Langsung ke konten utama

Bagaimana Rasanya Ditolak Penerbit Mayor?


Aku menyukai novel sejak kelas 1 SMP. Dan sejak saat itu pula, nilai bahasa Indonesiaku selalu baik, mungkin salah satu yang terbaik dalam satu angkatan.

Selama fase metamorfosis dari masa remaja ke masa dewasa muda, aku berubah menjadi seorang dengan kepribadian yang tertutup; suka menyendiri, namun aku selalu saja bisa menemukan kebahagiaan dalam kesendirianku. Termasuk ketika aku membaca buku dan menemukan karakter yang aku sukai dalam buku itu.

Pada dasarnya, aku adalah seorang yang sangat selektif, teliti, dan ulet kalo sudah menyukai sesuatu. Aku akan hidup di sana dan mencintai segala sesuatu tentang kehidupannya.

Aku mulai menulis tahun 2015. Adedas adalah karya pertamaku. Aku menulisnya untuk mengenang masa kecilku yang penuh asa, cita, dan cinta.

Satu tahun kemudian, aku menulis You're My Flaky Pain of the Past. Aku sangat mencintai naskah novel ini. Terlalu mencintainya.

Namun, menyelesaikan sebuah naskah novel dan menembus penerbit major tidak semudah itu. Meski demikian, aku rasa sudah berada di jalan yang tepat; sudah berusaha, selalu belajar dari kesalahan, banyak-banyak cari bahan referensi novel terjemahan, khususnya dari penulis Amerika, Cina, dan Jepang.

Ini hanya masalah waktu dan penerbit yang sesuai dengan tema naskahku saja.

Setidaknya itu lah yang disampaikan temanku dari Jerman, Natalia.

Ketika masih di Flores, dia pergi ke Jawa naik pesawat, sedangkan aku naik kapal. Terlihat jelas perbedaan status sosial di antara kami, tapi dia sangat tulus berteman denganku.

Setelah pertemuan kedua kami di Jogja, dia terbang ke Borneo, lalu Jakarta, Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, India, Jerman.

Kuharap, suatu hari nanti, aku bisa bertemu dengannya lagi di Eropa.

Sekarang, aku ingin menerbangkan naskah ini lagi seperti Natalia yang terbang ke sana ke mari bagai burung bebas.

Maju lah.... terbang lah tinggi dengan penuh rasa percaya diri.... semoga kali ini berhasil!

Kemudian, Natalia tersenyum padaku.




Di atas adalah surat cinta pertama yang aku dapatkan dari penerbit Major dalam hidupku.

Aku sudah mendapatkan surat seperti ini hingga empat kali.

Seorang Stephen King dan J.K Rowling pun pernah mendapatkan surat seperti ini hingga 10x lebih.

Rasa-rasanya masih terlalu dini untuk menyerah menerbitkan naskahku lewat penerbit Major dan memilih penerbit Indie.

Karena bagiku, menembus penerbit Major adalah impianku sejak pertama kali aku mulai menulis, tahun 2015 silam.

Dua tahun sudah aku meninggalkan Wattpad, sejak pertama kali bergabung pada awal tahun 2016.

Aku mengenal Wattpad dari calon penulis best seller asal Palembang, kalau tidak salah namanya Nana, atau Fetty, atau Riana. Namanya suka ganti-ganti, jadi aku kesulitan mengingatnya. Tapi dia wanita yang baik. Sungguh!

Aku kembali menginstal Wattpad hanya ingin memublikasikan naskah Adedas, dengan harapan semoga dapat dibaca banyak orang.

Sejujurnya, aku sudah tidak peduli lagi dengan naskah ini. Sebab, dalam 3 tahun ke depan, aku akan melakukan petualangan-petualangan hebat dalam hidupku, di masa dewasa mudaku, masa keemasanku; saat aku masih muda dan lagi tamvan-tamvannya. Aku bisa saja mati di tengah-tengah petualangan hebat itu. Hal itu lah yang membuatku berpikir untuk memublikasikan salah satu karya tulis terbaikku ini. Buat apa aku menyimpannya lama-lama? Toh ujung-ujungnya hanya akan jadi sampah atau abu, karena naskah aslinya sudah dibakar oleh penerbit: Gramedia, Grasindo, Noura Book, dan Bentang Pustaka (Mereka sudah menolak naskah pertamaku).

Naskah novel Adedas masih memiliki 7 bab lagi, namun aku memutuskan untuk menyimpannya sampai saat yang tepat. Juga karena aku sedang merewrite ulang dan mengeditnya kembali untuk kukirim ke Diva Press.

Dan bagi kalian, siapa pun itu, cowok atau cewek, setan atau demit, kucing atau anjing, pohon mangga atau buah delima.... aku ucapkan terima kasih sudah mampir dan membaca karya tulis pertamaku yang sangat berarti dalam hidupku ini.

Selanjutnya, aku akan berusaha memublikasikan naskah Adedas sebelum aku mati di usia keemasan.

Aku pamit undur diri dan sampai berjumpa lagi di naskah novelku yang baru.

Tentang Flores dan Karimun. Tentang kamu dan kamu. Tentang dia dan dia. Juga tentang mereka dan mereka. Hingga cerita tentang kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Memilih Sekolah Sepakbola

Kepengen jago main bola? Ikutan, dong, sekolah sepakbola atau yang lebih populer disingkat SSB. Kalo kita melihat gimana tim-tim sepak bola luar negeri bertanding, kayaknya para pemainnya pada jago-jago semua, ya? Nah, mereka itu jagonya tidak datang secara tiba-tiba, lho. Ada usaha ekstra keras dan latihan yang rutin di tim junior suatu klub profesional. Misalkan Barcelona, punya tim junior La Masia dan tim junior yang berusia di bawah 19 tahun dan 17 tahun. Sedangkan tim-tim elite dari Belanda kayak PSV Eindhoven dan Ajax Amsterdam, terkenal rajin mencari pemain-pemain berbakat untuk dididik di akademi sepak bola mereka. Hasilnya sangat-sangat memuaskan! Tengok aja, deh, hasil binaan tim Ajax. Mulai dari pemain legendaris Johan Cruijff, Marko Van Basten, Frank Rijkaard, Dennis Bergkamp, sampai Patrick Kluivert yang semuanya pernah jadi jagoan tim Ajax, bahkan sampai tim nasional Belanda. Kemampuan mereka semakin terasah berkat tempaan kompetisi yang ketat. Tim junior...

Pertemuan Pertama Di Karimunjawa

Balet adalah tarian yang membidik langit. Para penari balet sering melompat tinggi ketika menari, dan lompatan itu akan semakin tinggi. Para balerina berdiri menggunakan ujung kaki, menahan rasa sakit demi menggapai impian-impian mereka yang setinggi langit. Aku tidak tahu banyak tentang balet, namun aku tahu esensi balet terhadap impian yang setinggi langit itu. Dimulai dari hal kecil, sedang, hingga besar. Rintangan, hambatan, dan berbagai masalah yang tak ada habisnya. Namun, semua itu bisa saja dihancurkan dengan mudah oleh seorang balerina ketika menari-nari di atas panggung. Ia menari dan melabuhkan impiannya ke langit, tanpa ada sedikitpun rasa keraguan di dalam hatinya. Rasa-rasanya aku sedang menjadi seorang balerina yang sedang mengejar impian setinggi langit itu. Tak peduli impian itu sedang diincar oleh kamu, dia, mereka, dan mereka. Aku akan terus maju dan berjuang semampuku dengan caraku sendiri. Dan aku hanya akan menyerah jika 'impianku itu se...

Biografi Pele Legenda Sepak Bola Dunia Dari Brasil

Nama lengkapnya Edson Arantes do Nascimento. Namun, cukup panggil dia Pele, striker 1000 gol. Lahir tanggal 23 Oktober 1940 di Tres Coracoes. Karirnya bermula dari tukang semir. Kemudian, berakhir jadi selebriti dunia berkat keahliannya mengolah dan menceploskan si kulit bundar ke gawang lawan. Pele mewarisi keahlian ayahnya dalam bermain sepak bola, Joao Ramos do Nascimento, atau yang lebih akrab disapa Dondinho. Pada masa kejayaannya, Dondinho dijuluki "penguasa langit" karena selalu memenangkan duel-duel untuk bola atas. Ia pernah membela Fluminense sebagai penyerang tengah, namun cedera memaksanya harus gantung sepatu lebih dini dari lapangan hijau. Kemudian, karena tidak bisa bekerja dan menghidupi keluarganya lagi, Celeste, istrinya, mengambil alih peran sang suami untuk membesarkan Pele dan saudara-saudaranya. Ketika Pele masih kecil, keluarganya pindah ke Bauru, Sao Paulo, untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Di sana, ia belajar dan menekuni sepak bo...