Dalam kehidupan ini, ada beberapa hal yang mengalami perubahan dalam sekejap mata. Ada pula beberapa hal yang walau satu juta tahun tidak akan berubah. Namun, ada beberapa hal yang sebelum dimulai sudah ditentukan akhirnya, berusaha pun tidak ada gunanya, bahkan Tuhan pun tidak bisa mengubahnya.
Aku bingung harus memulai cerita ini dari mana? Dari aku? Miranda dan Diana? Akbar atau Bari? Sepasang pasutri muda dari Jakarta yang selalu bertemu dan mengobrol denganku? Mbak Winda, mbak Markonah, atau adiknya mbak Winda? Nona cantik Pekalongan yang berteman denganku selama sailing. Nona cantik penjual tea Thailand dan adiknya yang tak kalah cantik? Pak supir truk kontainer? Kebaikan warga Karimun yang sungguh tulus? Perubahan konsep homestay Pantura milik pak Kul yang membuatku sangat kecewa? Atau cerita tentang Marrie dan Burhan?
Aku sangat kebingungan karena setiap cerita yang berseliweran di otakku berebut ingin ditulis.
Sejak awal, menulis ibarat kedua sayapku. Aku selalu berusaha terbang ke puncak tertinggi, tapi aku juga selalu mengalami kegagalan; jatuh berkali-kali dan merasakan trauma yang berkepanjangan. Lama-kelamaan, sayap-sayap ini perlahan mulai lemah dan patah. Aku seperti burung yang hidup di dalam sangkar. Tidak ada lagi yang penting untukku.
Aku menghirup napas dalam-dalam. Mengumpulkan oksigen dan juga keberanian. Mengatur ritme detak jantungku. Serta mengingat-ingat lagi berbagai karakter yang sudah ketemui sepanjang jalan.
Kemudian, aku ingin menceritakan kisah ini.
Aku sebagai penulis tidak mengerti kisah ini dimulai dari mana. Jika kau berharap cerita yang sedang kau baca ini adalah novel percintaan? Aku sendiri tidak mengerti.
Mungkin kisah utama cerita ini baru akan dimulai dari halaman terakhir tulisan ini. Saat aku dan Marrie mengobrol segala sesuatu tentang Eropa. Tentang harapan dan impianku; tentang Russia dan Elbrus.
Lalu, diam-diam paras cantik dan tatapan Marrie yang tajam dan sungguh tulus padaku berhasil membuaiku, dan membuatku terbelenggu sepanjang jalan.
Apa kau percaya angka sial/ hari sial?
Sebenarnya aku tidak percaya hal-hal semacam itu, tapi entah kenapa, sepertinya raja Setan sedang mempermainkanku.
April lalu, aku berangkat ke Karimun hari Senin. Awalnya semua berjalan sesuai rencanaku. Di kapal, aku dapet nomor cantik dari Evi. Lalu, kita janjian akan sailing sama-sama.
Kemudian, bak Topan Hallyun datang memporak-prandakan satu desa, ponselku jatuh ke laut, mati total, seketika itu juga suasana hatiku hancur berkeping-keping. Aku mengemasi daypack-ku lalu pulang dengan tertunduk lesu.
Magelang, 23 Desember 2019
Aku memutuskan berangkat hari Senin, tanpa memedulikan pengalaman pahit saat itu. Aku berangkat dari rumah jam 02.30 dini hari. Sampai kebuh kopi perbatasan pabrik TKPI, hujan lebat menyambutku dengan meriah. Seolah-olah dia berkata, "Pulang, Bodoh! Pulanglah! Ini bukan hari yang baik." Namun, aku mengacuhkannya.
Di bawah guyuran hujan yang lebat, aku terus melaju. Hujan berhenti di Ambarawa. Kemudian, Ungaran, Semarang, Demak, sampai Jepara, semua berjalan lancar.
Di pelabuhan, pengumuman bahwa motor tidak bisa menyeberang karena kapal penuh muatan seharusnya sudah menjadi sinyal bahwa ini bukan hari yang baik untukku. Namun, aku tetep keukeuh berangkat dan berencana mengirim motor ke Karimun pada hari Rabu.
Selama di Karimun semua berjalan dengan baik, bahkan ketika aku berkunjung lagi ke pantai Ujung Gelam yang terkenal dengan aura mistisnya dan camp di pantai Pokemon yang katanya angker.
Keesokan harinya, hujan turun. Namun sailing tetep lanjut. Selama sailing, aku membawa tas kecilku yang berisi dompet, ponsel, kamera mirrorless, dan kacamata renang. Aku sama sekali belum membuka dompetku: 30 lembar merah.
Ketika ingin melakukan pembayaran; sewa motor, sailing, homestay. Betapa kagetnya aku dompetku hanya berisi 27 lembar merah yang masih tersusun rapi di tempatnya.
Pertanyaan yang sampai saat ini masih menjadi misteri bagiku:
Jika uangku hilang dicuri, kenapa si pencuri hanya mengambil 3 lembar merah saja? Kenapa dia tidak mengambil semua uangku? Kenapa dia tidak mengambil dompetnya sekalian? Pencuri model gini antara "klepto" dan "terdesak".
Mungkin ini adalah camping terbaik yang pernah kulakukan sepanjang hidupku. Pulau yang sepi nan indah, api unggun, ikan gratis dari nelayan Karimun, dan suara-suara merdu hewan-hewan malam di pantai Pokemon ini.
Aku yang mengetahui keberadaan pantai ini, Bari yang pandai memasak, dan Akbar yang pintar membuat api unggun.
Kemudian, Magelang, Jakarta, dan Malang menjadi teman selama di Karimun.
Namun, setelah sekian lama kami bersama, aku merasa, aku lebih suka berjalan sendirian.
Karena sejak pertama kali mengenal dunia backpacker, pada dasarnya aku sudah terbiasa melakukan perjalanan seorang diri. Kebiasaan ini sulit dihilangkan.
Aku hanya takut jika aku terlalu mencintai diriku sendiri.
Mungkin aku akan menghabiskan malam tahun baru di Jogja, kemudian kembali ke Karimunjawa lagi pada awal Januari. Aku masih ingin berenang ke pulau-pulau kecil yang belum pernah aku selami keindahan bawah lautnya.
Detail Biaya Perjalanan:
~ Hari pertama
1. Pertamax 40.000
2. Tiket kapal 95.000
3. Parkir motor 100.000 (Batal dikirim ke Karimun)
4. Makan siang 25.000
5. Mandi 10.000
6. Logistik Camp: 30.000
~ Hari kedua
1. Nasi goreng 30.000
2. Tea 15.000
3. Bensin 10.000
4. Sewa Motor 40.000
5. Tour Laut 125.000
6. Tiket Menjangan Kecil 30.000
7. Homestay 30.000
~ Hari ketiga
1. Sarapan pagi 15.000
2. Tiket kapal 95.000
3. Pocari Sweat dan Air Mineral: 12.000
4. Bakmi Jawa: 15.000
Total biaya: 717.000 - 100.000 = 617.000



Komentar
Posting Komentar