Langsung ke konten utama

Backpacker to Karimunjawa Season IV



Dalam kehidupan ini, ada beberapa hal yang mengalami perubahan dalam sekejap mata. Ada pula beberapa hal yang walau satu juta tahun tidak akan berubah. Namun, ada beberapa hal yang sebelum dimulai sudah ditentukan akhirnya, berusaha pun tidak ada gunanya, bahkan Tuhan pun tidak bisa mengubahnya.

Aku bingung harus memulai cerita ini dari mana? Dari aku? Miranda dan Diana? Akbar atau Bari? Sepasang pasutri muda dari Jakarta yang selalu bertemu dan mengobrol denganku? Mbak Winda, mbak Markonah, atau adiknya mbak Winda? Nona cantik Pekalongan yang berteman denganku selama sailing. Nona cantik penjual tea Thailand dan adiknya yang tak kalah cantik? Pak supir truk kontainer? Kebaikan warga Karimun yang sungguh tulus? Perubahan konsep homestay Pantura milik pak Kul yang membuatku sangat kecewa? Atau cerita tentang Marrie dan Burhan?

Aku sangat kebingungan karena setiap cerita yang berseliweran di otakku berebut ingin ditulis.

Sejak awal, menulis ibarat kedua sayapku. Aku selalu berusaha terbang ke puncak tertinggi, tapi aku juga selalu mengalami kegagalan; jatuh berkali-kali dan merasakan trauma yang berkepanjangan. Lama-kelamaan, sayap-sayap ini perlahan mulai lemah dan patah. Aku seperti burung yang hidup di dalam sangkar. Tidak ada lagi yang penting untukku.

Aku menghirup napas dalam-dalam. Mengumpulkan oksigen dan juga keberanian. Mengatur ritme detak jantungku. Serta mengingat-ingat lagi berbagai karakter yang sudah ketemui sepanjang jalan.

Kemudian, aku ingin menceritakan kisah ini.

Aku sebagai penulis tidak mengerti kisah ini dimulai dari mana. Jika kau berharap cerita yang sedang kau baca ini adalah novel percintaan? Aku sendiri tidak mengerti.

Mungkin kisah utama cerita ini baru akan dimulai dari halaman terakhir tulisan ini. Saat aku dan Marrie mengobrol segala sesuatu tentang Eropa. Tentang harapan dan impianku; tentang Russia dan Elbrus.

Lalu, diam-diam paras cantik dan tatapan Marrie yang tajam dan sungguh tulus padaku berhasil membuaiku, dan membuatku terbelenggu sepanjang jalan.




Apa kau percaya angka sial/ hari sial?

Sebenarnya aku tidak percaya hal-hal semacam itu, tapi entah kenapa, sepertinya raja Setan sedang mempermainkanku.

April lalu, aku berangkat ke Karimun hari Senin. Awalnya semua berjalan sesuai rencanaku. Di kapal, aku dapet nomor cantik dari Evi. Lalu, kita janjian akan sailing sama-sama.

Kemudian, bak Topan Hallyun datang memporak-prandakan satu desa, ponselku jatuh ke laut, mati total, seketika itu juga suasana hatiku hancur berkeping-keping. Aku mengemasi daypack-ku lalu pulang dengan tertunduk lesu.

Magelang, 23 Desember 2019

Aku memutuskan berangkat hari Senin, tanpa memedulikan pengalaman pahit saat itu. Aku berangkat dari rumah jam 02.30 dini hari. Sampai kebuh kopi perbatasan pabrik TKPI, hujan lebat menyambutku dengan meriah. Seolah-olah dia berkata, "Pulang, Bodoh! Pulanglah! Ini bukan hari yang baik." Namun, aku mengacuhkannya.

Di bawah guyuran hujan yang lebat, aku terus melaju. Hujan berhenti di Ambarawa. Kemudian, Ungaran, Semarang, Demak, sampai Jepara, semua berjalan lancar.

Di pelabuhan, pengumuman bahwa motor tidak bisa menyeberang karena kapal penuh muatan seharusnya sudah menjadi sinyal bahwa ini bukan hari yang baik untukku. Namun, aku tetep keukeuh berangkat dan berencana mengirim motor ke Karimun pada hari Rabu.

Selama di Karimun semua berjalan dengan baik, bahkan ketika aku berkunjung lagi ke pantai Ujung Gelam yang terkenal dengan aura mistisnya dan camp di pantai Pokemon yang katanya angker.

Keesokan harinya, hujan turun. Namun sailing tetep lanjut. Selama sailing, aku membawa tas kecilku yang berisi dompet, ponsel, kamera mirrorless, dan kacamata renang. Aku sama sekali belum membuka dompetku: 30 lembar merah.

Ketika ingin melakukan pembayaran; sewa motor, sailing, homestay. Betapa kagetnya aku dompetku hanya berisi 27 lembar merah yang masih tersusun rapi di tempatnya.

Pertanyaan yang sampai saat ini masih menjadi misteri bagiku:

Jika uangku hilang dicuri, kenapa si pencuri hanya mengambil 3 lembar merah saja? Kenapa dia tidak mengambil semua uangku? Kenapa dia tidak mengambil dompetnya sekalian? Pencuri model gini antara "klepto" dan "terdesak".




Mungkin ini adalah camping terbaik yang pernah kulakukan sepanjang hidupku. Pulau yang sepi nan indah, api unggun, ikan gratis dari nelayan Karimun, dan suara-suara merdu hewan-hewan malam di pantai Pokemon ini.

Aku yang mengetahui keberadaan pantai ini, Bari yang pandai memasak, dan Akbar yang pintar membuat api unggun.

Kemudian, Magelang, Jakarta, dan Malang menjadi teman selama di Karimun.

Namun, setelah sekian lama kami bersama, aku merasa, aku lebih suka berjalan sendirian.

Karena sejak pertama kali mengenal dunia backpacker, pada dasarnya aku sudah terbiasa melakukan perjalanan seorang diri. Kebiasaan ini sulit dihilangkan.

Aku hanya takut jika aku terlalu mencintai diriku sendiri.

Mungkin aku akan menghabiskan malam tahun baru di Jogja, kemudian kembali ke Karimunjawa lagi pada awal Januari. Aku masih ingin berenang ke pulau-pulau kecil yang belum pernah aku selami keindahan bawah lautnya.

Detail Biaya Perjalanan:

~ Hari pertama

1. Pertamax 40.000
2. Tiket kapal 95.000
3. Parkir motor 100.000 (Batal dikirim ke Karimun)
4. Makan siang 25.000
5. Mandi 10.000
6. Logistik Camp: 30.000

~ Hari kedua

1. Nasi goreng 30.000
2. Tea 15.000
3. Bensin 10.000
4. Sewa Motor 40.000
5. Tour Laut 125.000
6. Tiket Menjangan Kecil 30.000
7. Homestay 30.000

~ Hari ketiga

1. Sarapan pagi 15.000
2. Tiket kapal 95.000
3. Pocari Sweat dan Air Mineral: 12.000
4. Bakmi Jawa: 15.000

Total biaya: 717.000 - 100.000 = 617.000

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuan Pertama Di Karimunjawa

Balet adalah tarian yang membidik langit. Para penari balet sering melompat tinggi ketika menari, dan lompatan itu akan semakin tinggi. Para balerina berdiri menggunakan ujung kaki, menahan rasa sakit demi menggapai impian-impian mereka yang setinggi langit. Aku tidak tahu banyak tentang balet, namun aku tahu esensi balet terhadap impian yang setinggi langit itu. Dimulai dari hal kecil, sedang, hingga besar. Rintangan, hambatan, dan berbagai masalah yang tak ada habisnya. Namun, semua itu bisa saja dihancurkan dengan mudah oleh seorang balerina ketika menari-nari di atas panggung. Ia menari dan melabuhkan impiannya ke langit, tanpa ada sedikitpun rasa keraguan di dalam hatinya. Rasa-rasanya aku sedang menjadi seorang balerina yang sedang mengejar impian setinggi langit itu. Tak peduli impian itu sedang diincar oleh kamu, dia, mereka, dan mereka. Aku akan terus maju dan berjuang semampuku dengan caraku sendiri. Dan aku hanya akan menyerah jika 'impianku itu se...

Review Singkat Novel Girls In The Dark

Selamat malam, bolehkah saya membuka tema diskusi tentang selera pasar pembaca cewek Indonesia yang berusia pelajar hingga mahasiswi? Saya tertarik menyurvei selera pembaca novel rentan usia tersebut, khususnya pembaca cewek, karena saya rasa cewek-cewek Indo yang hobi membaca jauh lebih banyak daripada cowok-cowok. Perbandingannya mungkin sangat mengerikan. Jadi, menentukan tema tulisan untuk masa kini mungkin akan sangat berpengaruh dengan tema novel yang disukai penerbit dan pembaca cewek itu. Hal ini perlu saya lakukan karena saya rasa sekarang ini menembus penerbit major sangat sulit sekali. Sangat ketat dan sepertinya hanya bisa dilakukan penulis dengan nama besar saja. Penerbit major hanya memilih naskah yang berpotensi meledak di pasaran. Nah, kalau saya perhatikan selera cewek Indo di Wattpad, kebanyakan dari mereka pasti menyukai romance. Tapi, cewek usia pelajar menyukai romance yang bersetting masa SMA atau kuliah. Kalo cewek dewasa atau emak-emak udah beda lagi, ...

Membangkitkan Semangat Menulis Yang Mulai Memudar

Seorang penulis hebat berawal dari seorang pembaca yang hebat. Frasa itu merupakan landasan kuat mengapa aku memilih dunia tulis-menulis sebagai salah satu hobiku, selain sepeda, backpacker, hiking, renang, lari, sepakbola, badminton, dan menghafal nama-nama pornstar dari benua Eropa hingga Amerika. Orang yang hobi membaca punya pemikiran-pemikiran yang berbeda dengan kalian. Pemikiran-pemikiran kami kuat dan brilian; kaum intelek (meskipun sebagian dari kami bukan sarjana). Bukan pemikiran-pemikiran bodoh dan rendahan macam bergosip, mengurusi hidup orang lain, hingga pamer harta dan pencapaian-pencapain yang tidak bermanfaat bagi orang lain. Kemudian, sudah berapa banyak uang yang kuhabiskan untuk membeli buku-buku itu? Itu hanya koleksi buku-buku-ku di lantai bawah, belum di loteng rumah, kamar tidurku. Sebenarnya, bakat menulisku sudah mulai terlihat di tahun 2013, namun aku baru mulai menulis di tahun 2015, dan berhasil menyelesaikan dua naskah novel yang sangat berarti...