanjung Mas Tinggal Janji-nya Didi Kempot, menikmati susu jahe favoritku, sambil menunggu matahari terbenam di pesisir pantai Labuhan Bajo. Kadang aku membaca dalam hati, tak jarang pula aku membaca dengan suara keras agar aku bisa memahami jalan ceritanya, namun konsentrasiku membaca malah buyar dan mulai bersenandung menirukan irama lagu. Ketika sinar matahari mulai menghilang dan keadaan menjadi gelap, aku memukul-mukul cangkir susu jaheku dengan sendok. Ting ting ting tang, tang ting tang ting, tang tang tang ting. Menggambarkan perasaanku saat ini, begitu penuh imajinasi, sekaligus begitu ingin mengekspresikan sesuatu.


Perasaan ini sama seperti saat aku berenang dengan gaya dada di laut. Tak peduli seberapa jauh aku berenang dari perahu kecil yang menjadi titik aman napasku, selama terus menjaga irama pergerakan napas, tangan, kepala, dan kakiku, aku pasti akan baik-baik saja. Selalu bisa menikmati indahnya kehidupan di dalam laut.t


Tapi, terkadang ada sesuatu yang membuatku takut. Sebab, aku menyadari ada bahaya yang mengintai kebebasanku berenang di lautan. Bulu Babi, Ular Laut, ombak yang tidak stagnan adalah salah tiga ancaman dari sekian banyak ancaman yang mengancam keselamatanku.


Semua orang yang hobi berenang pasti tahu, gaya bebas adalah gaya berenang yang paling cepat, namun sangat menguras stamina. Setiap memalingkan kepala untuk bernapas dengan mulut, menghentakkan satu tangan untuk melangkah ke depan, lalu memutar tubuh untuk kembali ke posisi semula, dan menghentakan kaki untuk menambah kecepatan berenang akan memberikan rasa senang dan bangga. Sisi buruknya, gaya ini sangat sulit menentukan arah tujuan yang pasti. Lalu, gaya kupu-kupu adalah gaya yang paling sulit dilakukan, apalagi di laut yang ombaknya tidak beraturan. Namun, gaya ini sangat menolong jika aku ada dalam posisi kedinginan. Ada lagi gaya punggung yang memberikan kesan santai dan cenderung dilakukan sambil menikmati waktu yang ada, tapi harus tetap berhati-hati. Sedangkan gaya dada adalah gaya yang fleksibel dan menyenangkan. Sederhana dan mudah dipelajari, namun jangan tertipu dengan semua itu. Gaya ini sangat beragam dan selalu bisa berkembang dalam kondisi apa pun. Terakhir, gaya batu sangat tidak direkomendasikan karena sangat berbahaya. Namun, gaya ini kadang dilakukan hanya untuk lucu-lucuan saja.


Maka, setelah membandingkan keunggulan dan kelemahan gaya berenang yang cocok untuk berenang di laut, aku masih bingung menentukan gaya terbaik yang cocok diterapkan.


Demikian juga dengan tujuan petualangan ini. Aku bingung menentukan arahnya.


Labuhan Bajo, Ruteng, Bajawa, Ende, Maumere, Larantuka, Lombok, dan terakhir kembali mendaki gunung Rinjani. Bisakah aku melakukannya?


Kemudian, tiba-tiba saja iPad-ku berdering, ada tujuh chat dari teman baikku, Clarista.


Aku memejamkan mata karena menyadari ada bidadari yang memelukku dari belakang. Bulu-bulu sayapnya patah sehingga beterbangan ke sana ke mari; berkilauan, membumbung tinggi ke angkasa, menyaingi kerlap-kerlip bintang. Ketika aku membuka mata untuk melihat keindahan itu, semuanya menghilang.


Maka, setelah benar-benar memahami keinginanku, aku baru bisa mengerti bahwa seperti apa bentuk dari keinginan yang kuinginkan. Sayangnya, keinginan yang kuinginkan itu selalu berubah-ubah. Rasa-rasanya aku hanya ingin berjalan dan berjalan saja, lalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain seperti arah angin yang tidak pasti.


Kemudian, Clarista menelepon.


Dan cerita pun bersambung.....>>




Copyright @lucascofish on Instagram

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuan Pertama Di Karimunjawa

Balet adalah tarian yang membidik langit. Para penari balet sering melompat tinggi ketika menari, dan lompatan itu akan semakin tinggi. Para balerina berdiri menggunakan ujung kaki, menahan rasa sakit demi menggapai impian-impian mereka yang setinggi langit. Aku tidak tahu banyak tentang balet, namun aku tahu esensi balet terhadap impian yang setinggi langit itu. Dimulai dari hal kecil, sedang, hingga besar. Rintangan, hambatan, dan berbagai masalah yang tak ada habisnya. Namun, semua itu bisa saja dihancurkan dengan mudah oleh seorang balerina ketika menari-nari di atas panggung. Ia menari dan melabuhkan impiannya ke langit, tanpa ada sedikitpun rasa keraguan di dalam hatinya. Rasa-rasanya aku sedang menjadi seorang balerina yang sedang mengejar impian setinggi langit itu. Tak peduli impian itu sedang diincar oleh kamu, dia, mereka, dan mereka. Aku akan terus maju dan berjuang semampuku dengan caraku sendiri. Dan aku hanya akan menyerah jika 'impianku itu se...

Review Singkat Novel Girls In The Dark

Selamat malam, bolehkah saya membuka tema diskusi tentang selera pasar pembaca cewek Indonesia yang berusia pelajar hingga mahasiswi? Saya tertarik menyurvei selera pembaca novel rentan usia tersebut, khususnya pembaca cewek, karena saya rasa cewek-cewek Indo yang hobi membaca jauh lebih banyak daripada cowok-cowok. Perbandingannya mungkin sangat mengerikan. Jadi, menentukan tema tulisan untuk masa kini mungkin akan sangat berpengaruh dengan tema novel yang disukai penerbit dan pembaca cewek itu. Hal ini perlu saya lakukan karena saya rasa sekarang ini menembus penerbit major sangat sulit sekali. Sangat ketat dan sepertinya hanya bisa dilakukan penulis dengan nama besar saja. Penerbit major hanya memilih naskah yang berpotensi meledak di pasaran. Nah, kalau saya perhatikan selera cewek Indo di Wattpad, kebanyakan dari mereka pasti menyukai romance. Tapi, cewek usia pelajar menyukai romance yang bersetting masa SMA atau kuliah. Kalo cewek dewasa atau emak-emak udah beda lagi, ...

Membangkitkan Semangat Menulis Yang Mulai Memudar

Seorang penulis hebat berawal dari seorang pembaca yang hebat. Frasa itu merupakan landasan kuat mengapa aku memilih dunia tulis-menulis sebagai salah satu hobiku, selain sepeda, backpacker, hiking, renang, lari, sepakbola, badminton, dan menghafal nama-nama pornstar dari benua Eropa hingga Amerika. Orang yang hobi membaca punya pemikiran-pemikiran yang berbeda dengan kalian. Pemikiran-pemikiran kami kuat dan brilian; kaum intelek (meskipun sebagian dari kami bukan sarjana). Bukan pemikiran-pemikiran bodoh dan rendahan macam bergosip, mengurusi hidup orang lain, hingga pamer harta dan pencapaian-pencapain yang tidak bermanfaat bagi orang lain. Kemudian, sudah berapa banyak uang yang kuhabiskan untuk membeli buku-buku itu? Itu hanya koleksi buku-buku-ku di lantai bawah, belum di loteng rumah, kamar tidurku. Sebenarnya, bakat menulisku sudah mulai terlihat di tahun 2013, namun aku baru mulai menulis di tahun 2015, dan berhasil menyelesaikan dua naskah novel yang sangat berarti...