Nama penaku Luca Scofish, asli putra daerah Salatiga, tetapi sejak berusia 5 tahun tinggal di Secang, kota super kecil di kabupaten Magelang.
Aku sangat menyukai Magelang; cuacanya yang kadang panas kadang sejuk, kotanya yang kondusif, destinasi wisata alamnya yang sepi, ceweknya yang begitu menyejukkan mata dan hati, serta masyarakatnya yang bersahabat.
Aku masih muda dan lebih keren dari Taylor Lautner.... juga memiliki kualitas terpendam; keyakinan, kekuatan fisik, kemerdekaan jiwa, sekaligus melewati hidup dengan semangat yang tinggi untuk terus berpetualang dan mengeksplorasi keindahan alam di negeri ini dengan cara backpacker, bikepacker, gowespacker, nge-road-packer, hingga gembelpacker sekalian. Aku berada di tengah-tengahnya tanpa mampu menghabiskan hari-hariku dengan mengeluh, karena hal itu tidak mungkin untuk menghadirkan kebahagiaan. Aku selalu berdoa dengan sepenuh hatiku; kebahagiaan, watak keceriaan, dan kekuatan untuk terus menjalani hidupku yang sederhana dengan menjadi diri sendiri. Setiap hari aku merasa diriku tumbuh kian dewasa, namun pemikiranku tetap saja masih kekanak-kanakan. Aku merasa Tuhan semakin dekat denganku—kematianku. Aku merasa keindahan alam dan kebaikan insane mengelilingiku. Setiap hari aku berpikir, betapa ini adalah petualangan yang sangat memesona dan menyenangkan. Dengan semua itu, mengapa aku harus tenggelam dalam keputusasaan?
Meskipun aku lebih keren dari Taylor Lautner, tapi aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya anak orang miskin yang lahir di tengah-tengah kedinginan keluarga. Tapi hal itu tidak membuatku sedih, karena, sekali lagi, aku memiliki bakat yang menakjubkan, impian, dan kemauan keras untuk mewujudkannya, meskipun pada akhirnya aku begitu akrab dengan kegagalan.
Delapan tahun sudah aku terlalu memikirkan cinta-cintaan dan masa depanku yang suram. Delapan tahun sudah aku membuang waktuku hanya untuk kehidupan yang tak ada hebat-hebatnya sama sekali. Delapan tahun sudah aku seperti mencandu heroin; selalu bermimpi dan bermimpi, kemudian memikirkan ending yang indah dalam mimpi itu, hingga berharap semua mimpi itu bisa terealisasi di kehidupan nyataku. Mungkin benar aku bukanlah pria dewasa, tapi sekarang aku benar-benar tak peduli lagi dengan segala impian-impian semu-ku itu. Impian-impian yang justru melemahkan mental dan rasa percaya diriku.
Kalau boleh jujur, aku sedikit kecewa dengan segala aturan birokrasi di negeri ini. Hal paling menjengkelkan adalah peraturan tak tertulis: "Dinyatakan Menyerah Sebelum Bertanding", meskipun sebenarnya aku mampu melakukannya dengan keahlian yang aku miliki, bukan dengan gelar-gelar individu itu. Oleh sebab itu, aku benar-benar menyatakan kekalahanku dalam persaingan hidup, dan sekarang aku hanya akan melakukan hal-hal yang pasti-pasti saja, seperti: bersepeda jauh dari satu tempat ke tempat lain, naik dan turun gunung, lalu berjalan.... berlari.... sampai tiba waktuku, karena semua hal itu sangat jelas di mana start dan finisnya.
Sejak SMA aku memang suka membaca dan menulis. Aku juga berani mengklaim bahwa karya-karyaku tak kalah hebat dibandingkan para penulis kondang tanah air. Aku hanya kurang beruntung saja. Hanya itu— tak memiliki nama besar, sehingga tak membuat editor melirik karyaku. Bahkan, saking kecewanya, aku sempat berpikir untuk mengirim surat ancaman bom pada salah satu penerbit major terbesar di ibukota, yang beberapa kali menolak karya-karya terbaikku, supaya namaku menjadi terkenal seantero Indonesia, dan berharap pihak penerbit mau menerbitkan karya-karya terbaikku. Apakah aku harus melakukan hal itu? Seandainya saja umurku masih belasan tahun, aku tidak akan berpikir dua kali lagi.
Well, aku memang bukan siapa-siapa, tapi dengan tulisan ini, aku bisa menjadi siapa. Dan dengan tulisan ini pula, hidupku jauh lebih berwarna, karena aku akan menginspirasi pemuda-pemudi Indonesia. Mungkin benar kisah perjalananku ini bukan perjalanan yang hebat, karena dilakukan di negeri sendiri. Namun yang membuatku berbeda dari kebanyakan orang adalah karena aku menulisnya dengan sepenuh hatiku. Ya, menulis membuatku istimewa, karena aku mengukir sejarah dan berjuang melawan rasa lupa.
Sekarang, sebelum aku mengajak pembaca menuju kata pengantar, aku ingin memberitahu bahwa aku menulis pengalaman ini untuk diriku sendiri dan teman-teman yang memiliki hobi sama sepertiku, bukan untuk wanita yang aku cintai, bukan juga untuk teman-temanku, apalagi untuk penerbit-penerbit bodoh dan mata duwitan, yang hanya mementingkan nama besar! Aku hanya ingin berbagi kisah hidupku, karena tidak semua orang memiliki kesempatan merasakan apa yang aku alami.
Dan tak takut akan perlindungan karyaku ini, aku sudah mempertimbangkan segala risiko yang akan kuterima sewaktu aku memutuskan akan mem-publish naskah ini di media sosial, sehingga dapat dibaca banyak orang Indonesia secara gratis. Lupakan risiko terburuk soal plagiarisme, risiko terbaik yang kuharapkan tentu saja aku akan mendapatkan banyak teman baru, baik sesama penulis, pembaca, backpackers, pendaki gunung, bikers, dan siapapun itu. Aku juga mengerti betul siapa saja yang akan membaca tulisanku ini: orang miskin, orang kaya, orang yang pura-pura kaya, atau... orang tak berpendidikan, orang yang pura-pura berpendidikan, sampai orang yang benar-benar berpendidikan; baik yang sombong ataupun yang rendah hati. Jadi, teman-teman yang membaca novel ini, semacam diary seorang pria yang memasuki usia dewasa muda, baik yang pro ataupun yang kontra, boleh berkomentar apa pun: termasuk hinaan, cercaan, dan makian. Aku sudah cukup berpengalaman terhadap hal itu.
Oh iya, untuk para copaser yang terhina, kalian boleh meng-copas tulisanku sesuka hati kalian; baik disimpan secara pribadi ataupun dipublikasikan di internet. Toh, pembaca juga sudah tahu siapa penulis aslinya. Jika kalian nekat, kalian hanya akan mempermalukan diri sendiri.
Intinya aku berharap dapat mempercayakan semua pengalamanku ini kepada pembaca, karena aku tidak akan pernah mampu menyimpannya terus-menerus, dan aku berharap kalian dapat menjadi sumber kenyamanan dan dukungan bagi jiwa menulisku yang mulai padam.
Akhirnya, kuucapkan selamat membaca Into The Road: Magelang - Lombok - Mount Rinjani
~This Novel Based On A True Story by Luca Erillio~
Acknowledgements: Untuk seorang pramugari Garuda Indonesia Experience yang menyukai novel non fiksi bertema petualangan. Terima kasih sudah mewarnai kehidupanku di dunia maya, meskipun kita tidak saling mengenal di dunia nyata. Kau membantuku mengerti bahwa merindukan seseorang yang jauh di sana dapat membuatmu bahagia dengan cara yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Terima kasih juga untuk sesosok bidadari bersayap putih atas kritik dan sarannya yang mendalam usai membaca naskah awal, terutama atas kegigihannya yang tidak pernah mengizinkanku kehilangan fokusku pada cerita, meskipun pada akhirnya aku tetap membandel. Selanjutnya, spesial thanks untuk si seksi Clarista, teman sekolah yang awalnya seorang musuh bebuyutan, sekaligus pemegang rekor pembaca tercepat untuk semua sample naskah-naskah novelku, kecuali novel ini. Maafkan aku, karena tidak memberitahumu tentang semua rencana ini, tapi ini adalah kejutan, dan kuharap kau menyukainya. Terakhir, kali ini aku takkan lupa untuk mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada diriku sendiri, yang masih memiliki semangat menjaga asa dan cita menjadi seorang penulis hebat.

Komentar
Posting Komentar