Pertanyaan yang simpel, namun jawabannya akan sangat beragam, dan mungkin sulit diterima masyarakat Indonesia, khususnya para orang tua dan wanita yang memiliki banyak perbedaan; suku, adat-istiadat, dan budaya.
Aku sering bertanya-tanya: kenapa banyak cowok Indonesia begitu mendambakan pernikahan, akan tetapi usaha mereka tidak sebesar keinginannya tersebut? Kemudian, mereka hanya bisa mengeluh, pasrah, dan menerima kenyataan yang ada.
Suatu ketika, aku sedang berada di kedai sea food Padang Sidimpuan, Sumatera Utara. Aku sedang mengedit video pertualanganku di Karimunjawa selama 1 minggu lebih, sambil menikmati hidangan ikan bakar gurame madu saus sartar.
Di sebelah kanan mejaku, ada seorang lelaki paruh baya dan lelaki dewasa muda yang sedang mengobrol sambil merokok. Obrolan mereka tidak menarik perhatianku, namun asap rokoknya sangat mengangguku. Tiba-tiba, lelaki paruh baya itu bertanya tentang pernikahan kepada si lelaki dewasa muda. Aku yang tertarik dengan tema obrolan itu kemudian menajamkan indera pendengaranku untuk menangkap inti pembicaraan mereka.
"Jadi, kapan kau menikah, Nak?"
"Awak belum tahu, Tulang. Mohon doanya aja, semoga Tuhan memberikan jalan yang terbaik."
"Tulangmu ini sudah bosan mendoakanmu. Cepatlah nikah. Apa kau tidak percaya dengan janji Tuhan setelah menikah?"
"Bukan begitu, Tulang. Tapi awak selalu berpikir dengan logika. Seandainya awak menikah sekarang, awak takut nanti tidak bisa membahagiakan istri awak. Belum lagi, biaya pernikahan kan semakin mahal, itu ditambah sistem adat kita yang begitu rumit."
"Kau kebanyakan logika, Nak! Nikah tinggal nikah aja! Jika kau kebanyakan logika, selamanya kau tidak akan pernah bisa percaya dengan keyakinanmu!"
"Bukan kah laki-laki berpikir dengan logika? Setidaknya, awak bisa mengukur kemampuan awak sejauh mana. Ya, realistis lah."
"Logika itu bagus dan penting. Tapi cara berpikirmu sama saja dengan kamu meragukan janji-janji Tuhan. Ingat, kau semakin bertambah tua dari hari ke hari."
"Hei, santai sedikit lah. Awak ini masih muda. Masih di bawah 30 tahun." Lelaki dewasa muda itu mengatakannya dengan nada tinggi. "Kata dosen awak, sebelum usia 30 tahun, jodoh itu di tangan Tuhan. Namun, sesudah usia 30 tahun, Tuhan lepas tangan." Ia menambahkan.
"Berarti, kalau Tuhan sudah lepas tangan nanti, mampus kau, Nak!"
"$@&/!€>£¥<|...."
"...." Aku tidak bisa menahan tawa.
Apa yang bisa kalian simpulkan dari obrolan pria paruh baya dan lelaki dewasa muda tadi?
Kemudian, kembali ke pertanyaan awal: kenapa, kalian, cowok-cowok Indonesia mulai menunda pernikahan?
Well, aku akan menjawab pertanyaan itu lebih dulu dari sudut pandangku dan dari pengamatanku selama ini.
Setiap lelaki dewasa muda pasti ingin menikah dan menjalin kehidupan rumah tangga sebagaimana mestinya. Namun, menikah tak semudah menjadi keyboard warrior yang hanya bermodakan smartphone atau komputer lengkap dengan peralatan penunjangnya, bukan?
1. Kurangnya Rasa Percaya Diri
Apa kamu jones? broken home? nolep? pengangguran? perokok? bokeper? fap-fap addict?
Jika semua hal itu ada pada dirimu, lengkap sudah penderitaanmu, Bujang! Jangankan memikirkan pernikahan, mengenal diri sendiri dan menghidupi diri sendiri aja susah, apalagi harus menghidupi anak orang? Hellowww.... lebih baik gue jones sampai mati, ahahaaa.
Jika laki-laki tidak memiliki pekerjaan yang baik, kendaraan yang keren, keluarga yang saling suport, hobi yang manly, rasa-rasanya setiap laki-laki pasti akan merasa minder mendekati wanita pujaan hatinya.
2. Sudah Terbiasa Sendiri, Mandiri, Dan Sudah Siap Jika Harus Hidup Sendiri
Seperti kutipan cerita di atas, "Kata dosen awak, sebelum usia 30 tahun, jodoh itu di tangan Tuhan. Namun, sesudah usia 30 tahun, Tuhan lepas tangan."
Mungkin, laki-laki yang berusia di bawah 30 tahun masih bersemangat untuk menemukan jodohnya. Namun, laki-laki yang berusia di atas 30 tahun sudah mulai malas mencari jodohnya. Pada akhirnya, jika semesta tak kunjung mempertemukan jodohnya, ia akan melajang seumur hidup.
Bukan hanya laki-laki yang bersikap dan memiliki pendirian seperti itu. Namun, banyak wanita-wanita karir yang sudah sukses dan berumur lebih dari 25 tahun ke atas juga melakukan hal serupa. Jika sampai umur 30 tahun lebih tak kunjung menemukan orang yang tepat untuk menjadi imamnya, wanita seperti itu akan memilih melajang seumur hidup sampai mati. Dan untuk masalah hidup sendiri sampai mati, wanita jauh lebih pro daripada laki-laki.
3. Punya Impian Yang Besar, Jadi Tidak Mau Menikah Muda
Setiap individu memiliki impian yang berbeda, bakat yang berbeda, cara berpikir yang berbeda, atau bahkan nasib yang berbeda. Cara berpikir setiap individu sangat unik dan semua orang tidak bisa memahami cara berpikir masing-masing individu itu.
Aku pun punya impian besar di masa dewasaku ini, yaitu pergi ke Rusia, mungkin mendaki gunung Elbrus. Perjalanan yang panjang lewat jalur darat. Indonesia-Singapura-Malaysia-Thailand-Kamboja-Vietnam-Cina-Mongolia-Rusia. Pastinya akan naik kereta Trans Siberian, jalur kereta terpanjang di dunia.
Namun, orang-orang di sekitarku berpikir kalau pergi ke luar negeri identik dengan belajar atau bekerja. Mereka juga bertanya, "Kenapa pergi ke luar negeri hanya untuk bersenang-senang dan menghabiskan banyak uang?"
Aku pun menjawab, "Dunia ini begitu luas, kalau selagi muda tidak berkelana, hidup jadi sia-sia. Pasti seru sekali. Orang sepertiku tidak mungkin menjadi orang terkenal, atau selebriti.... juga tidak ada modal untuk itu. Setiap orang berusaha menjadi sukses.... kalau aku.... orang gagal seperti aku hanya bisa melewati kehidupan seperti biasa.... yang penting aku bahagia; hidup dengan jalanku sendiri."
Lalu, pertanyaan kedua: menurut teman-teman di sini, bagaimana perbedaan pendapat antara logika dan keyakinan dalam pernikahan?

Komentar
Posting Komentar