Halo, Agan & Sista, namaku Luca Scofish dari Magelang. Hari ini adalah hari yang teramat istimewa bagiku, sebab aku akan memiliki sepeda balap yang sudah lama aku idam-idamkan sejak dulu. Akan tetapi, untuk mendapatkannya aku harus berkunjung ke Solo terlebih dahulu, karena penjualnya adalah orang Solo. Singkat kata, aku membeli sepeda bekas dari seseorang.
Well, cerita dimulai dari pukul 05.40 pagi dari terminal Secang menuju Bawen.
Aku sudah lama tidak naik bus jadi merasa kaget karena busnya sedikit kurang nyaman; jumlah penumpang melebihi kapasitas bus. Menurut pengakuan para penumpang setiap pagi-pagi sekali bus-bus jurusan Jogja-Semarang memang seperti itu karena banyaknya buruh, anak sekolah, hingga pegawai negeri yang menjalankan aktifitas masing-masing.
Kemudian lanjut bus jurusan Solo; busnya nyaman karena semua bus jurusan Semarang-Solo sudah ber-AC.
Sampai di terminal Solo, aku langsung dijemput oleh bapak penjual sepeda balapnya.
Lalu, di rumah bapak penjual sepeda balap, aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan si Helios 200. Setelah cek dan ricek dengan sangat teliti, aku pun memutuskan untuk membayar maharnya, yang sebelumnya sudah kami sepakati.
Sekitar pukul 00.30 PM, begitu prosesi ijab kobul selesai, aku dan si Helios 200 langsung berbulan madu dari Solo-Surakarta-Klaten-Yogyakarta-Magelang-Secang.... xixixi, lebay, ya!
Baiklah, sekarang aku akan menceritakan keseruan perjalanannya.
Aku tidak terlalu mengalami kesulitan berarti mengendarai sepeda balap karena sebelumnya aku pernah berlatih menggunakan sepeda balap temanku; entry level.
Awalnya aku mengira sepeda balap level rendah lebih berat dari sepeda gunung, tapi perkiraanku meleset tajam. Sepeda balap level rendah tetap cepat meskipun dikayuh perlahan. Jadi sepanjang perjalanan dari Solo menuju Surakarta, aku santai-santai saja sambil menikmati indahnya kota Solo.
Sampai di Surakarta, hujan dengan intensitas sedang menyambutku. Aku pun terpaksa beristirahat sebentar. Namun hujan tak kunjung reda, sehingga memaksaku untuk menerabasnya saja. Dan ketika memasuki kabupaten Klaten, cuaca menjadi lumayan panas.
Sampai di Klaten aku mampir di rumah saudaraku selama 90 menit. Kemudian aku melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta pada pukul 02.40 siang.
Aku sampai di Jogja sore hari, karena aku berjalan-jalan sebentar keliling candi Prambanan; cuaca mendung namun belum turun hujan hingga aku tiba di kota Jogja.
Klimaksnya, sekitar pukul 06.10 PM, hujan lebat menyambutku sewaktu aku tiba di Tempel, perbatasan Yogyakarta-Magelang. Hujan tak kunjung reda hingga beberapa saat kemudian, sehingga memaksaku untuk menerabas lagi jika tak ingin sampai rumah larut malam.
Diiringi gemericik air hujan yang lumayan lebat, aku terus mengendarai sepedaku dengan ekstra hati-hati, karena perjalanan malam sangat berbahaya, terlebih lagi di saat hujan lebat.
Beberapa kilometer sebelum sampai kota Muntilan, intensitas hujan mulai menurun. Namun sewaktu sampai di kota Muntilan, hujan lebat kembali datang.
Kali ini aku tak berteduh di emperan toko, dan tetap mengayuh pedal dengan hati-hati, karena ya sudah terlanjur basah.... ya basahin sekalian.... Hehehe (eh, itu lirik lagu, ya?)
Kemudian intensitas hujan malah semakin tinggi, namun aku tetap 'stay cool'. Seolah tak terima dengan gayaku, hujannya semakin ganas. Aku pun segera menepi ke teras toko, bukan menyerah, tapi demi kesehatanku juga, hehehe.
Beberapa kali sewaktu aku berhenti di lampu merah dan melihat mobil pick-up yang tak membawa muatan, aku sempat berpikir untuk menciderai pengalaman pertamaku mengendarai sepeda balap jarak jauh ini dengan menebeng pada mobil pick-up yang menuju Magelang. Namun tak kulakukan juga, meskipun aku sudah mulai menggigil.
Kemudian, kuputuskan untuk menerabas hujan lagi meskipun sangat lebat. Entah kenapa aku malah tertantang dengan hujan yang sangat lebat itu. Aku merasa sangat kekanak-kanakan dan kembali menemukan semangat masa kecilku yang penuh asa dan cita. Aku juga tidak mengalami lelah yang terlalu dibandingkan sewaktu mengendarai sepeda gunung. Mungkin karena aku benar-benar bahagia dan sangat menikmati perjalanan, jadi semangatku mengalahkan segalanya.
Sampai di kota Magelang, sebelum Armada Town Square, aku nyaris diserempet kontainer gila. Bermula di depanku ada sebuah mobil sedan yang parkir di tepi jalan, tanpa menoleh kebelakang untuk melewati mobil sedan yang parkir itu, sebuah kontainer dari arah belakang dengan kecepatan penuh nyaris menghantam tangan kananku. Beruntung aku bisa selamat. Setelah insiden itu, aku jadi lebih berhati-hati sewaktu menyalip mobil yang parkir atau berjalan lambat. Aku juga sedikit kurang suka dengan motor-motor yang lewat dari arah berlawanan di tepi jalur searahku, yang tentu saja membahayakan keselamatanku. Tapi syukur alhamdulillah, all iz well, semuanya baik-baik saja.
Akhirnya aku sampai di rumah sekitar jam 9 malam kurang beberapa menit. Kemudian aku langsung memandikan si Helios 200, baik di sisi kanan ataupun sisi kiri sampai 10 kali, sedangkan aku cukup mandi sekali saja.... Hahaha.
Permasalahan yang kualami: sampai di rumah perutku terasa sakit, mungkin karena terlalu lama kena air hujan dan angin malam. Tapi syukur alhamdulilah aku tidak mengalami cedera sedikit pun.
Permasalahan Helios 200: entah kenapa sesampainya di Magelang, baik rem depan maupun rem belakang bunyi 'Ciiitttt.... Ciiittt....' sehingga membuat rem kurang pakem, mungkin karena rims tertempel banyak pasir halus.
Oh iya sebagai penutup, aku ingin bertanya tentang perawatan sepeda balap dan sparepart apa saja yang wajib dibawa touring jarak jauh. Jadi, musim panas nanti, aku punya rencana sepedaan sampai Lombok. Tujuan utama sampai Lombok, tapi target sih sampai Flores, dengan catatan aku mendapatkan teman jalan karena jalan di pulau Sumbawa sangat sepi, jadi aku takut kalau sendiri. Jadi, mohon jawabannya.
Terima kasih sudah membaca ceritaku.

Komentar
Posting Komentar