Jika anda ingin mengunjungi Lombok, salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi adalah gunung Rinjani. Gunung Rinjani berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian mencapai 3.726 Mdpl, mendominasi sebagian besar pemandangan pulau Lombok bagian utara. Nama Rinjani erat kaitannya dengan Legenda Dewi Anjani yang dipercaya masyarakat setempat. Cantiknya nama Rinjani sangat sesuai dengan kecantikan alam Taman Nasional Gunung Rinjani, sehingga tak heran jika Gunung Rinjani selalu menjadi magnet bagi wisatawan dalam negeri hingga wisatawan luar negeri.
Pendakian gunung Rinjani dapat dilakukan melalui lima jalur pendakian.
Sembalun, Lombok Timur
Senaru, Lombok Utara
Timbanuh, Lombok Timur
Aik Berik, Lombok Tengah
Torean, Lombok Utara
Namun, jalur Sembalun dan Senaru adalah yang paling populer dan resmi.
Saya tinggal di dekat candi Borobudur, Magelang. Sudah lama saya punya impian mendaki gunung Rinjani di masa muda saya. Begitu kesempatan itu datang, saya sangat bersyukur dan selalu mencoba mengabadikan setiap momen perjalanan saya ke dalam sebuah karya tulis.
Berikut ini adalah cerita dan pengalaman saya mendaki gunung Rinjani dari Magelang, Jawa Tengah. Jika anda mendarat di Yogyakarta, Surabaya, Bali, atau Lombok, anda bisa menyesuaikan rute menuju gunung Rinjani.
Musim kemarau tahun 2017, kecamatan Secang, kabupaten Magelang, provinsi Jawa Tengah.
1. Day 1
Saya memulai perjalanan ini dari terminal bus Magelang. Saya memilih bus yang langsung menuju Denpasar. Bus jurusan Jawa-Bali biasanya melewati jalur tengah trans Jawa. Yogyakarta-Solo-Surabaya-Pasuruan-Situbondo-Banyuwangi-Bali.
Sebagai alternatif, anda bisa menggunakan kereta api kelas ekonomi (Sri Tanjung) dari stasiun Lempuyangan di Yogyakarta dengan tujuan stasiun Banyuwangi Baru, tidak jauh dari pelabuhan Ketapang, pintu gerbang menuju Bali. Namun, jadwal kereta itu hanya ada satu setiap hari dan berangkat pagi-pagi sekali.
Ada juga penerbangan langsung dari Yogyakarta menuju Lombok. Namun, bagi backpacker berkantong tipis sepertiku, itu bukan pilihan yang baik.
Tiket bus Magelang-terminal Ubung, Denpasar: 250.000 rupiah
Tiket kereta api Jogja-Banyuwangi: 115.000 rupiah
Tiket pesawat Jogja-Lombok: harga termurah mulai 750.000 rupiah
2. Day 2
Berhati-hati lah jika anda berada di terminal Ubung, Denpasar. Sebab, di sini banyak calo yang cukup meresahkan wisatawan lokal maupun mancanegara.
Denpasar-pelabuhan Padang Bai: 30.000 rupiah
Penyeberangan menunju pelabuhan Lembar: 40.000 rupiah
3. Day 3
Akhirnya saya tiba di Lombok dini hari sekali. Saya beristirahat di masjid sambil menunggu datangnya pagi. Kemudian, saya mencari transportasi menuju terminal Mandalika, kota Mataram. Transportasi umum dari pelabuhan Lembar menuju terminal Mandalika sangat jarang. Kebanyakan adalah travel dan ojek. Jika anda ingin merasakan sensasi berbeda, anda bisa menumpang mobil pick-up atau truk menuju Mataram, bahkan bisa sampai pasar Aikmal. Pasar Aikmal adalah chekpoint pertama menuju desa Sembalun.
Sama seperti terminal Ubung di Denpasar, terminal Mandalika juga banyak calo dan preman. Di sini rawan tindak kriminal. Saran saya, lebih baik menunggu bus jurusan pasar Aikmal di halte bus yang ada di luar terminal.
Dalam perjalanan menuju kota Mataram, saya menelepon Doddy, teman saya yang tinggal di Ampenan, tidak jauh dari masjid Islamic NTB Centre yang ada di kota Mataram. Doddy akan marah padaku jika aku tidak singgah di rumahnya.
“Halo, apa kabar, Erick?” Doddy menyapaku sambil memarkir motornya di pinggir jalan.
“Baik, Bro!” Aku menjabat tangannya, lalu memeluknya erat. Rasa rindu pada sahabat yang sudah lama tidak berjumpa.
“Ayo! Kita ke rumahku dulu.”
“Siap!”
Rumah Doddy dekat bandara lama di Ampenan. Di halaman depan rumahnya, ada gazebo untuk bersantai bagi teman-teman dan tamu-tamu yang datang untuk memesan sablon atau menyewa peralatan pendakian Friday Attack. Setelah minum kopi dan ngobrol-ngobrol ringan seputar kehidupan masing-masing, Doddy mengantar saya ke halte dekat terminal Mandalika. Beruntung, saya langsung mendapatkan bus jurusan pelabuhan Kayangan, pintu gerbang menuju pulau Sumbawa.
Ketika sampai di pasar Aikmal, saya berbelanja logistik untuk pendakian. Kurma, buah apel, susu, dan sereal adalah daftar menu favorit bagi standar pendakian saya. Kemudian, saya mencari mobil pick-up yang siap berangkat menuju desa Sembalun. Biasanya, sopir-sopir di sana sudah paham dengan para pendaki gunung Rinjani. Mereka akan menyapa kita dengan ramah dan menawarkan jasanya. Namun, kita bisa tawar-menawar ongkos jasa itu.
Singkat cerita, saya sampai di desa Sembalun sore hari. Udara di sini cukup dingin. Masyarakat desa sangat baik dan ramah. Di sini banyak masjid yang bagus dan cukup megah. Tidak jauh dari kantor Taman Nasional Gunung Rinjani, ada supermarket, pasar sederhana, ada juga jasa open trip dan tempat penyewaan peralatan pendakian gunung.
Kemudian, datanglah dua pendaki gunung dari Probolinggo, Jawa Timur. Aku menyapa mereka dan memperkenalkan diriku. Mereka berdua menempuh jarak 700 an km menggunakan sepeda motor. Pernah menginap di hotel merah-putih a.k.a stasiun pengisian bahan bakar umum. Kami pun menjadi satu tim dan keluarga baru: Erick, Rangga, dan Dodit.
Travel ke Mataram: 20.000 rupiah (cukup murah karena banyak penumpang).
Terminal Mandalika-Aikmal: 25.000 rupiah
Mobil sayur ke Sembalun: 30.000 rupiah
Biaya registrasi 4D3N: 30.000 rupiah (untuk pendaki asing, biayanya lebih mahal)
Harga makanan di sekitar basecamp Rinjani mulai dari 10.000 rupiah sampai 30.000 rupiah. Ada cafe dan restoran yang khusus pendaki asing.
Harga Homestay dan hotel mulai 100.000 rupiah
4. Day 4
Tim kami memulai pendakian pukul 06.15 AM. Butuh waktu sekitar 60 menit perjalanan kaki dari basecamp menuju gerbang utama pendakian gunung Rinjani. Ini adalah gerbang yang umum dilewati pendaki lokal. Sedangkan gerbang utama pendaki asing berada di barat.
Hal yang paling mengesankan menuju pos 1 adalah sekumpulan sapi yang berkeliaran di sekitar jalur pendakian. Beruntung, ada pengembala sapi berjaga sambil membawa senjata api, jadi tim kami tidak perlu takut.
Idealnya, waktu yang dibuduhkan dari gerbang pendakian samapai pos 1 gunung Rinjani adalah 60 menit. Medannya biasa saja, namun panjang, bahkah motor pun masih bisa melaluinya.
Di Pos 2, ada sumber air yang mengalir. Ini adalah rest area yang cocok untuk makan siang atau mendirikan kemah.
Aku bertemu Miss Polandia di bukit Penyesalan. Miss Polland tidak bisa berbahasa Indonesia, tapi bahasa Inggrisnya sama sepertiku, tidak terlalu baik. Kami hanya mengobrol tentang diri kami dan kebanyakan topik obrolan berasal darinya.
Selanjutnya, ada Miss Malaysia yang kelelahan mendaki bukit Penyesalan. Saya memperkenalkan diriku padanya, menyemangatinya, dan kami pun bertukar ID Instagram, hahaha!
Sesampainya di Pelawangan, tim kami sepakat membagi tugas. Rangga medirikan tenda, Dodit mencari air, sedangkan saya mencari kayu untuk api unggun.
Kemudian, saya mulai membuat wajah saya menjadi penuh abu, tetapi api yang saya hasilkan sangat kecil dan lemah. Tiba-tiba, Rangga menuangkan beberapa tetes spirtus ke tumpukan kayu. Saat itu barulah api benar-benar berhasil menyala. Kami pun langsung mengelilingi api unggun sambil memasak sereal dan air hangat.
Menyalakan api menghabiskan banyak waktu dan usaha, tapi mengenyangkan perut hanya butuh waktu sekejap saja.
Waktu normal yang dibutuhkan mendaki dari Sembalu–Plawangan adalah 8 jam.
5. Day 5
Summit dimulai pukul 01.28 AM. Kami berjalan menyusuri jalan setepak menuju gunungan yang mengarah ke puncak. Seiring dengan semakin hilangnya pohon-pohon di kedua sisi jalan, pasir semakin banyak dan angin terasa semakin kencang. Setiap langkah membutuhkan pijakan yang kuat dan setiap kata yang diucapakan membutuhkan tenaga dalam yang kuat.
Semakin dekat dengan jalur leter E, oksigen mulai berkurang, dan saya baru mulai merasa dingin. Kami beristirahat sebentar di bawah batu karang, sambil menikmati roti strobery dan susu jahe. Lalu, kami melanjutkan perjalanan lagi menuju gerbang utama jalur leter E.
Setelah melewati pertengahan jalur leter E, mulai terlihat jelas puncak Dewi Anjani. Pemandangan sebelum puncak pun sudah sangat indah. Tak terasa, kami sudah mendaki begitu jauh dari tempat camp. Rangga naik duluan ke atas batu karang, lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku. Kemudian, aku juga mengulurkan tangan untuk membantu Dodit. Akhirnya, kami sampai puncak pukul 05.37 AM. Puncak Dewi Anjani waktu itu cukup ramai. Ada sekitar 70 orang yang berdesakan mengabadikan momen indah ini.
Rangga dan Dodit turun duluan, sedangkan saya turun sendirian dengan santai, menikmati indahnya alam gunung Rinjani dan para tamunya cewek-cewek Eropa.
Perjalanan turun bertemu Miss France. Orangnya cantik, cute, rambutnya blonde, bodynya macam Jessica Milla Agnesia, pokoknya tipe saya banget, sampai-sampai bikin si otongku tegang mulu. Namun, sama seperti Miss Polland, Miss France tidak bisa berbahasa Indonesia, dan kemampuan bahasa Inggrisnya juga biasa saja.
Perjalanan turun bersama Miss France terasa indah sekali. Dia tertinggal cukup jauh dari temannya, sementara aku berstatus siaga membelakanginya. Jadi, sewaktu Miss France terpeleset, aku membantunya berdiri. Ketika ia kelelahan, aku menemaninya beristirahat. Ketika ia ketakutan, aku mengulurkan tanganku dan menyuruhnya memegang erat-erat. Ketika ia kehausan, aku memberikan bekal minumanku. Namun, ketika ia kebelet buang air kecil, aku disuruh menjauh. Huh, apa salahku? Aku merasa dimanfaatkan, ibarat kata habis manis sepah dibuang. Huh!
Dalam hidup ini, ada berapa kali saat jantung berdegup dengan kencang, dan kata-kata tidak sanggup terucap? Aku sudah lama tidak berpacaran, tapi aku tahu seseorang yang percaya pada cinta, seharusnya menghargai momen setiap kali jantungnya berdebar. Kemudian, aku hanya berani memandanginya dari belakang dan terus mengikuti langkahnya.
Sebelum berpisah, kami menyempatkan berfoto bersama untuk kenangan. Aku juga meminta akun Instagramnya. Dia melangkah pergi menuju tempat campnya. Kemudian, turun lewat jalur Sembalun lagi.
Arah angin mulai tak beraturan. Bunyi jepretan kamera hanya juga hanya sebentar, lalu selesai. Tapi senyum saya terus bertahan di wajah saya sepanjang hari.
Di camp area, Rangga dan Dodit tidur di tenda, saya juga ikut beristirahat sebentar. Namun, sesaat kemudian, tragedi menimpa tim kami. Beberapa makanan dan peralatan mandi kami dicuri oleh sekawanan monyet. Beruntung, tim kami dapat mengambilnya kembali, meskipun harus turun ke jurang yang tidak terlalu membahayakan.
Setelah beristirahat, kami turun ke danau Segara Anak. Medannnya sangat mengerikan. Dipenuhi bebatuan terjal dan curam. Ini seperti turun dari tebing, harus berhati-hati dan fokus. Jika boleh memilih, akan lebih baik jika menaiki bebatuan ini.
Di perjalanan turun, kami bertemu seorang guide dan porter dari Sembalun yang sedang membawa papan bertuliskan "Dilarang Berenang Di Air Terjun". Namanya adalah Fandri dan Amak.
Sampai di danau, kami mendirikan tenda, lalu membantu Fandri dan Amak memasang plang di air terjun. Ketika sore tiba, kami mandi di air hangat dekat danau Segara Anak.
Sewaktu makan malam, aku dan Rangga mulai muncul perbedaan pendapat. Aku merasa tidak dibutuhkan lagi, seperti benalu, dan Dodit pun mulai jarang berbicara padaku lagi.
Malam itu, aku hanya ingin kembali ke basecamp secepatnya.
Plawangan–Puncak Dewi Anjani: 3 jam
Plawangan–Segara Anak: 2.5 jam
6. Day 6
Pagi-pagi sekali aku melihat Amak memancing di danau. Amak sangat pintar, hanya bermodalkan sebatang kayu sepanjang dua meter dan peralatan pancing sederhana, dia mampu menangkap banyak ikan. Sungguh suatu keahlian yang sangat berharga di dunia outdoor. Ikan hasil tangkapannya pun menjadi menu sarapan pagi kami.
Setelah selesai makan pagi, aku memutuskan turun lewat Sembalun bersama Fandri dan Amak, sedangkan Rangga dan Dodit masih ingin menikmati suasana danau sampai siang hari. Namun, pada akhirnya aku naik ke Pelawangan Sembalun sendirian, karena langkah Fandri dan Amak sangat cepat, seperti bus patas saja. Aku tak mampu mengimbangi mereka.
Sampai di Pelawangan Sembalun, aku bertemu lagi dengan Fandri dan Amak yang sedang mengobrol bersama dua pendaki gunung dari Jepara, Jawa Tengah. Nama mereka adalah Arif dan Sondong. Sayangnya, mereka tidak turun ke danau karena masalah waktu dan lebih mengutamakan puncak Rinjani. Kami pun menjadi satu tim turun Sembalun.
Di pos 1, semuanya berkumpul kembali, termasuk Rangga dan Dodit. Kami membeli es kelapa muda dari pedagang di pos 1 dan meminumnya sambil bercerita tentang keseruan mendaki gunung Rinjani. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju gerbang pendakian gunung Rinjani.
Fandri menawarkan pada kami untuk bermalam di rumahnya. Kami pun menyetujuinya dan sangat bersyukur sekali.
Di rumah Fandri, istrinya memasak makanan khas Lombok, dan kami menyantapnya dengan lahap. Masakan khas Lombok yang dimasak oleh orang asli Lombok sangat enak dan nikmat. Dalam sekejap saja, makanan sudah habis. Karena enak atau kelaparan? Semuanya tertawa, termasuk aku, Rangga, dan Dodit yang sudah tidak saling bicara sejak perselisihan di danau.
Saya menghabiskan teh hangat saya dan merasa mulai mengantuk.
Hubungan antar manusia kadang kala mengalami pasang surut. Tapi, hubungan antara orang yang baru kenal sangat sulit ditebak. Pada akhirnya, hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.
Segara Anak–Plawangan: 3 jam
7. Day 7
Keesokan harinya, Fandri mengajak kami bermain ke rumah adat di desa Beleq, desa yang dipercaya warga Sembalun sebagai desa nenek moyang mereka.
“Terima kasih. Saya mendaki gunung Rinjani dengan sangat gembira. Suatu hari jika ada kesempatan, saya ingin mengulanginya lagi.” Aku berkata dengan jujur saat semuanya berpamitan dengan Fandri dan keluarganya. Petualangan ini adalah salah satu petualangan terbaik dalam hidupku.
Saya pulang bersama Arif dan Sondong naik mobil sayur ke Aikmal. Perjalanan pulang naik mobil sayur waktu sangat heboh. Kami sibuk berfoto selfi dan bernyanyi sehingga mengundang perhatian orang di sekitar jalan.
Sampai di Aikmal, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Mataram. Namun, kami turun sebelum terminal Mandalika. Kemudian melanjutkan perjalanan kaki menuju homestay Arif dan Sondong. Homestay ini sebenarnya aman, tapi saya takut sekali dengan banci yang juga menginap di sini.
Namun, saya memutuskan untuk menginap di homestay Arif dan Sondong sambil menunggu jadwal kapal menuju Surabaya besok lusa.
Mobil sayur ke Aikmal: 30.000
Mobil sayur ke Mandalika: 25.000
8. Day 8
Doddy menjemput saya di kota Cakranegara, lalu dia mengantar saya membeli oleh-oleh selimut khas Lombok di pasar.
Sampai di rumah Doddy, saya mendapat kejutan dari Doddy berupa kaos bertema gunung Rinjani dan terdapat karakter seorang lelaki yang membawa bendera merah-putih Indonesia.
Sore hari, saya berjalan-jalan di Masjid besar Islamic Center NTB dan kota Mataram sendirian.
Ketika malam tiba, Doddy mengajak saya berkeliling Senggigi dengan sepeda motornya. Dia juga mengantar saya membeli asesoris berupa gelang petualang di toko milik temannya.
Menginap di rumah Doddy.
9. Day 9
Sebelum mengantar saya menuju pelabuhan, Doddy mengajak saya berkeliling kota Ampenan. Kota lama dan kota baru di sini sangat ramai. Banyak barang-barang antik yang di jual di kota lama. Sedangkan di kota baru adalah pusat perbelanjaan.
Kemudian, sampai di pelabuhan Lembar pukul 10.25 AM. Antrian di loket kapal Legundi yang akan berlayar menuju Surabaya sudah sangat panjang. Aku menunggu hingga barisan terakhir sambil bercengkerama dengan penjual makanan di sekitar pelabuhan.
Perjalanan pulang bersama kapal Legundi terasa sangat menyenangkan. Ini adalah kapal terbaik yang pernah saya naiki; bagus, bersih, fasilitasnya juga oke. Lama perjalanan sekitar 19-20 jam. Meski begitu, saya sangat senang dan menikmati pelayaran ini.
Tiket penyeberangan pelabuhan Lembar-pelabuhan Perak: 85.000 rupiah (Gratis makan dua kali, menu golongan I).
10. Day 10
Kapal bersandar di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, sekitar pukul 09.20 AM. Saya langsung mencari bus Damri menuju terminal Purabaya.
Harus ekstra hati-hati di terminal Purabaya, sebab di sini sangat rawan tindak kriminal. Saya pernah punya pengalaman buruk di sini, menjadi korban penipuan tiket bus palsu. Saran saya, langsung datangi outlet resmi bus. Pastikan seragam pegawai, tiket, dan bus sesuai dengan nama bus.
Sesampainya di terminal Purabaya, saya langsung mencari bus Eka jurusan Magelang. Itu adalah bus terbaik terpopuler trayek Jawa Timur-Jawa Tengah.
Cerita perjalananku mendaki gunung Rinjani sudah selesai.
Pertemuan dengan Doddy, Rangga, Dodit, Miss Polland, Miss France, Amak, Fandri, Lina, dan Tari juga sudah selesai.
Petualangan indah yang membuatku begitu bangga.
Tiket Bus Damri: 6.000 rupiah
Tiket Bus Eka: 125.000 rupiah
Jika anda mempunyai pertanyaan tentang gunung Rinjani, silakan bertanya melalui komentar, email, atau instagram saya. Dengan senang hati saya akan menjawab pertanyaan anda.
Sebagai umpan balik, mohon dukungannya untuk blog saya ini.
Terima kasih dan sampai jumpa di cerita petualangan saya selanjutnya.

Komentar
Posting Komentar