Hari Pertama: Pelecut Semangat Hidup Yang Baru
Ada kebahagiaan di Indonesia timur yang sayang untuk dilewatkan;
Ada kegairahan di gunung Rinjani dan pantai-pantai di pulau Lombok yang eksotis;
Dari puncak Dewi Anjani, kerlap-kerlip bintang di langit yang gelap bercahaya terasa sangat dekat;
Semakin larut, semakin dekat;
Ketika aku melompat untuk menggapainya, tiba-tiba ada sesosok peri kecil yang muncul di hadapanku;
Kemudian ia mengarahkan tongkatnya tepat di keningku;
Dan membuatku terbelenggu sepanjang mimpi.
Musim kemarau basah tahun 2017, kecamatan Secang, kabupaten Magelang, provinsi Jawa Tengah, Waktu Indonesia Barat.
Kisah ini berawal dari sepotong permen karet berwarna merah muda yang berubah warna menjadi putih setelah kukunyah-kunyah, dan bisa menjadi balon sewaktu kutiup, namun tiba-tiba meletus begitu saja; Sejak awal aku sadar dengan segala risiko baik-buruk yang akan kuhadapi nanti. Aku juga mengerti bahwa perjalanan ini tidak akan berjalan mulus. Namun, aku percaya kalau Tuhan selalu menjagaku.
Dua minggu menjelang hari keberangkatan, setiap sore hari, aku melakukan persiapan berupa latihan fisik ala militer, supaya kondisi fisik dan mentalku benar-benar siap tempur. Malam harinya aku juga selalu mengecek barang-barang bawaanku. Kemudian cek dan ricek kondisi Lightning, sepeda balap Polygon Helios 200-ku, agar dalam kondisi prima. Dan setelah mengantongi izin dari ayah dan ibuku, aku membeli stok makanan ringan kaya serat untuk bekal meninggalkan kehidupanku yang datar selama beberapa minggu. Mungkin waktu yang cukup lama bila aku memutuskan melanjutkan perjalanan dengan cara backpackeran menuju Flores.
Tentu saja keluargaku merasa khawatir dengan perjalanan ini sewaktu aku berkata pada mereka, "Aku akan bersepeda sampai Lombok sendirian, lalu mendaki gunung Rinjani, jadi aku memerlukan waktu selama beberapa minggu untuk kembali pulang."
Seperti predeksiku sebelumnya, mereka berkata sampai puluhan kali hingga aku hafal apa yang pernah mereka katakan padaku dulu. "Kau sudah gila atau memang bodoh? Apa manfaatnya untuk masa depanmu? Apa bisa membuatmu kaya? Mengapa kau bersepeda sejauh ini? Apa kau akan selamat sampai pulang ke rumah lagi?"
Aku pun berusaha meyakinkan ayah dan ibuku bahwa itu adalah sesuatu yang aman, menyenangkan, dan supaya aku memiliki cerita yang menakjubkan di masa dewasa-mudaku.
Tak ada ruginya mencoba suatu hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Rasanya seperti tahun-tahun sebelumnya—seperti aku berdiri tanpa alas kaki di puncak-puncak gunung yang berhasil kucapai dalam beberapa tahun ke belakang, benar-benar, ketika aku telah membuat keputusan yang boleh dibilang tidak masuk akal dan hanya membuang-buang waktu untuk perjalanan panjang dengan bersepeda sendirian melewati kerasnya jalanan di negeri ini. Hingga aku percaya bahwa segala sesuatu yang pernah kulalui sebelumnya telah membentuk mental dan fisikku yang lemah menjadi penuh percaya diri untuk perjalanan ini.
Sebenarnya, aku sudah lama ingin kembali ke Lombok dengan cara bikepacker-an menggunakan sepeda motor, setelah pertama kalinya aku sukses backpacker-an pada akhir tahun 2014 lalu hingga nyasar sampai gunung Tambora, namun ada saja faktor teknis dan nonteknis yang mengacaukan semua rencanaku. Dan kini, aku memutuskan untuk melakukannya dengan cara yang anti-mainstream; mengendarai sepedabalapku dari Magelang-Lombok, dengan tujuan utama gunung Rinjani, namun target sebenarnya aku ingin berkunjung sampai Flores, entah dengan cara seperti apa nantinya.
Menurut Google, jarak Magelang - Sembalun sekitar 950-an km, sedangkan jarak Magelang - Flores sekitar 1800-an km. Kau bisa bayangkan kalau pulang-pergi? Setiap hari aku menargetkan akan menempuh jarak sekitar 150-200 km, tergantung suasana hati dan kondisi tubuhku.
Well, hanya ingin meyakinkan diri sendiri bahwa aku adalah seorang pria yang tangguh.
Pukul 07.27 WIB, aku menatap kaca jendela teras rumahku, wajahku yang lebih keren dari aktor Hollywood membalas tatapanku. Sedikit jambul hitam lekat-ku menjuntai menantang langit, tepat di atas mataku yang hitam kecoklatan. Suhu di Secang 23°C langit cerah, biru tanpa awan. Aku mengenakan kemeja flanel favoritku—perpaduan warna hijau muda dan biru laut, berstrip kuning transparan; aku mengenakannya sebagai lambang keberanian yang santun. Aku juga merekatkan helm safety di kepalaku yang keras seperti buah kelapa, kacamata hitam untuk melindungi mataku dari debu, earphone di kedua kupingku, dan jam tangan QnQ berwarna hitam di tangan kiriku, sehingga menjadikan penampilanku terlihat lebih maskulin, nyaris menyerupai penampilan seorang prajurit Kopasus; dengan dekker yang merekat erat di kedua siku dan lututnya—benar-benar siap berperang sampai mati.
Sekarang, aku mengepak daypack 30 literku, lalu berdiri di atas sadel Lightning, menyatu dengan jalanan kota dan keindahan alam Indonesia, sambil mendengarkan lagu: Ladki Badi Anjani Hai, OST Kuch-Kuch Hota Hai.
Secang - Magelang - Yogyakarta - Solo - Sragen - Ngawi - Nganjuk - Mojokerto - Pasuruan - Probolinggo - Situbondo - Banyuwangi - Denpasar - Mataram.
Itu adalah rute yang akan kulewati. Aku harus tiba di kota Mataram dalam waktu 5 hari, setelah menyanggupi tantangan dari seorang teman SMA. Lumayan, lah, kalau aku berhasil, uangnya bisa buat tambahan refreshing di nightlife spa (++) setelah perjalanan panjang ini selesai. Biarlah uang haram mengalirnya ke yang haram, hehe.
Jarak Secang-kota Magelang sekitar 10 km, jalannya menurun datar dan relatif mulus. Biasanya aku memerlukan waktu 20 menit untuk sampai di alun-alun kota Magelang. Sesampainya di alun-alun, aku selalu berhenti sejenak di depan Gardena untuk melihat para SPG yang berlalu-lalang di jalur khusus sepeda. Di sebelah selatan Gardena, para SPG Matahari juga tidak kalah cantik. Itu ditambah gadis-gadis yang bersekolah di bawah naungan kementerian RI; penampilannya rapi, rambutnya pendek sebahu, body-nya yahut dan semok-semok; yang berjalan tegap dan terlihat sangat cuek.
Memang julukan kota sejuta bunga yang melekat pada jati diri kota Magelang berbanding lurus dengan keanggunan cewek-ceweknya. Aku memang tidak tahu apakah mereka orang pribumi atau bukan, yang jelas aku sudah terlanjur cinta pada Mulan dan Aulia yang notabene adalah warga asli Magelang. Upz.... aku lupa bahwa dulu Aulia pernah bilang padaku bahwa ia pindahan dari Solo, hehe. Pokoknya ibarat artis Indonesia nih, ya, Mulan itu seperti Raisa Suka Berkelana, sedangkan Aulia seperti Laudya Chintya Belas Kasihan. Kecantikan mereka benar-benar Indonesia banget. Ngomong-ngomong soal gadis IGO, aku paling suka sama Anissa Rahma eks girl band yang suka nyanyi, "Nggak.... Nggak.... Nggak.... Nggak kuat, aku nggak kuat ngomongin gadis IGO lagi!" Eh, itu bukan lagunya si itu, ya? Hehe.
Aku mengeraskan volume earphone sewaktu playlist di ponsel pintarku berganti, satu lagu favoritku yang berhasil menyemangati hidupku: Eddie Vedder - Hard Sun (Into the Wild music video).mp3
Aku melanjutkan perjalanan dan kembali mengayuh pedal sepeda balapku dengan hati-hati, tanpa rasa takut jika sewaktu-waktu bertemu polisi, sebab aku adalah pesepeda yang jauh dari mata hukum.
"Huh... kenapa tidak ada penjual shiomay atau cewek semok yang lewat, ya?" Aku mulai mengeluh sewaktu tiba di perbatasan kabupaten Magelang dan Muntilan, namun tetap waspada.
Dari arah kanan jalan, tiba-tiba angin berembus kencang sehingga memengaruhi keseimbangan sepedabalapku. Aku merasa seperti seekor semut yang sedang berjalan di ranting pohon tua, benar-benar harus ekstra hati-hati. Sayangnya, kekuatan angin itu bertambah dua kali lipat setelah ada bus dari arah belakangku melaju dengan kecepatan kencang, namun aku sudah cukup berpengalaman dengan insiden semacam ini dan tetap tenang sambil membungkuk lebih dalam, mengambil "race position". Dalam hati ingin menyumpahi bus gila tadi, namun aku malah tertawa terbahak-bahak setelah berada di belakang sebuah truk yang bertuliskan: JANGAN DINIKAHI BILA "SEGEL" RUSAK
Sekarang, aku malah berbicara dengan angin, menyampaikan pesan melalui gelombang-gelombang elektromagnetik tak kasat mata yang kutiup-tiup menggunakan mulut. Aku manusia dan aku tak bisa hidup tanpanya, tetapi polusi kendaraan bermotor merusak keceriaan kami dan membuat napasku terasa sesak. Kemudian aku menutup mulut dan hidungku menggunakan masker, dan sesekali aku berteriak-teriak sendiri untuk menyulut api semangat dalam jiwaku yang mulai memudar karena lelah, sekaligus untuk meyakinkan diriku bahwa walaupun aku sendirian, aku tetap menemukan kebahagiaan dalam diriku sendiri.
"Lightning, ayo tunjukkan pada para pengguna jalan seberapa cepat dirimu," kataku, sambil menoleh ke arah belakang, memastikan semuanya dalam keadaan aman. Aku juga mengubah pengaturan grupset menjadi down-shifting sampai sprocket paling kecil, lalu chainring depan up-shifting ke chainring besar.
Aku memacu pedal lebih keras sewaktu tiba di perbatasan Muntilan, Jawa Tengah – Daerah Istimewa Yogyakarta, sepertinya mencapai top speed 40 km/jam selama beberapa detik, membuatku menyalip beberapa motor dan mobil yang berjalan lambat. Ada kebanggaan tersendiri sewaktu menyalip mereka dari arah kanan, meskipun hal itu sangat membahayakan. Namun, aku tidak pernah takut dengan kehidupan di jalanan. Aku memilih kehidupan di jalanan untuk menjalankan hobi yang kutekuni. Dan siap atau tidak siap, aku mengerti betul risikonya.
Jalanan itu memiliki kehidupan yang keras, dan ada kalanya, rasanya begitu sukar. Aku tak tahu banyak tentang kehidupan di jalanan, tapi aku tahu bertahan hidup di alam bebas jauh lebih sulit daripada di jalanan. Dan aku juga tahu betapa penting dalam hidup bukan untuk menjadi kuat, tapi untuk merasa kuat, untuk mengukur kemampuan diri sendiri setidaknya sekali saja seumur hidup, agar kita merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang kurang beruntung; menghadapi kekerasan dan ketidakadilan, tanpa apa pun dan siapa pun yang membantu, kecuali usaha untuk terus bertahan hidup. Itu bagaikan perjuangan meraih kemerdekaan dari penghianat bangsa.
• Playlist berganti: Michael_Learns_To_Rock_Thats_Why
Setelah cukup lama menikmati awal perjalanan yang menyenangkan sekaligus menakutkan, aku tiba di kota Yogyakarta pada pukul 09.23 WIB. Kemudian, aku langsung menuju landmark kota dan meminta bantuan seseorang untuk mengambil gambarku di tugu Yogyakarta dengan bangganya.
Tak peduli sekarang atau dulu, foto adalah hal terpenting yang membuktikan kesuksesan perjalanan seseorang. Orang-orang di Indonesia begitu bangga memamerkan foto-fotonya di puncak-puncak gunung, pantai-pantai yang terkenal, hingga tempat-tempat yang jarang diketahui publik.
Harus kuakui bahwa kesadaran menulis dan berbagi informasi tentang kegiatan di alam bebas di negeri ini masih minim sekali. Mayoritas orang Eropa dan Amerika suka membagikan kisah perjalanannya di internet, tanpa diminta, tanpa mengharapkan pujian, mungkin dengan begitu cara mereka berterimakasih kepada si penulis artikel di internet, karena jauh-jauh hari sebelum perjalanan dimulai, mereka sudah memperoleh informasi tetang destinasi wisata yang ingin dikunjungi.
Sebagai seorang penulis yang menyukai kegiatan outdoor, tentunya aku ingin menulis tentang keindahan alam Indonesia; Wakatobi, Raja Ampat, Cartenz Pyramyd, lalu mengabarkannya pada dunia. Selagi cara berpikirku masih kekanak-kanakan, selagi otakku belum hancur total karena “belenggu cinta liar” wanita-wanita cantik dari Eropa dan Amerika, setidaknya aku masih bermimpi, walaupun sampai mati hal itu takkan pernah terealisasi karena biaya perjalanan yang mahal. Ya, aku tidak punya uang yang cukup untuk mengeksplor ikon-ikon pariwisata bumi pertiwi itu. Aku juga tidak pandai mencari sponsor untuk membiayai perjalananku. Memangnya siapa aku? Tidak akan ada yang peduli.
Cerita berlanjut ketika beberapa orang yang berlalu-lalang di trotoar jalan raya Solo terlihat memperhatikanku dengan seksama. Setiap ada cowok yang memperhatikanku, aku mengalihkan pandanganku sambil mengembuskan napas keras-keras, mengirim pesan padanya bahwa aku tidak menyukainya. Begitu yang memperhatikanku seorang cewek, aku merapikan kacamata dan helmku supaya terlihat center, gestur yang berarti menebar pesona dan pura-pura jual mahal. Namun, ketika yang memperhatikanku adalah seorang bencong, aku langsung tancap gas. Kemudian aku menyimpulkan bahwa seseorang yang mengendarai sepeda balap sambil mengenakan helm sepeda gunung dan daypack 30 liter dengan style casual itu absurd. Namun aku merasa bertambah ganteng. #EhemHmm
Siang itu aku merasa kalau aku adalah orang paling bebas di dunia. Aku merasakan hari itu, seperti hatiku terisi penuh. Aku tidak ingin kehilangan perasaan ini. Aku merasa seperti memerankan tokoh utama dalam sebuah film. Aku ingin bernyanyi, aku ingin menari, aku ingin menggila di jalanan, pokoknya aku ingin begini-begitu, dan masih banyak yang lainnya.
Kemudian, aku mengayuh pedal lebih keras, melihat jauh ke arah depan.
Sebuah perjalanan yang masih jauh.... sebuah perjalanan yang sulit? Membuatku jauh lebih bersemangat saja.
• Playlist penyemangat perjalan ini: YOU_ARE_THE_APPLE_OF_MY_EYE_OST_04_SYNDROMES_AND_A_CENTURY
Sudah kuperhitungkan apa saja kesulitan yang akan kuhadapi, dan harus kuakui bahwa aku memang bukanlah seorang cyclist sejati untuk tour de Lombok ini, tapi inti dari perjalananku adalah spiritual, olahraga, dan menikmati alam. Aku berpikir bahwa orang gagal sepertiku harus mengubah duniaku sendiri dan melakukan hal-hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.
"Cerita perjalanan ini tak seharusnya kuhabiskan dengan berimajinasi," ujarku sambil mendengus.
Selalu ada awalan dari setiap hal, tak terkecuali dalam hal bersepeda. Sebelum aku memilih bersepeda, mendaki gunung, ataupun backpackeran menjadi hobiku dan memiliki sedikit pengalaman karenanya, aku pernah mengalami fase "alay". Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin serius aku mendalami hobi-hobiku, aku selalu belajar dari orang-orang hebat yang kutemui di internet.
Di awal tahun 2017, aku membeli sepeda balap Polygon Helios 200 bekas rasa baru dari seorang keturunan Tiongkok asal Solo. Pengalaman pertamaku mengendarai sepeda balap pun langsung kuimplementasikan dari Solo-Magelang, sekitar 100 km lebih sedikit. Pengalaman pertama itu semakin berkesan karena aku mengendarai sepedaku sambil diiringi hujan lebat dari Yogyakarta sampai Magelang sepanjang sore hingga malam hari. Kemudian, sesekali aku suka mengendarainya bepergian ke Semarang-Salatiga-Temanggung-Magelang-Purworejo-Yogyakarta-Klaten.
Kalau ditelusuri rekam jejakku sewaktu kecil, aku dari dulu memang seorang pesepeda. Saat berusia 8 tahun, aku sering mengendarai sepeda BMX-ku menuju Kali Bening; itu sebabnya aku jago berenang. Saat SMP, aku dan teman-teman kampungku suka bersepeda bersama ke stadion Sasana Krida, sungai Elo, dan menjelajah hutan kecil di sekitar sungai tersebut. Kemudian, saat SMA, aku membeli sepeda gunung Polygon Lerun dan mengendarainya ke sekolah dan ke tempat-tempat wisata disaat aku mulai frustrasi. Mottoku adalah "Lambat asal selamat atau cepat dengan hati-hati". Itu bukan motto resmiku, tapi sudah pasti aku selalu mengimpletasikannya.
Sekarang, kembali ke titik yang mendorongku melakukan perjalanan ini: Aku tidak punya teman. Biarlah aku mengatakannya lebih jelas, karena tidak ada yang akan percaya bahwa kisah perjalanan ini akan bermanfaat bagi orang lain. Dan untungnya aku tidak. Aku punya cinta orangtua dan adik yang bekerja di Jepang, dan ada beberapa teman lamaku yang bisa kutelepon, tapi sepertinya mereka juga meremehkan semua karya-karyaku.
Aku ingin mengenal diri sendiri; bagaimana aku bisa berdamai dengan diriku sendiri agar bisa menikmati hidup dengan tenang. Tentu saja aku mengambil risiko dengan perjalananku yang sendiri ini, tapi aku mampu menemukan teman dalam buku, film, atau game yang aku sukai. Aku menyukai novel Into The Wild karya Jon Krakauer, yang juga penulis Into Thin Air, begitu juga dengan kedua film itu, aku menyukainya, terutama karakter Christopher McCandless. Selain itu, aku juga menyukai film The Way Back, As Far As My Feet Will Carry Me, dan film-film sejenis yang melarikan diri dari penjara, lalu bertahan hidup di alam liar. Jadi, akan sangat memalukan bila aku mengeluh karena biaya perjalananku yang terbatas.
Meskipun aku menganggap perjalanan ini sebagai petualangan, namun aku tidak bermaksud membuktikan apa-apa atau menaklukan apa pun kepada siapa pun. Sebenarnya aku hanya bosan dengan rutinitas sehari-hariku. Dan aku juga sudah lelah dengan masa depanku.
Aku sudah mencari teman perjalanan di grup facebook pecinta sepeda dan komunitas para petualang, namun karena ini perjalanan yang cukup melelahkan; butuh fisik yang prima, uang yang tidak sedikit, dan waktu yang lama, jadi aku mengurungkan niat tersebut. Single fighter; itu lah status perjalanan seorang pria pesepedabalap.
Aku berhenti sejenak di emperan toko sambil melepas ponsel dari bracket yang menempel di kokpit Lightning. Kemudian, membuka menu ponsel dan mencari suatu daftar yang kusebut "Catatan Perjalanan" di Microsoft Word untuk mempermudah mencari informasi yang telah kukumpulkan.
"Lanjutkan! Ini layak untuk para pemenang." Aku menyemangati diri sendiri.
Sekitar 10 kilometer menuju kota Klaten, aku melewati jalan panjang yang sedikit rusak dan bergelombang. Cuacanya sangat panas, berbeda dengan jalan Magelang-Yogyakarta yang lumayan sejuk. Hal itu disebabkan karena musim panas tahun ini berlangsung basah. Setidaknya itulah yang dikatakan BMKG. Keringat pun mulai bercucuran di kening hingga leherku. Seluruh badanku, terutama bahu, pinggang, dan bagian pantat terasa nyeri. Mungkin karena beban daypack-ku yang cukup berat. Penderitaanku tak sampai di situ, asap hitam kendaraan bermotor tua yang sudah tak layak jalan membuat napasku sesak. Kemudian, ketika aku menoleh ke belakang untuk menambah kecepatan dan memastikan tidak ada kendaraan yang membahayakan keselamatanku, tiba-tiba aku seperti melihat bayang-bayang wajah teman lamaku yang suka meremehkanku. Dengan tawanya yang tanpa dosa, ia mengejekku lagi. "Dasar bodoh! Pulanglah! Semua ini tak ada gunanya. Kau hanya membuang-buang waktu produktifmu. Aku jamin ketika sudah tua nanti kau akan menyesal karena tidak bekerja keras selagi muda. Kau akan hidup susah di masa tuamu. Go home....!!!"
Sungguh, perkataan itu sangat menyakiti hatiku. Aku mulai berpikir dan sedikit menyesal telah mengayuh sepeda sejauh ini. Namun, sewaktu aku kembali mengalihkan pandanganku ke depan, bayang-bayang wajah Mulan yang menggemaskan mampu menyejukkan hatiku. Sebelum aku sempat tersenyum padanya, ia mengedipkan matanya padaku dan berkata, "Eri, ayo semangat. Aku menunggumu di puncak Rinjani."
Mendengar perkataan itu, suasana hatiku yang sudah sejuk tiba-tiba saja bersalju; beku. Karena membeku, aku tidak bisa berkata apa-apa. Kemudian, wajah Mulan menghilang perlahan dan menghembus ke angkasa. Aku berusaha mencarinya, melempar arah ke awan dan langit biru, namun pupil mataku mengecil sewaktu beradu pandang dengan matahari. Sinar ultravioletnya membuat air mataku keluar; pedih. Namun, sewaktu aku melihatnya dengan seksama, matahari itu seakan berubah menjadi matahariku; Aulia. Hatiku yang bersalju pun dengan cepatnya meleleh, kemudian mencair, bersatu dengan urine.... dan tiba-tiba aku kebelet pipis. Kemudian, aku mencari semak-semak belukar.
“Apa pun yang aku lakukan, aku selalu berjuang menemukan cara untuk menang.” Aku menepuk-nepuk dadaku seperti kingkong, sambil mengarahkan ‘senjata masa depanku' ke atas, sehingga membuat air seniku menyerupai air mancur. Dasar kekanak-kanakan!
Aku melanjutkan perjalanan lagi, namun hanya berselang 10 menit, tiba-tiba badanku hampir drop, rasanya seperti mau pingsan. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini, benar-benar selama bersepeda, baru kali ini aku nyaris tak sadarkan diri. Demi kebaikanku, aku mencari tempat untuk beristirahat. Lalu, minum air putih, dan memakan beberapa kurma. Namun, pikiranku tetap buntu, lidah terasa pahit, air liur rasanya seperti air putih yang kental, bawaannya ingin muntah-muntah. Aku berpikir keras dan menganalisa penyebabnya: masalah yang paling krusial adalah beban di daypack-ku. Bersepedabalap sambil membawa beban daypack 7-8 kg benar-benar menguras stamina. Aku akan mencari solusinya, selalu ada jalan keluar.
Aku tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan kondisi fisik yang seperti ini. Aku akan kalah taruhan, namun itu tidak penting, sebab aku tidak diwajibkan membayar sepeser pun pada teman SMA-ku, hanya saja aku harus mengucapkan “say good bye” kepada wanita-wanita di nightlife spa (++).
Sekarang, aku hanya ingin duduk dan memejamkan mata sambil memeluk daypack-ku. Dan hanya itu yang kulakukan selama hampir satu jam. Aku benar-benar kecewa pada diri sendiri, karena tidak bisa sampai di kota Mataram sesuai target.
“Nikmati saja perjalananmu, Eri!” batinku, masih memejamkan mata, hingga....
• Playlist di ponsel pintarku memutar lagu ciptaanku sendiri: MENCINTAIMU
Yup, lagu ini adalah lagu ciptaanku sendiri yang kudedikasikan untuk masa remajaku di SMP Secang bersama Mulan dan Aulia. Dan sejujurnya, aku sama sekali tidak mengerti tangga nada, karena aku benar-benar tidak pernah serius belajar di kelas musik. Namun, cinta memang bisa membuat orang biasa menjadi seorang pujangga.
Aku mencintai dirimu, walau kau tak pernah tahu....
Aku merindukanmu dan memikirkanmu di setiap hembus napas hidupku....
Mencintaimu....
Andai aku teringat akan dirimu....
Dirimu yang selalu ada di setiap hidupku....
Aku tak tahu mengapa aku ragu, mengatakan kucinta padamu....
Mencintaimu....
Aku mencintai kamu, menginginkan dirimu, menjadikanmu ratu di hatiku selalu....
Meski kau tak pernah tahu apa isi di hatiku....
Aku bahagia dengan caraku....
Mencintaimu....
Itulah beberapa bait lirik lagu karyaku. Lirik lagu itu diaransemen dan dinyanyikan oleh temanku yang bernama Zobi, sebab suaraku benar-benar fals. Bagaimanapun juga, Zobi bilang padaku bahwa lagu pertamaku itu termasuk "easy listening". Aku ingin memberitahu pembaca lagu ciptaanku yang kedua, tapi sebelum aku dapat melanjutkannya, aku ingin menceritakan beberapa hal tentang masa remajaku. Tidak akan lama.
Aku akan memulai sewaktu musim kemarau tahun ajaran baru 2005-06.
Di kelasku, 2B, ada dua gadis berpostur tubuh proporsional bernama Mulan dan Vida yang berhasil memikat hatiku. Lalu, di kelas sebelah, 2A, ada primadona sekolahan bernama Aulia yang diincar cowok-cowok mata keranjang satu sekolah. Mulan sangat pendiam, sedangkan Vida terlihat begitu dingin, sementara Aulia sedikit supel. Ketiga gadis itu berkepribadian baik; mereka cukup pandai.
Di antara mereka bertiga, Aulia adalah hal terindah yang paling aku inginkan. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya saat mengikuti masa orientasi siswa. Sejak saat itu, aku memplokamirkan diri menjadi pengagum rahasianya selama setahun. Kantin dan perpustakaan sekolah adalah satu-satunya waktuku bersamanya. Aku menyukai wajahnya, bibirnya, matanya yang tajam, postur tubuhnya yang langsing dan singset, juga rambut hitam pekatnya yang dikucir kuda. Namun, aku tak pernah sekali pun mempunyai keberanian untuk berbicang-bincang dengannya, atau menyapanya ketika kami berpapasan. Aku hanya berani memandanginya dari kejauhan, dan ia pun sering memergokiku hingga terlihat tidak nyaman dengan sikapku itu. Setiap kali terpergok, wajahku langsung merah padam, lalu memasang tampang angkuh untuk menutupi rasa maluku. Rasa sukaku yang sangat besar dan murni pada Aulia saat itu membuatku melupakan Mulan dan Vida selama beberapa minggu, namun aku tetap menjadi pengamat yang baik bagi kedua teman sekelasku itu.
Kemudian, seiring berjalannya waktu, aku mengetahui kalau Aulia adalah anak orang kaya, begitu juga dengan Mulan dan Vida. Hal itu seakan menggerogoti semangat dan mentalku secara perlahan, layaknya sel kanker yang tumbuh di organ dalam manusia.
Saat itu aku masih polos dan aku selalu berpikir bahwa untuk mendapatkan gadis idaman, ada tiga opsi yang bisa direalisasikan: Pertama harus kaya. Atau orang tuanya harus kaya. Dan yang terakhir, tak peduli siapa yang kaya, terpenting uangnya bisa kau sikat seenak jidat.
Sungguh, betapa naifnya aku yang dulu. Ketiga opsi itu hanya berlaku bagi gadis bodoh yang otaknya sebodoh aku. Kemudian, setelah rajin membaca novel cinta dan menonton film Bollywood, aku tidak pernah menghakimi bahwa semua wanita seperti itu. Pemikiranku hanya menandakan kalau aku iri terhadap orang kaya.
Kemudian, memasuki semester genap, seorang cowok bertampang standar dan bermental baja menyatakan perasaannya pada Aulia. Gadis berpredikat primadona sekolahan dan anak emas para guru yang, mungkin, saat itu ingin berpacaran, menerimanya begitu saja.
Ketika aku patah hati karena Aulia, Mulan dan Vida membuat suasana hatiku semakin kacau. Mulan diam-diam menyukai Aliando, cowok tertampan satu sekolah, yang juga teman sekelasku. Sebenarnya level ketampananku dengan Aliando nyaris sama, yang membedakan adalah Aliando sangat bersih dan wangi, serta selalu memakai barang-barang berkelas, sementara aku kebalikannya. Cewek mana yang tidak mau dekat-dekat dengan Aliando, apalagi sikapnya yang menarik hati dan gayanya yang cukup misterius? Dan hal itu diperparah dengan kelakuan cowok-cowok mata keranjang di kelasku yang berlomba-lomba memperebutkan perhatian Vida.
Aku yang sebenarnya adalah murid yang baik, mulai berubah menjadi anak nakal; suka membolos, tidak mengerjakan PR, mulai belajar merokok dan minuman keras, meskipun pada akhirnya aku tidak cocok dengan hal-hal berengsek itu. Aku yang saat itu bercita-cita menjadi pesepak bola profesional tentu mengerti bagaimana cara menjaga kebugaran fisik.
Namun, masa-masa suram itu tak berlangsung lama karena Riyu dan Agung yang merupakan teman baikku saat itu berhasil menghiburku dengan cara mengajakku bermain playstation 2 di rental playstation langganan kami, usai jam sekolah berakhir.
Riyu adalah ketua geng kami dan juga sahabat karibku sejak SD. Di kelas ini, ia dikenal sebagai anak bermasalah. Ia sering memperjual-belikan barang-barang ilegal sehingga sering terlibat dalam masalah dan selalu menolak untuk mengikuti setiap aturan. Dia selalu membanggakan prestasinya sebagai satu-satunya murid di SMP Secang yang pernah masturbasi di kelas saat pelajaran berlangsung. Wow.... sangat sensasional, bukan? Apalagi dia pernah bilang padaku bahwa suatu hari nanti dia ingin menjadi pemain bokep profesional yang bisa go internasional. Duh, ada-ada aja ya temanku itu.
Sementara Agung adalah teman sebangku-ku yang sangat menyukai game dan sepak bola. Setiap minggu sekali dia selalu membeli tabloid game dan sepak bola terbaru, kemudian meminjamkannya padaku untuk dibaca di rumah agar kami bisa sama-sama mempraktekkan trik-trik terbaru pada permainan playstation 2 ataupun membahas berita terbaru tentang sepak bola. Aku dan Agung sama-sama suka membaca tabloid sepak bola. Temanku yang otak baiknya terkontaminasi virus mesum dari Riyu itu menjadi lebih ramah dan lebih mudah diajak bicara, kalau dia sedang mencerna setiap informasi dari liga-liga top Eropa.
Riyu tahu kalau aku menyukai Mulan, meskipun aku tidak pernah mengatakan apa pun padanya. Sedangkan aku tahu Agung menyukai Mulan meskipun ia tidak pernah mengatakan apa pun padaku. Aku dan Agung pun juga tahu kalau Riyu sering berpikiran jorok tentang Mulan, itu karena Riyu menyukai semua siswi di sekolah, bahkan beberapa guru kami yang masih muda juga menjadi korban imajinasi liarnya. Meski begitu, persahabatan kami tetap "menggila" setiap hari.
Suatu hari saat jam istirahat kedua, menjelang ibadah shalat dzuhur, Mulan dan teman-teman baiknya berada di teras mushola sekolah. Kesempatan ini tidak ingin aku sia-siakan. Aku berdoa dalam hati bagaimana caranya bisa berkenalan dengannya tapi dengan cara yang berkesan, supaya ia bisa terus memikirkanku. Aku harus nekat jika ingin berteman dengan murid perempuan. Tiba-tiba terlintas di pikiranku ketika melihat Mulan melepas sepatunya dan memasuki mushola. Aku ingat baik-baik sepatu milik Mulan, kemudian ketika ia sudah berada di dalam mushola, aku mengotori alas sepatuku dengan lumpur dan membagikannya dengan sepatu Mulan. Lalu aku meletakkan sepatuku di samping sepatunya. Ini sedikit kejam tapi aku harus tetap fokus pada tujuanku, hehehe.
Begitu shalat berjamaah selesai, Mulan sudah menungguku sambil memasang muka cemberut.
“Ini sepatumu, ya?” Mulan bertanya sambil memaksakan senyum.
"...Hm..." Aku sedikit takut, tapi juga merasa senang, kemudian langsung duduk di lantai sambil memakai sepatuku. "Memangnya ada apa?"
“Lain kali kalau mau masuk mushola lihat-lihat dulu, ya? Apa sebelumnya kau tidak melihat ketika mau masuk? Ini pasti dari sepatumu, kan? Soalnya sepatu yang lain pada bersih.” Mulan berkicau seperti guru killer wanita yang sedang menstruasi, namun perkataanya sangat lembut sehingga membuatku semakin percaya diri.
"Oh, soal itu. Aku minta maaf, benar-benar tidak sengaja." Sampai di sini aku harus menunjukkan pada Mulan bahwa aku adalah sosok lelaki yang bertanggungjawab. "Memangnya berapa ukuran sepatumu? Nanti aku ganti," seruku meyakinkan, meskipun aku tidak punya uang.
“Tidak perlu. Tapi tolong bersihkan saja karena sebentar lagi jam istirahat selesai." Mulan terlihat bete.
Tanpa membuang-buang waktu, aku menuruti permintaanya dan lansung berlari ke kamar mandi mushola. Tidak sampai limat menit aku pun kembali sambil memasang muka dingin. "Sudah bersih. Kau hanya perlu menunggu sebentar supaya kering."
"Terima kasih." Mulan mengambil sepatunya dan duduk di lantai.
“Habis ini ada pelajaran apa?" Aku iseng-iseng bertanya.
“Pendidikan Kewarganegaraan," jawabnya simpel, sesimpel teks proklamasi.
“Hm, jawabannya gitu banget. Sekali lagi aku minta maaf dan izinkan aku mengganti sepatumu."
“Sudah kubilang tidak perlu," katanya. "Sudah dulu, ya? Kelihatannya sepatuku sudah kering." Ia bergegas menuju kelas.
“Oke, baiklah." Hatiku serasa berbunga-bunga, sok cool, padahal jatung serasa mau meledak ketika mengobrol dengannya.
Aku akui jika aku tak terlalu memperhatikan Mulan saat pertama kali melihatnya. Tampaknya angin puting beliung pun tak bisa membuat tubuhnya terhempas. Itu lah kesan pertamaku terhadap dirinya. Dan sekarang aku bisa mengerti kenapa banyak murid laki-laki menghormati Mulan. Dia memiliki ketenangan.... cara berjalan dan bertutur kata yang tak biasa, meskipun dia sedang berada dalam situasi genting. Ya.... kurasa tidak ada salahnya kalau aku mulai menyukainya sejak saat itu.
Namun, sampai pada titik ini, konflik batinku pada Mulan tetap bergejolak antara sadar diri dan suka. Hingga pada akhirnya, rasa suka itu mampu mengalahkan rasa pesimis akan kekuranganku.
Keesokan harinya, saat jam pelajaran pertama, aku berusaha meminta maaf pada Mulan dengan cara menulis rasa penyesalanku atas kejadian kemarin di secarik kertas yang kuremas-remas menyerupai bola tenis, lalu melemparkannya pada Mulan yang duduk di deret berbeda dari tempat dudukku. Tempat duduk kami menyerupai garis miring segitiga sama siku— Mulan berada di sisi atas, sedangkan aku berada di sisi bawah. Bola kartasku meluncur deras hingga mengoyak rambutnya. Seolah tak terima dengan lemparanku yang mengenai rambut lebat sebahunya, Mulan membalas tulisanku dan melemparkan bola kertas itu padaku dengan kecepatan tinggi, namun aku bisa menangkisnya dengan satu tangan. Kemudian, perang bola kertas antara aku dan Mulan pun tak terhindarkan lagi.
Tulisan tangan Mulan sangat ramping seperti kebanyakan cewek pada umumnya, tapi jika dibandingkan dengan tulisan tanganku, jelas tulisanku sedikit lebih baik, karena tulisan tanganku memiliki ciri khas tersendiri dan yang lebih menakjubkan lagi adalah karena tulisanku pernah dipuji oleh guru bahasa Indonesia tercantik di sekolah. Hal itu menjadi cikal bakal rasa cintaku terhadap bahasa Indonesia.
Dialog di selambar kertas:
Maafkan aku.
Tidak ada yang perlu dimaafkan.
Tapi, aku tetap harus minta maaf.
Sudah kubilang tidak perlu.
Sekali lagi maaf.
Kalau begitu, kenapa kau tidak mentraktirku makan siang di kantin saja? Aneh juga melihatmu terus-terusan merasa bersalah seperti itu padaku.
Tanpa kusadari, saat itu juga seakan ada bunga-bunga yang mulai bermekaran dalam hatiku.
Setelah bel istirahat pertama berdering, aku langsung meminjam uang pada Agung, lalu menemui Mulan di kantin. Mulan memesan soto kampung dan es jeruk, aku juga melakukan hal serupa. Ini pertama kalinya aku dan Mulan duduk semeja. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, tapi aku tahu bagaimana tetap tampil setenang mungkin.
Sejak hari yang berkesan itu, aku dan Mulan mulai saling mengenal satu sama lain, dimulai dari hal-hal sederhana; pulang sekolah bersama. Itu pun aku harus kucing-kucingan dengan Riyu dan Agung, agar mereka tidak curiga kalau anggota gengnya yang paling tampan ini sedang berusaha meluluhkan hati bunga sekolah.
“Hei, kalau boleh tahu, kenapa kau tidak pernah serius belajar di kelas?” Mulan membuka obrolah sewaktu kami berjalan pulang di tepi jalan raya. Aku di sebelah dalam, Mulan di sebelah luar, buat jaga-jaga kalau tiba-tiba ada kendaraan bermotor yang oleng ke arah kami, aku bisa menyelamatkan Mulan dari kematian, atau minimal aku yang mati lebih dulu.
“Maksudmu aku pemalas?” Aku tidak terkejut.
“Bukan aku yang mengatakannya.” Mulan menengadahkan telapak tangan sambil menjulurkan lidahnya. “Tapi aku percaya kalau kau sebenarnya murid yang pintar. Asal mau belajar dengan tekun, kau pasti terhindar dari kelas tambahan.”
Kelas tambahan adalah kelas di luar jam sekolah bagi murid-murid kurang berprestasi pada ujian akhir bulan. Aku, Riyu, dan Agung adalah penghuni abadi kelas neraka itu.
“Apa ini semacam perhatian darimu?” Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Tidak, Eri!”
“Itu jawaban yang tidak relevan.”
“Terserah!”
“Kalau begitu, aku akan belajar dengan baik.” Aku kembali menjawab.
Beginilah obrolan kami, topik yang awalnya ringan-ringan saja seolah berubah menjadi “aku harus mengubah hidupku”.
Sejujurnya, melihat seorang murid perempuan yang menjadi salah satu primadona sekolah memberikan perhatian lebih padaku seperti ini tidak membuatku senang. Aku malah merasa canggung dan sedikit malu.
Aku melihat Vida dan teman-teman dekatnya mendahuluiku dan Mulan. Tak disangka, beberapa cowok berotak mesum di kelasku melakukan kecurangan supaya bisa terus mendapatkan perhatian Vida. Dasar bajingleng, kalau saja aku bisa bermuka tebal seperti mereka, mungkin akan sedikit lebih baik.
• Playlist favoritku ketika mengenang lembali kisah ini: YOU_ARE_THE_APPLE_OF_MY_EYE_OST_13_ONE_IN_A_MILLION
Mulan tinggal di kecamatan Kranggan, kabupaten Temanggung, tempat yang cukup jauh dari sekolah. Setiap hari ia menaiki bus mini jurusan Temanggung-Magelang dan berhenti di pasar Secang, bukan halte sekolahan. Kemudian ia berjalan kaki sejauh 1 kilometer menuju sekolah. Sebelum pukul tujuh pagi, biasanya ia sudah duduk manis di bangkunya sambil membaca novel atau tabloid remaja.
Hal ini sangat berbeda denganku yang setiap hari harus berjalan sejauh 3 kilometer dari rumah sampai sekolah, sehingga membuatku sering terlambat. Namun, sejak Mulan dan aku mulai akrab, aku berusaha bangun pagi dan stanby di pasar Secang lebih awal supaya bisa menemaninya berjalan sampai kelas.
"Eri, kemarin kau menonton sinetron Preman Kampus? Roger Danuarta yang memerankan tokoh Galang keren sekali, ya...." Di suatu pagi yang sejuk Mulan membuka obrolan dengan riang. "Rambutnya gondrong tapi sangat rapi," lanjutnya.
Huh, sebenarnya aku malas sekali meladeni cerita Mulan jika sudah membahas soal cowok lain yang lebih keren dariku. Namun aku mengerti kalau cewek itu punya sifat narsis, lebih suka berbicara daripada mendengarkan. Jadi, aku sering memandangi wajah Mulan sambil memasang wajah serius agar terlihat seperti pendengar yang baik, dan Mulan akan lebih bersemangat menyelesaikan ceritanya. Dalam hati ingin sekali menggigit pipinya yang kenyal sewaktu ia sudah memuja-muja idolanya itu. "Ya.... Ya.... Ya.... Tapi kalau soal gondrong-gondrongan masih lebih keren Francesco Totti."
"Siapa itu Francesco Totti?" Mulan begitu penasaran.
"Pemain sepak bola asal Italia yang bermain untuk AS Roma di Liga Italia Serie A."
"Hei, kita sedang membahas sinetron, kenapa bisa sampai sepak bola?" Mulan terlihat sewot.
"Sinetron itu identik dengan cewek, sedangkan sepak bola itu sangat maskulin. Kalau cowok suka sinetron, berarti dia kecewek-cewekan. Bahasa kasarnya banci." Nada bicaraku yang tinggi terkesan menyudutkan Mulan.
"Jadi kau menganggapku banci?" Mulan langsung salah paham. Sebelum aku sempat memberi penjelasan padanya, ia malah memukul-mukul bahuku sambil marah-marah manja.
Kalau Mulan sudah jengkel memang seperti itu; sifat aslinya keluar, dan obrolan kami jadi sering tak terkendali sampai akhirnya bertengkar. Aku dan dia memang tidak bisa menjadi teman baik.
Meskipun aku sudah memiliki Mulan yang kusukai, tetapi aku sendiri masih bingung dengan perasaanku pada Vida dan Aulia.
Apakah aku adalah orang yang rakus? Tentu saja tidak, karena saat itu aku dan Mulan tidak memiliki komitmen apa pun.
Sisa semester genap berlangsung indah hingga ujian kenaikan kelas berakhir, sebelum kami berpisah di kelas tiga.
#KembaliKeCeritaUtama
Saat ini aku sedang bingung. Apakah melanjutkan perjalanan atau berhenti di Klaten? Kebetulan aku memiliki saudara sepupu di kota Klaten. Namun, jika aku memaksakan diri sampai di Sragen, besar kemungkinan sebelum sampai di kota Solo pun aku pasti tumbang.
Akhirnya, kuputuskan akan bermalam di rumah saudaraku. Setelah kondisi tubuhku sedikit membaik, aku pun melanjutkan perjalanan menuju Klaten.
Hal yang paling kusukai saat menginap di rumah saudaraku adalah sambutannya yang hangat, jamuan makanannya yang sederhana namun penuh cinta, kemudian diajak jalan-jalan menikmati suasana di kota Klaten. Dan kunjungan mendadakku ke rumah saudaraku saat ini pun mengalami siklus yang serupa. Perbedaanya adalah, setelah makan malam sederhana, hujan turun. Aku memutuskan bersantai di kamar saudaraku sambil melanjutkan menulis cerita ini. Nyamuk di rumah saudaraku sangat ganas pada malam hari hingga memaksaku mengambil kupluk dan jaket dari daypack-ku.
Sebelum tidur, aku mengecek ulang daftar barang-barangku:
• Lightning beserta tools sepeda, 2 pasang ban dalam, 1 botol Tupperware dan 1 botol sepeda sudah aman jaya.
• Peralatan mendaki gunung: Aku tidak membawa terlalu banyak peralatan pendakianku karena itu sangat tidak memungkinkan, selain jaket waterproof, jas hujan Axio, zippo TNI (kuningan), tali prusik sepanjang 7 meter untuk membuat shelter menggunakan flysheet, headlamp, dan alat-alat survival kit (peluit, pisau, peralatan pancing, benang, jarum, fire stater, selotip, dan lain sebagainya). Meski begitu, aku berencana untuk menyewa peralatan pendakian di Sembalun.
• Pakaian: dua kemeja flanel lengan panjang, satu kemeja formal warna hitam, tiga kaos singlet, dua celana pendek doreng militer, satu celana panjang waterproof, 4 boxer celana dalam.
• Gadget dan Elektronik: Xiaomi Mi4, Nokia 105, sepasang powerbank Vivan 10.000 mah dan 4.000 mah, kamera digital Samsung E95, tripot mini attanta dan tongsisnya, jam tangan QnQ black predator.
• Peralatan pribadi: seperangkat alat mandi dan parfum beraroma rosemary (buat jaga-jaga kalau ketemu cewek cantik di tengah jalan, biar dia tidak ilfil dengan bau keringatku sehabis gowes, hehe).
• Makanan: kurma dan beberapa makanan ringan berserat tinggi.
Semua barang-barang itu kumasukkan ke dalam daypack 30 liter Consina Marathon berwarna biru. Berat tas dan isinya sekitar 7 kg. Jika digabung dengan berat sepeda beserta tools dan asesoris yang melekat di framenya menjadi 17 kg. Jika digabung lagi dengan berat badanku, maka totalnya berbobot kurang lebih 84 kg. Hm, sebenarnya itu adalah berat badan ideal bagiku yang bertinggi badan 177 cm.
Namun, aku ingin meninggalkan beberapa barang yang tidak terlalu kubutuhkan di rumah saudaraku, supaya beban daypack-ku sedikit berkurang, dan berharap besok aku bisa menempuh jarak sejauh 150 km lebih.
Ceklist sudah selesai, waktunya tidur. Semoga malam ini tidak ada cewek-cewek cantik dari Eropa dan Amerika yang bergentayangan di mimpiku, soalnya males banget kalau pagi-pagi harus mandi junub. Huh....

Komentar
Posting Komentar