Tidak semua orang Indonesia membenci Malaysia dan tidak semua orang Malaysia membenci Indonesia.
Televisi Malaysia, TV1, menyiarkan langsung partai final Kejuaraan Dunia Bulutangkis di Basel, Swiss, Minggu 25 Agustus 2019.
Di partai itu, pasangan pebulutangkis ganda putra Indonesia, Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan, sukses mengalahkan pasangan ganda putra Jepang, Takuro Hoki dan Yugo Kobayashi, lewat pertarungan sengit tiga gim yang berakhir dengan skor: 25-23, 9-21, dan 21-15.
Menariknya, sepanjang pertandingan, komentator TV1 Malaysia begitu mendukung dan mendoakan agar pasangan ganda putra Indonesia bisa menang dan juara. Hal ini dibuktikan semalam ketika komentator TV1 Malaysia begitu risau dan khawatir kalau fisik pasangan ganda putra Indonesia terkuras ketika bermain rubber-set. Dan ketika Indonesia memastikan kemenangan, komentator TV1 Malaysia tertawa dan bahagia. TV1 Malaysia bahkan menyiarkan sampai lagu kebangsaan Indonesia Raya selesai berkumandang. Padahal, timnas badminton Malaysia tidak mengirimkan satu pun wakilnya di partai final. Itu adalah salah satu sisi positif dari negeri Jiran Malaysia.
Saling dukung atlet Indonesia dan Malaysia tidak hanya terjadi di ajang bulutangkis saja. Jauh sebelum ini, ketika Lee Chong Wei masih berjaya, banyak orang Indonesia yang ngefans dan memberikan dukungannya supaya berprestasi di ajang internasional dan mengharumkan ras Melayu, atau bahkan Asia Tenggara. Kemudian, ketika Hafizh Syahrin melakukan debut di ajang balap motor Moto GP, orang Indonesia juga ikut bangga dan berharap Hafizh Syahrin bisa menuai kesuksesan.
Itulah jati diri dan budaya sesama rumpun Melayu yang patut kita junjung tinggi dan kita lestarikan.
Hal ini sangat kontras sekali dengan TV Indonesia yang menayangkan acara Kejuaraan Dunia Bulutangkis di Basel itu. TVRI selaku pemegang hak siar World Badminton Swiss malah mengacak siaran langsung lewat satelit, tapi lewat UHF dibiarkan FTA (Free To Air), sehingga para pecinta bulutangkis di Indonesia banyak yang mengalami kesulitan dan terpaksa mencari alternatif untuk menonton pertandingan bulutangkis melalui live streaming atau TV1 Malaysia.
Negara lain saja peduli terhadap prestasi atlet Indonesia, kenapa negara kita hanya memikirkan bisnis dan tidak memberikan hiburan yang berkualitas kepada rakyatnya? Yang lebih menjengkelkan adalah TV pemerintah kita menggunakan uang rakyat untuk bisnis mereka. Lalu, kita sebagai warga sipil harus bagaimana menyikapinya?
Hm, walaupun Indonesia dan Malaysia sering berselisih, namun itu hanya ulah para provokator dan nitizen pengangguran yang sering berdebat di media sosial.
Indonesia dan Malaysia itu serumpun. Ibarat saudara kandung yang sering bertengkar jika berdekatan, namun akan kompak saat melawan orang lain. Mari kita jalin dan erat kembali rasa persaudaraan kita, ambil sisi positifnya dan buang sisi buruknya.
Kita bersaudara karena serumpun dan seiman.
Betul, betul, betul....?!

Komentar
Posting Komentar