Flores adalah salah satu surga terindah di NTB, Nusa Tenggara Barat, Indonesia bagian Tengah. Dari ujung barat sampai timur, pemandangan alamnya sangat indah. Beruntung sekali saya punya kesempatan melakukan perjalanan dari Magelang menuju Surabaya, dan berlayar bersama Swarna Bahtera. Perjalanan solo traveling keliling Flores sendirian sambil berkemah di pesisir pantai Labuhan Bajo.
*****
~Clarista Story
Karya tulis ini adalah spinoff dari naskah autobiografi novel bertema petualangan karya @lucascofish: Flores Camp
Pengantar
April 2019, resepsi pernikahan Ade Sofian-Nurtalita Azmi. Suratku di antara dokumen rahasia.
Lima belas tahun sudah sejak kami duduk di bangku SMP berlalu, tapi aku masih kesulitan memahami karakteristiknya.
Rendy, Julian, atau yang lebih akrab dipanggil Fish adalah musuh, teman, sahabat, sekaligus cinta monyetku dulu. Orang yang pendiam, urakan, namun memiliki bakat yang menakjubkan dalam olahraga, khususnya sepak bola dan renang. Jangan tanya padaku kenapa dia tidak menjadi seorang atlet, karena aku benar-benar tidak mengetahuinya.
Di resepsi pernikahan sederhana teman SMP kami ini, bisa dikatakan ibarat reuni kecil-kecilan. Sebagian besar yang hadir adalah teman-teman yang tumbuh bersama selama dua tahun, mulai dari kelas 1D, namun sempat berpisah di kelas 2, dan akhirnya disatukan kembali di kelas 3D.
Obrolan seputar reuni pun tak jauh-jauh tentang kabar terkini, pekerjaan, hingga masa depan. Ketika semua orang selesai menikmati makanan pembuka, aku duduk di samping Rendy, memberikan dokumen yang sangat rahasia, hampir mirip satu paket soal ujian nasional yang tersegel rapi.
Aku memiringkan kepalaku sambil berbisik padanya, "Setelah memberikan sampel naskah novel Into The Road: Magelang-Lombok-Rinjani, kamu tidak pernah memberikan tulisan-tulisanmu lagi untuk kubaca."
"O, ya? Kalau begitu, baca saja Karimunjawa Camp di Wattpad." Rendy mengatakannya sambil menerima dokumen rahasia.
"Kenapa bukan aku yang menjadi pembaca pertamanya?! Menyebalkan sekali!" Aku cemberut.
"Maaf, bukan bermaksud begitu. Aku hanya takut jika kamu bosan membaca ceritaku." Rendy menunduk, mengelus-elus sambil memandangi dokumen rahasia. "Lagi pula, aku sudah lama mengurangi hobi menulisku dan fokus pada hobi-hobiku yang lain. Kalau pun aku ingin menulis, aku hanya ingin menulis untuk diriku sendiri," sambungnya.
Aku diam. Tapi hatiku mencelus. Air mata menggenangi pelupuk mataku, seolah berlomba-lomba ingin keluar, namun tidak ada yang menetes sedikit pun. Rasanya ingin sekali memeluk sahabatku yang sedang putus asa ini. Jelas sekali aku sangat takut jika ia kehilangan semangat menulisnya.
"Ngomong-ngomong, Fish, petualangan selanjutnya ke mana?" tanyaku, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Flores!" jawabnya mantap, namun dengan senyum yang dipaksakan. "Aku ingin berkemah di sepanjang jalan Labuhan Bajo sampai Larantuka selama 50 hari atau 2 bulan sekalian." Ia menambahkan.
"Tanggung banget! Kenapa gak 100 hari sekalian? Atau tinggal di Flores saja?" Sebenarnya aku cukup terkejut, tapi berusaha bersikap biasa saja. "Kalau begitu, aku selalu menunggu ceritamu," lanjutku sambil mengepalkan tangan.
"Rara." Rendy menatapku serius.
"...." Aku menjulurkan lidah, berharap ekspresi ini sangat manis karena aku sudah melatihnya begitu lama.
"Gimana kalau kamu yang menulis ceritaku nanti?"
Aku terkejut. "Kau bercanda, ya? Gak mungkin banget, lah!"
"Mungkin saja jika aku sudah menyiapkan bahannya. Lalu, kamu tinggal meraciknya dengan sudut pandangmu sendiri."
"Ta.... tapi.... kalau tulisanku jelek, gimana?" Aku sangat pesimis.
"Jika kamu tidak malu membaca tulisanmu sendiri, itu berarti tulisanmu layak dipublikasikan."
"Hm, begitu ya!?" Diam-diam, aku menyadari, ada sayap yang mulai tumbuh di punggungku. Lalu, aku ingin sekali mengepakkan sayap ini ke angkasa dan melihat dunia bagai burung penjelajah.
Akhirnya, resepsi pernikahan pun dimulai. Bunyi petasan mengawali keriuhan acaranya. Kemudian, diikuti dengan lagu pengiring khas adat Jawa, campursari.
*****
Saat aku kelas 1 SMP, aku sering menghabiskan waktu istirahatku di perpustakaan sekolah. Membaca koran lawas atau anyar, cerpen atau novel, kliping atau buku paket sekolah, hingga mengisi TTS majalah MOP lalu mengirimnya ke penerbit lewat kantor POS. Aku juga sering memikirkan syair-syair cinta Kahlil Gibran yang sangat memusingkan otakku. Dalam salah satu syairnya, ada satu baris yang sampai saat ini masih terngiang di pikiranku.
"Setiap orang memiliki tanggungan air mata yang harus ia kembalikan suatu hari nanti."
Jujur, aku yang masih sangat belia waktu itu tidak tahu apa maksud baris itu. Namun, setelah lima belas tahun berlalu, aku juga tak kunjung mengerti apa maksudnya.
Ngajak ribut, nih?
Hahaha, tentu saja tidak. Aku hanya sedang kebingungan menentukan lima paragraf awal kisah ini.
Haruskah aku menyontek karya tulis Rendy? Atau Sthepanie Meyer? Atau mengarang sendiri sesuka hatiku? Mungkin kisah ini sedikit membosankan di awal bab, karena setiap bab cerita memiliki keterikatan dengan kenanganku dulu.
Meski begitu, kisah petualangan Rendy berkemah di pulau Flores belum dimulai.
Aku tidak bisa memastikan kapan kisah ini dimulai. Jika kamu berharap tulisan yang sedang kamu baca ini adalah naskah novel petualangan atau naskah novel percintaan....
Aku sendiri tidak tahu. Tapi aku sama sekali tidak khawatir soal itu.
Mungkin kisah petualangan dan percintaanya baru akan dimulai di halaman terakhir naskah ini. Mungkin, lho! Bukan sebuah kepastian. Itu adalah harapan yang besar.
Kemudian, aku hanya bisa merenung di depan laptopku, mencoba menyatukan imajinasi dan karakteristik menulis yang saling berebut untuk dirangkai.
*****
Mei 2019, suatu sore di kantor pusat PO Safari Dharma Raya, kota Temanggung, provinsi Jawa Tengah.
Aku menemani Rendy duduk di ruang tunggu sambil ngemil coklat. Lima belas menit lagi, bus bergambar gajah jurusan Temanggung-Surabaya itu akan berangkat.
"Ngomong-ngomong, Fish, setelah membaca Karimunjawa Camp, aku ingin taruhan trip gratis ke Karimunjawa denganmu. Apa kau punya nyali?" Aku sengaja memprovokasi harga diri Rendy dengan kalimat, 'Apa kau punya nyali?'
Rendy memiringkan kepalanya dan berpikir. Kemudian dia berkata, "Apa yang dipertaruhkan?"
"Berat badanmu sepulang dari Flores. Aku yakin pasti akan turun." Ini taruhan yang cukup adil, karena kedua petaruh memiliki presentase 50:50 untuk menang maupun kalah. Jika yang dipertaruhkan adalah perubahan warna kulit, aku pasti auto menang. Tetapi, aku tidak selicik itu.
"Sikak! Kamu pintar sekali memilih bahan taruhan. Tapi aku terima tantanganmu. Kau lihat tubuh langsingku yang seperti pensil 2B ini? Aku yakin akan tetap sama, atau berubah menjadi seperti bambu." Rendy sangat percaya diri sekali.
"Yakin, tuh, bodymu seperti pensil 2B? Kupikir postur tubuhmu itu udah seperti penggaris dari mika. Tipis dan transparan banget." Aku tertawa jahat.
"Teganya dikau, Rara!" Rendy memelas, ekspresinya mirip pemeran utama dalam sinetron Ratapan Anak Tiri.
Kemudian, kami pun berjabat tangan, sebagai tanda bahwa taruhan ini telah disetujui keduabelah pihak.
Sayup-sayup terdengar suara operator bus mengumumkan pada semua penumpang jurusan Surabaya untuk segera naik ke dalam bus. Rendy pun bergegas mengikuti intruksi itu.
"Hati-hati di jalan, ya! Jangan duduk di belakang!" pesanku pada Rendy.
"Kenapa? Di belakang kosong, kok." Rendy memiringkan kepalanya dari pintu depan bus.
"Please deh, aku punya firasat buruk. Di belakang sangat berbahaya!" teriakku.
Rendy tertawa bodoh sambil melambaikan-lambaikan tangannya. "Doain aja, semoga tidak ada pocong, kuntilanak, genderuwo, dan sejenisnya." Dia pun berlalu memilih tempat duduk, tanpa memedulikan kekhawatiranku. Sikak!
"Aku mohon sekali ini aja dengerin nasihatku!" teriakku sekali lagi. Kami sudah cukup lama menghabiskan waktu bersama, jadi sudah tahu kegilaan masing-masing.
Rendy membuka kaca bus, lalu berkata, "Woy.... di sini sepi. Enak banget nih buat tiduran."
"Itu dia yang aku maksud. Di belakang tidak ada sopir, jadi sangat berbahaya!"
"Hahaha, nyebelin!!!"
Beberapa jam kemudian, Rendy mengirim pesan padaku via Facebook. Katanya, perjalanan malam naik bus terasa membosankan. Tidak ada cewek cantik, berarti tidak ada yang bisa Rendy modusin. Pak sopir memutar lagu campursari, Rendy pun auto tiduran, deh.
Ora tak gagas, penting sesok tuku beras….
Ora tak raras, penting anak bojo waras….
*****
Dalam film Forest Gump, ada kalimat yang cukup menarik perhatian. "Hidup bagaikan sekotak cokelat. Kamu tidak akan pernah tahu rasa apa yang akan kamu dapatkan."
Pengalaman-pengalaman baru dalam hidup ini, baik yang menyenangkan maupun yang buruk, selalu terjadi saat pertama kali kita berada di suatu tempat. Pengalaman yang menyenangkan akan selalu membekas di hati, sehingga suatu saat mungkin kita berpikir untuk kembali lagi ke tempat itu. Namun, jika yang kita dapatkan adalah pengalaman buruk, rasa-rasanya tempat itu layak kita blacklist sampai mati. Entah karena faktor keberuntungan atau kurang siap beradaptasi dengan lingkungan baru, selalu ada rasa penyesalan di akhir cerita.
Mungkin, seperti itulah yang dipikirkan seorang Rendy Juliansyah yang memilih kembali bernostalgia dengan pengalaman buruk.
17 Mei 2019, pagi yang cerah di terminal Purabaya, Surabaya.
Dua tahun lalu, saat pulang dari Lombok, Rendy bercerita padaku bahwa ia kena tipu dua kali sama bajingan calo jelek di terminal ini. Kejahatan preman-preman berkedok awak bus resmi yang berseragam palsu terlihat cukup meyakinkan bagi siapa pun calon penumpang bus yang pertama kali singgah di sini. Apalagi jika kamu ingin pergi jauh ke luar provinsi atau pulau, kamu akan jadi santapan lezat para bajingan calo jelek itu. Mereka akan merayumu dengan berbagai tipu muslihat, lalu jika kamu setuju dengan apa yang ia tawarkan, kamu akan dibawa ke bus "siluman" yang tidak sesuai dengan perjanjian awal. Yang lebih parah lagi, kamu akan dibawa ke tempat sepi, lalu dipalak, atau penipuan lain seperti uang yang kamu bayarkan pada bajingan calo jelek itu kurang, sehingga kamu dipaksa membayar tipu muslihat kekurangan itu.
Kurang lebihnya, itu lah pengalaman buruk yang pernah Rendy alami. Belajar dari pengalaman itu, saat ia tiba di terminal Purabaya, misi balas dendam pun sudah diusungnya.
Penampilan Rendy yang mencolok dari ujung rambut sampai kaki, pasti akan sangat menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Kemeja flanel hijau-biru-kuning yang menjadi ciri khasnya saat berpetualang, daypack biru yang over kapasitas, dan satu nesting yang diletakkan di luar daypack hingga menimbulkan bunyi "klontang-klanting" ketika Rendy melangkah, sudah cukup membuat orang di sekitar merasa terganggu. Dia terlihat seperti seorang anak pejabat berkantong tebal hasil korupsi, namun "cuek bebek" seperti orang gila.
Cukup apes bagi Rendy, suasana terminal di pagi hari sangat sepi. Bajingan calo-calo jelek itu mungkin masih molor karena semalam mabuk berat, kalah judi, atau jangan-jangan kalah indehoi dengan pelacur jalanan.
"Mau ke mana, Masssss!?" tanya seorang paruh baya yang diduga kuat oleh Rendy adalah bajingan calo jelek. Ya ampun, itu calo badan kerempeng, tapi kalau ngomong plus-plus. Plus air liur yang muncrat ke wajah Rendy dan bau mulut yang mirip sama bau kentutnya.
Surabaya adalah salah satu kota terbesar di Indonesia. Rendy tidak cocok dengan kehidupan di kota, namun dia tetap berjalan dengan tenang, menikmati setiap momen yang jarang terjadi.
36 jam kemudian, Rendy tiba di Labuhan Bajo, pintu gerbang menuju Flores.
Cerita bersambung.....>>
Copyright on Wattpad @lucascofish
*****

Komentar
Posting Komentar