Masa muda adalah anugerah terbaik yang Tuhan berikan pada manusia, rasanya begitu indah, melakukan hal-hal bodoh sekalipun akan tetap dikenang sebagai pahlawan.
Bab ll: Adventure Karimunjawa Camp
Pelabuhan Karimunjawa, langit cerah, biru berawan.
Ada banyak pertanyaan yang tertuju pada seorang yang berjalan sendirian di tanah orang.
Kenapa sendirian? Temannya mana? Kok berani sekali, ya?
Rasa-rasanya semua pertanyaan itu sudah biasa kujawab. Kadang aku menjawab sekenanya, kadang serius, tak jarang pula aku hanya diam dan berusaha tersenyum manis.
Entah kenapa, aku menemukan kebahagiaan yang hakiki ketika aku berada jauh dari zona nyamanku. Berjalan sendirian seolah tanpa beban, berinteraksi dengan banyak karakter baru, hingga menemukan sahabat atau bahkan cinta baru yang tak pernah disangka-sangka.
Dalam hidup ini, ada tiga hal yang ingin kulakukan sebelum mati. Pertama, hitchiking di tanah Flores, lalu mendaki gunung es di Rusia, dan terakhir mengajak wanita yang aku cintai berkemah di pulau Karimunjawa, atau mendaki gunung Rinjani berdua sambil bergandengan tangan. Ceilah....
Bicara soal hitchiking, aku sudah mempelajarinya cukup lama, tapi aku belum pernah melakukannya sendirian. Oleh karena itu, begitu aku menginjakkan kaki di depan gapura "Selamat Datang di Karimunjawa", aku ingin mencoba berjalan kaki sambil mencari tumpangan sampai desa Alang-alang.
Kemudian, aku melihat Evi, wanita berkerudung yang duduk di samping Evi waktu di dek atas kapal, si cantik berambut pendek sebahu, dan si dia yang belum bisa kusebutkan namanya berjalan di depanku. Sepertinya penginapan mereka tidak jauh-jauh dari alun-alun Karimunjawa. Jadi, hal itu akan memudahkanku untuk mengapeli mereka semua besok pagi.
Breng.... breng....
"Mau ke mana, mas?" Seorang pemuda bersekuter tiba-tiba bertanya padaku dengan serius.
"Desa Alang-Alang." Aku menjawab dengan santun.
"Desa Alang-Alang jarang dikunjungi, mau ngapain di sana?" Nada bicara pemuda itu terasa nyelekit di hatiku. "Mending mas chek-in di penginapan saya aja, dekat alun-alun, ada paket tour laut, sewa motor, sea food, pokoknya hampir komplit mas," tambahnya dengan penuh semangat.
Aku tertawa bodoh. "Jalan-jalan aja, mas! Monggo!"
"Jauh lho mas, sekitar 7-8 km, harus naik ojek." Pemuda yang pantang menyerah.
"Gapapa mas, itung-itung jalan sehat, sudah biasa kok!" Aku bersikeras.
"Yaudah, yuk, bareng saya aja. Saya mau ke arah alun-alun. Dari alun-alun, mas nanti tinggal lurus sampai desa Alang-Alang."
"Hm.... terima kasih!"
Jadi, beginilah pengalaman hitchiking amatiranku di tanah Karimunjawa. Yeah....
Setelah pemuda itu mengantarku sampai alun-alun, aku mulai berjalan dengan santai.
Jalanan di Karimunjawa sangat sepi. Jalannya lumayan mulus, tapi kualitas aspalnya bukan yang terbaik. Banyak pepohonan di sebelah kiri dan kananku. Cuaca saat itu sangat sempurna. Meskipun aku menyukai matahari dan panasnya yang menyengat, tapi aku tidak mau melawannya karena takut dehidrasi. Jadi, aku memakai topi koboi dan menggunakan payung miniku. Lalu, mas Andi sekeluarga menyalipku dengan sepeda motor sewaannya. Sesaat setelah itu, giliran bos outdoor Salatiga dan rombongannya yang menyapaku sambil cengengesan. Kuharap Evi dkk tidak ikut-ikutan lewat sini. Aku akan sangat malu tujuh turunan tujuh tikungan, hahaha.
Di tengah-tengah perjalanan, aku sempat berhenti di aliran sungai kecil yang airnya seperti kristal dibelah dua. Lah? Setelah membasuh muka di surga kecil itu, aku melanjutkan perjalanan lagi. Namun, begitu melihat resort sepi yang menyuguhkan pemandangan pantai utara Karimunjawa, aku berhenti lagi. Tanpa pikir panjang aku langsung tiduran di atas rumput halaman resort tak berpagar itu sambil menatap langit. Leyeh-leyeh di sini sambil mendengarkan musik campursari karya om Didi Kempot menggunakan speaker mini Eggel Terra rasanya begitu hidup.
"Sehari sebelum pulang, aku ingin berkemah di sini." Aku berbicara pada awan yang menyerupai putri duyung.
"Harus, dong!" balasnya, sambil mengedipkan mata.
"Kamu temani aku, yah!" Aku juga ikut-ikutan mengedipkan mata.
"Siap, tampan." Dia tersenyum, tapi kemudian menghilang disapu angin.
Huh, dasar tukang PHP!
Aku mengeluarkan ponselku dan melihat google map. Jarak dari resort ini sampai desa Alang-Alang sekitar 4,4 km lagi. Hm, sekitar 45 menit lagi dengan berjalan kaki.
Aku sering berpikir, mampukah aku melakukan hitchiking di Flores? Secara fisik, mungkin aku kuat. Budget dan peralatan pendukung untuk bertahan hidup juga cukup baik. Kemudian, kepercayaan diriku sedang berada di level maksimal. Namun, aku masih sering berprasangka buruk pada diri sendiri. Takut jika mengalami dehidrasi di tengah jalan, takut jadi korban tindak kriminal, takut bermalam di hutan sendirian, juga takut diserang binatang buas. Semua ketakutan itu sering menggoyahkan mental dan semangatku yang menggebu-gebu. Rasanya lebih baik di rumah saja.
Tetapi, aku bukan tipe cowok seperti itu. Aku menyukai tantangan. Meskipun aku bukan pemenang sejati, namun aku begitu ulet dan penuh perhitungan. Jadi, inilah saat terbaik bagiku untuk menguji mental dan psikisku dalam berpikir maupun bertindak. Karena aku masih muda dan berada di puncak performa.
Well, fokus Karimunjawa dulu.
Langkah demi langkah, lagu demi lagu yang kuputar lewat ponsel yang tersingkron speaker mini Eggel Terra pun berlalu, hingga akhirnya aku sampai juga di rumah singgah Pantura milik pak Kul. Dinamakan rumah singgah karena tarif homestay di sini cukup murah. Begitu juga dengan makananya, murah standar warteg, dan rasanya lumayan, lah.
Ketika aku tiba di halaman belakang rumah singgah Pantura, aku langsung merebahkan diri di gazebo. Gazebo yang sama seperti lima tahun yang lalu. Lima tahun yang penuh kenangan. Lima tahun yang mampu mengubah kepribadianku dari seorang yang tertutup menjadi raja narsis. Lima tahun yang.... membuatku merasa malu.
Ada banyak hal yang berubah dari rumah singgah milik pak Kul ini sejak lima tahun yang lalu. Bangunan rumah singgah yang berwarna hijau sudah bertingkat. Konsepnya seperti bangunan kost modern di kota-kota. Di depannya ada juga bangunan serupa berwarna merah muda. Kemudian, ada satu bangunan sederhana yang menghadap langsung ke pantai. Di sebelahnya, ada taman bermain dan tempat bersantai yang belum jadi. Lalu, pak Kul sepertinya sedang membuat kedai sederhana di samping pohon besar yang menjorok ke pantai. Sebelah timur laut, ada jembatan yang membentang sepanjang 20 meter. Dan di samping kanan ujungnya ada gazebo yang sedang digunakan empat anak muda untuk bercengkerama sambil menikmati es kelapa muda.
Dan akhirnya, pak Kul menyadari keberadaanku.
"Sugeng sonten, pak Kul. Pripun kabare panjenengan?" sapaku duluan, sambil menjabat tangan beliau. Sok kenal sok dekat banget!
"Alhamdulillah sehat wae, mas." Pak Kul terheran-heran. "Lha sampean sinten? Nopo sakderenge sampun tahu mriki?"
"Njeh, pak. Tapi mpun dangu sanget. Sakmeniko tahun 2014."
"Oalah wes sue banget. Lha karo sopo mbiyen?"
"Rombongane mbak Meme." Aku mengaku malu-malu. Akun FB-nya ada di grup ini. Muncul lah ke permukaan, mbak! Tunjukkan pesonamu, haha!
"Eling aku saiki, mas. Sakjane Meme ki jeneng asline sopo, to? Ndak Fatmawati?"
"Mboten ngertos, pak. Hahaha."
"Yowes. Monggo mas pinarak nang omah. Opo gabung karo ponakanku kae sing lagi santai karo konco-konco perawat seko Semarang."
"Njeh, pak."
Setelah merapikan daypack-ku, aku langsung bergabung dengan keponakan pak Kul yang bernama Syahrul. Ternyata Syahrul dan ketiga teman cowoknya ini juga baru sampai di Karimunjawa naik kapal cepat. Mereka kemudian langsung mengajakku mendayung sampan kecil berkapasitas enam orang sambil snorkling menuju pantai Batu Topeng. Aku pun langsung menyetujuinya.
Hampir tiga tahun lamanya aku tidak berenang di pantai. Tapi aku masih ingat sensasinya. Alunan ombak yang menerjang tubuh kita memberikan sensasi layaknya orang yang bergoyang menikmati alunan musik dangdut. Sedangkan jika kita berenang menjauh dari karang, melihat dalamnya lautan, rasanya seperti terbang di langit yang biru.
Dua puluh menit kemudian, aku berdiri di ujung jembatan panjang itu, menghirup napas dalam-dalam, mengumpulkan oksigen dan juga keberanian, kemudian aku melompat sambil memejamkan mata.
Cerita bersambung….
Copyright @lucascofish on Wattpad

Komentar
Posting Komentar