SHARE THE STORY OF MY JOURNEY: Mengenang Perjalananku Menuju Puncak Dewi Anjani
Untuk seorang pramugari Garuda Indonesia Experience yang menyukai novel fiksi bertema petualangan. Terima kasih sudah mewarnai kehidupanku di dunia maya, meskipun kita tidak saling mengenal di dunia nyata. Kau membantuku mengerti bahwa merindukan seseorang yang jauh di sana dapat membuatmu bahagia dengan cara yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Terima kasih juga untuk sesosok bidadari bersayap putih atas kritik dan sarannya yang mendalam usai membaca novel terbaruku yang berjudul: "Miss Travel Beauty Life". Terutama atas kegigihannya yang tidak pernah mengizinkanku kehilangan fokusku pada cerita, meskipun pada akhirnya aku tetap membandel. Selanjutnya, spesial thanks untuk Clarista, teman sekolah yang awalnya seorang musuh bebuyutan, dan pemegang rekor pembaca tercepat untuk semua draft awal naskah-naskah novelku. Dan tak lupa untuk diriku sendiri yang masih memiliki semangat menjaga asa dan cita menjadi seorang penulis hebat.
Untuk merayakan ulangtahunku yang ke 25 tahun.
Ada kebahagiaan di Indonesia timur yang sayang untuk dilewatkan;
Ada kegairahan di gunung Rinjani dan pantai-pantai di pulau Lombok yang eksotis;
Dari puncak Dewi Anjani, kerlap-kerlip bintang di langit yang gelap bercahaya terasa sangat dekat;
Semakin larut, semakin dekat;
Ketika aku melompat untuk menggapainya, tiba-tiba ada sesosok peri kecil muncul di hadapanku, lalu dia mengarahkan tongkatnya tepat di keningku;
Sehingga membuatku terbelenggu sepanjang mimpi.
Menjadi seorang single bicycle touring/ backpacker/ hiking, tidak selalu indah, tidak selalu menyenangkan, tidak selalu tampak gagah dan berani. Terkadang terasa sakit, jengkel, penuh penyesalan, bahkan menghancurkan hati. Tapi tidak apa-apa, perjalanan seorang diri akan menguatkan mental dan menumbuhkan rasa percaya dirimu dengan pengalaman-pengalaman baru yang kamu alami.
Empat belas hari dalam perjalanan menuju gunung Rinjani, menjadi seorang gelandangan, seorang penyair, seorang pemimpi, seorang kesepian yang selalu berharap roman dari petualangan ini.
Terlihat sederhana, namun penuh keberanian, kejujuran, dan ketulusan hati.
Kisah ini berawal dari beberapa potong permen karet Bigbabol berwarna merah muda yang berubah warna menjadi putih setelah kukunyah-kunyah, dan bisa menjadi balon sewaktu kutiup, namun tiba-tiba meletus begitu saja; sejak awal aku sadar dengan segala risiko baik-buruk yang akan kuhadapi nanti. Aku juga mengerti bahwa perjalanan ini tidak akan berjalan mulus. Namun, aku percaya kalau Tuhan selalu menjagaku.
1. Hari Pertama: Pelecut Semangat Hidupku Yang Baru
Seorang laki-laki dewasa muda dari Magelang, penuh percaya diri, kekanak-kanakan, memulai perjalanannya ke arah timur pulau Jawa bersama roadbike Polygon Helios 200-nya dari kota Klaten menuju Ngawi. Otaknya yang biasanya dipenuhi nama-nama pornstar dari benua Eropa hingga Amerika, kini hanya ada satu kata: RINJANI.
Pukul 06.47 WIB, aku menatap kaca jendela teras rumah bibiku, wajahku yang lebih keren dari aktor Hollywood membalas tatapanku. Sedikit jambul hitam lekat-ku menjuntai menantang langit, tepat di atas mataku yang hitam kecoklatan. Suhu di Klaten 23° C langit cerah, biru tanpa awan. Aku mengenakan kemeja favoritku—tanpa menutup kancingnya, kemeja flanel hitam strip merah muda; aku mengenakannya sebagai lambang keberanian yang penuh misteri. Aku juga merekatkan helm safety di kepalaku yang keras seperti batok kelapa, kacamata hitam untuk melindungi mataku dari debu, earphone di kedua kupingku, dan jam tangan QnQ berwarna hitam di tangan kiriku, sehingga menjadikan penampilanku terlihat lebih maskulin, nyaris menyerupai penampilan seorang prajurit Kopasus; dengan dekker yang merekat erat di kedua siku dan lututnya—benar-benar siap berperang sampai mati.
Sekarang, aku mengepak daypack 30 literku, lalu berdiri di atas sadel Lightning, menyatu dengan jalanan kota dan keindahan alam Indonesia, sambil mendengarkan lagu: Ladki Badi Anjani Hai - OST Kuch-Kuch Hota Hai.
Aku mengayuh pedal dengan santai namun penuh semangat. Bulir-bulir keringat mulai bermunculan di kening hingga leherku. Ketika aku berusaha mengusapnya, angin sepoi-sepoi bergerak lebih cepat, membuatku memejamkan mata selama beberapa detik.
Begitu berada di jalan raya Klaten - Solo, aku menarik napas dalam-dalam, kemudian mengayuh sepeda seperti orang gila.
Dua minggu menjelang hari keberangkatan, setiap sore hari, aku melakukan persiapan berupa latihan fisik ala militer, supaya kondisi fisik dan mentalku benar-benar siap tempur. Malam harinya aku juga selalu mengecek barang-barang bawaanku. Kemudian cek dan ricek kondisi Lightning, sepeda balap Polygon Helios 200-ku, agar dalam kondisi prima. Dan setelah mengantongi izin dari ayah dan ibuku, aku membeli stok makanan ringan kaya serat untuk bekal meninggalkan kehidupanku yang datar selama beberapa minggu. Mungkin waktu yang cukup lama bila aku memutuskan nekat menuju Flores.
Tentu saja keluargaku merasa khawatir dengan perjalanan ini sewaktu aku berkata pada mereka, "Aku akan bersepeda sampai Lombok sendirian, lalu mendaki gunung Rinjani, jadi aku memerlukan waktu selama beberapa minggu untuk kembali pulang."
Seperti predeksiku sebelumnya, mereka berkata sampai puluhan kali hingga aku hafal apa yang pernah mereka katakan padaku dulu. "Kau sudah gila atau memang bodoh? Apa manfaatnya untuk masa depanmu? Apa bisa membuatmu kaya? Mengapa kau bersepeda sejauh ini? Apa kau akan selamat sampai pulang ke rumah lagi?"
Aku pun berusaha meyakinkan ayah dan ibuku bahwa itu adalah sesuatu yang aman, menyenangkan, dan supaya aku memiliki cerita yang menakjubkan di masa dewasa-mudaku.
Tak ada ruginya mencoba suatu hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Rasanya seperti tahun-tahun sebelumnya—seperti aku berdiri tanpa alas kaki di puncak-puncak gunung yang berhasil kucapai dalam beberapa tahun ke belakang, benar-benar, ketika aku telah membuat keputusan yang boleh dibilang tidak masuk akal dan hanya membuang-buang waktu untuk perjalanan panjang dengan bersepeda sendirian melewati kerasnya jalanan di negeri ini. Hingga aku percaya bahwa segala sesuatu yang pernah kulalui sebelumnya telah membentuk mental dan fisikku yang lemah menjadi penuh percaya diri untuk perjalanan ini.
Sejujurnya, aku sudah lama ingin kembali ke Lombok dengan cara bikepacker-an menggunakan sepeda motor, setelah pertama kalinya aku sukses backpacker-an pada akhir tahun 2014 lalu hingga nyasar sampai gunung Tambora, namun ada saja faktor teknis dan nonteknis yang mengacaukan semua rencanaku. Dan kini, aku memutuskan untuk melakukannya dengan cara yang anti-mainstream; mengendarai sepedabalapku dari Magelang-Lombok, dengan tujuan utama gunung Rinjani, namun target sebenarnya sampai Flores, dengan catatan aku mendapatkan teman seperjalanan untuk melewati pulau Sumbawa yang sangat sepi.
Menurut Google, jarak Klaten - Sembalun sekitar 800-an km, sedangkan jarak Klaten - Flores sekitar 1700-an km. Kau bisa bayangkan kalau pulang-pergi? Setiap hari aku menargetkan akan menempuh jarak sekitar 150-200 km, tergantung suasana hati dan kondisi tubuhku.
Well, hanya ingin meyakinkan diri sendiri bahwa aku adalah seorang pria yang tangguh.
Solo - Sragen - Ngawi - Nganjuk - Mojokerto - Pasuruan - Probolinggo - Situbondo - Banyuwangi - Denpasar - Mataram.
Itu adalah rute yang akan kulewati. Aku harus tiba di kota Mataram dalam waktu 4 hari, setelah menyanggupi tantangan dari seorang teman SMA. Lumayan, lah, kalau aku berhasil, uangnya bisa buat tambahan dugem. Biarlah uang haram mengalir ke yang haram, hehe.
Dari arah kanan jalan, tiba-tiba angin berembus kencang sehingga memengaruhi keseimbangan sepedabalapku. Aku merasa seperti seekor semut yang sedang berjalan di ranting pohon tua, benar-benar harus ekstra hati-hati. Sayangnya, kekuatan angin itu bertambah dua kali lipat setelah ada bus dari arah belakangku melaju dengan kecepatan kencang, namun aku sudah cukup berpengalaman dengan insiden semacam ini dan tetap tenang sambil membungkuk lebih dalam, mengambil "race position". Dalam hati ingin menyumpahi bus gila tadi, namun aku malah tertawa terbahak-bahak setelah berada di belakang sebuah truk yang bertuliskan: JANGAN DINIKAHI BILA "SEGEL" RUSAK
Sekarang, aku malah berbicara dengan angin, menyampaikan pesan melalui gelombang-gelombang elektromagnetik tak kasat mata yang kutiup-tiup menggunakan mulut. Aku manusia dan aku tak bisa hidup tanpanya, tetapi polusi kendaraan bermotor merusak keceriaan kami dan membuat napasku terasa sesak. Kemudian aku menutup mulut dan hidungku menggunakan masker, dan sesekali aku berteriak-teriak sendiri untuk menyulut api semangat dalam jiwaku yang mulai memudar karena lelah, sekaligus untuk meyakinkan diriku bahwa walaupun aku sendirian, aku tetap menemukan kebahagiaan dalam diriku sendiri.
"Lightning, ayo tunjukkan pada para pengguna jalan seberapa cepat dirimu," kataku, sambil menoleh ke arah belakang, memastikan semuanya dalam keadaan aman. Aku juga mengubah pengaturan grupset menjadi down-shifting sampai sprocket paling kecil, lalu chainring depan up-shifting ke chainring besar.
Aku memacu pedal lebih keras, sepertinya mencapai top speed 50 km/jam selama beberapa saat, membuatku menyalip beberapa motor dan mobil yang berjalan lambat. Ada kebanggaan tersendiri sewaktu menyalip mereka dari arah kanan, meskipun hal itu sangat membahayakan. Namun, aku tidak pernah takut dengan kehidupan di jalanan. Aku memilih kehidupan di jalanan untuk menjalankan hobi yang kutekuni. Dan siap atau tidak siap, aku mengerti betul risikonya.
Jalanan itu memiliki kehidupan yang keras, dan ada kalanya, rasanya begitu sukar. Aku tak tahu banyak tentang kehidupan di jalanan, tapi aku tahu bertahan hidup di alam bebas jauh lebih sulit daripada di jalanan. Dan aku juga tahu betapa penting dalam hidup bukan untuk menjadi kuat, tapi untuk merasa kuat, untuk mengukur kemampuan diri sendiri setidaknya sekali saja seumur hidup, agar kita merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang kurang beruntung; menghadapi kekerasan dan ketidakadilan, tanpa apa pun dan siapa pun yang membantu, kecuali usaha untuk terus bertahan hidup. Itu bagaikan perjuangan meraih kemerdekaan dari penghianat bangsa.
• Playlist berganti: Does - Torch Lighter
Setelah cukup lama menikmati awal perjalanan yang menyenangkan sekaligus menakutkan, aku tiba di tugu Kartasura. Kemudian, aku langsung menuju landmark kota dan meminta bantuan seseorang untuk mengambil fotoku dengan bangganya.
Tak peduli sekarang atau dulu, foto adalah hal terpenting yang membuktikan kesuksesan perjalanan seseorang. Orang-orang di Indonesia begitu bangga memamerkan foto-fotonya di puncak-puncak gunung, pantai-pantai yang terkenal, hingga tempat-tempat yang jarang diketahui publik.
Harus kuakui bahwa kesadaran menulis dan berbagi informasi tentang kegiatan di alam bebas di negeri ini masih minim sekali.
Mayoritas orang Eropa dan Amerika selalu membagikan kisah perjalanannya, tanpa diminta, tanpa mengharapkan pujian, mungkin dengan begitu cara mereka berterimakasih, karena sudah memperoleh informasi tetang destinasi yang ingin dikunjungi.
Sebagai seorang penulis yang menyukai kegiatan outdoor, tentunya aku ingin menulis tentang keindahan alam Indonesia; Wakatobi, Raja Ampat, Cartenz Pyramyd, lalu mengabarkannya pada dunia. Selagi cara berpikirku masih kekanak-kanakan, selagi otakku belum hancur total karena “belenggu cinta liar” wanita-wanita cantik dari Eropa dan Amerika, setidaknya aku masih bermimpi, walaupun sampai mati hal itu takkan pernah terealisasi karena biaya perjalanan yang mahal. Ya, aku tidak punya uang yang cukup untuk mengeksplor ikon-ikon pariwisata bumi pertiwi itu. Aku juga tidak pandai mencari sponsor untuk membiayai perjalananku. Memangnya siapa aku? Tidak akan ada yang peduli.
Kemudian, cerita berlanjut di kota Solo.
Semua orang yang berlalu-lalang di trotoar terlihat memperhatikanku dengan seksama. Setiap ada cowok yang memperhatikanku, aku mengalihkan pandanganku sambil mengembuskan napas keras-keras, mengirim pesan padanya bahwa aku tidak menyukainya. Begitu yang memperhatikanku seorang cewek, aku merapikan kacamata dan helmku supaya terlihat center, gestur yang berarti menebar pesona dan pura-pura jual mahal. Namun, ketika yang memperhatikanku adalah seorang bencong, aku langsung tancap gas. Kemudian aku menyimpulkan bahwa seseorang yang mengendarai sepeda balap sambil mengenakan helm sepeda gunung dan daypack 30 liter dengan style casual itu absurd. Namun aku merasa bertambah ganteng. #Ehem*
Siang itu aku merasa kalau aku adalah orang paling bebas di dunia. Aku merasakan hari itu, seperti hatiku terisi penuh. Aku tidak ingin kehilangan perasaan ini. Aku merasa seperti memerankan tokoh utama dalam sebuah film. Aku ingin bernyanyi, aku ingin menari, aku ingin menggila di jalanan, pokoknya aku ingin begini-begitu, dan masih banyak yang lainnya.
Selanjutnya, aku mengayuh pedal lebih keras, melihat jauh ke arah depan.
Sebuah perjalanan yang masih jauh... Sebuah perjalanan yang sulit? Membuatku jauh lebih bersemangat saja.
• Playlist penyemangat perjalan ini: Eddie Vedder - Society
Jalan Sragen-Ngawi lumayan bagus, tetapi ketika memasuki kabupaten Ngawi, jalannya mulai kecil, apalagi sewaktu melewati jalan yang kanan kirinya hutan dan jauh dari rumah warga. Itu sesuatu banget. Musuh bebuyutanku di jalan yang sempit seperti itu adalah bus Akab, Akot, atau Aprov. Mereka itu bagaikan ikan hiu, sementara truk kontainer adalah ikan pausnya. Setahuku, ikan paus tidak terlalu berbahaya jika kita bersikap tenang, tapi yang namanya ikan hiu itu di mana-mana jahat. Jadi aku harus ekstra hati-hati.
Saat sore hari tiba, aku sudah berada di kota Ngawi.
Aku mencari warnet 24 jam. Setelah menemukannya, lalu aku mencari rumah pak RT setempat untuk menitipkan sepedaku. Kemudian jalan-jalan di kota, sebelum kembali ke warnet dan membayar paket malam hingga pukul 04.00 WIB, padahal di bilik warnet hanya tiduran gak jelas sambil menonton "film panas", maklum cuaca di Nganjuk saat itu sedang hujan gerimis, hehehe.
2. Hari Kedua
Bersepeda pagi menikmati kota Ngawi, Jawa Timur.
Ban dalam bagian belakang sepedaku bocor sewaktu tiba di kabupaten Nganjuk. Perlu waktu 30 menit untuk menggantinya dengan ban dalam baru.
Hari itu aku gagal mencapai target karena aku sampai di Terminal Nganjuk sore hari menjelang adzan magrib.
Setelah berpikir keras; mempertimbangkan risiko keselamatan melewati jalan Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, biaya makan, biaya penginapan, dan lain sebagainya, akhirnya aku berbuat curang dan naik bus menuju Banyuwangi.
3. Hari Ketiga
Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur.
Helm sepedaku nyaris ketinggalan di bus, namun beruntung salah seorang petugas pelabuhan membantuku mengambilnya.
Sarapan pagi di warteg Gilimanuk, Bali. Ibu warteg sempat menawariku daging babi, tapi aku menolaknya. Yah, meskipun aku bukan seorang muslim yang taat, tapi aku masih mengerti mana dosa besar yang mendatangkan mudhorot bagi tubuh.
Sepanjang jalan dari Gilimanuk, Negara, hingga Tabanan, semuanya seru dan menantang; naik-turun, tikungan tajam, gitu aja terus. Mata harus benar-benar fokus ke depan. Namun, pada kasus-kasus tertentu, khususnya ketika aku melintasi jalan yang terus menanjak, aku harus mengayuh pedal sekuat tenaga, atau turun dari sepeda dan menuntunnya jika memilih untuk menyerah sebelum mencoba. Kalau aku berhasil melewati tanjakan setan ini tanpa berhenti, sepasang otot kakiku pasti membesar seperti lobak. Fiuh….!
Di saat-saat seperti ini, aku membutuhkan dukungan dari seorang wanita cantik. Kita panggil saja Sunny Leone, wanita berdarah India - Kanada. Dan bagi pembaca wanita di sini, kalo cowok kamu kenal Sunny Leone, lebih baik putusin sekarang juga! Hahaha….
Namun, siapa sangka, dukungan dari Sunny Leone adalah sesuatu yang tak terbayangkan. Aku mengayuh pedal dengan pelan, kemudian semakin kuat, hingga lebih kuat lagi, mengabaikan tanjakan yang mengerikan itu dan berusaha untuk fokus ke depan. Sunny Leone tentu saja masih menyemangatiku. Ia pun menolehkan kepalanya dan tersenyum, kemudian berteriak, “Cheer-up, Handsome!” Memberi semangat padaku, sehingga membuat rasa sakit di kakiku hilang seketika.
Aku merasa jatuh dalam situasi yang aneh ketika bus-bus besar, truk kontainer, pengendara motor touring, memprovokasiku dengan mengklakson atau menggeber motornya hingga nyaris menyerempetku, mengirim pesan padaku untuk minggir atau keluar lintasan. Karena itu, kurasa lebih baik aku mengalah dan mengutamakan keselamatan. Lebih baik kehilangan waktu 1 menit daripada kehilangan waktu yang entah berapa lama karena kecelakaan.
Dan ternyata aku terlalu meremehkan jalanan di pulau Bali, sebab 100 km di pulau Bali sangat berbeda dengan 100 km-nya di pulau Jawa.
Aku merasa sudah menempuh jarak 100 km lebih, faktanya baru 70 km. Sangat melelahkan, namun juga sangat seru.
Sore hari tiba di Tabanan Barat.
Tak terasa sudah sepanjang hari ini aku bersepeda di pulau Bali bersama roadbike kesayanganku satu-satunya ini. Di jalan, kadang aku mengajaknya mengobrol. Ketika lelah, kami istirahat bersama. Kami berdua seperti sepasang kekasih yang tidak bisa hidup satu sama lain, hehehe.
“Bersepeda sepanjanghari”, kedua kata ini memiliki arti penting di masa kecilku yang penuh asa, cita, dan cinta. “Bersepeda” adalah kegiatan yang menyehatkan sekaligus menyenangkan. “Sepanjanghari” berarti menikmati kebebasan. Bersepeda sepanjanghari dengan sepeda pertama atau sepeda kesayanganmu, tidak akan pernah kau lupakan seumur hidup.
Dua puluh tahun yang lalu, ketika aku memejamkan mata, aku masih bisa membayangkan masa kecilku bersepeda sepanjanghari dengan sepeda pertamaku.
Aku menginap di Koramil Tabanan Barat, Bali.
Bapak koramil di Tabanan sangat ramah. Beliau memberiku tempat tidur yang layak. Kami mengobrol banyak hal hingga larut malam, mulai dari gowesanku hingga pendakian gunung. Kebetulan bapak koramil pernah bertugas di PT Freeport Papua dan mengantar banyak pendaki dari luar negeri untuk mendaki puncak Cartenz. Pendakian dari PT Freeport biayanya sekitar 30 juta pada pertengahan tahun 2000-an. Waktu pendakian hanya 2-3 jam saja. Hah? Unbelievable!
4. Hari Keempat
Tiga hari sebelum ulangtahunku yang ke 25, langit di bumi Tabanan terlihat sangat cerah, biru tanpa awan.
Di dalam perjalanan ini, mungkin aku ibarat sebuah debu yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain karena angin, beterbangan ke sana ke kemari, hingga singgah di sana-sani mengikuti arah angin yang tidak pasti.
Setelah berpamitan sama bapak Koramil, aku melanjutkan perjalanan ke kota Denpasar.
Aku menyukai kota Denpasar. Megah, bersih, banyak pelancong, banyak ciwi-ciwi cantik. Kesan pertamaku dengan kota ini suka banget pokoknya.
Sebelum waktu Ashar, aku sudah sampai di pelabuhan Padang Bai. Ketika hendak membeli air mineral di sebuah toko, aku bertemu seorang kakek goweser yang menggunakan sepeda Pugeot buatan Perancis. Beliau malah menawar sepedaku, tapi aku masih berpikir dua kali.
Menjelang adzan magrib, aku membeli sate kambing. Di sebelah meja makanku, ada dua pemuda dari Gresik yang sedang dalam perjalanan pulang ke Jawa. Kami berkenalan dan berbincang-bincang seputar motor dan Moto GP. Namun, setelah selesai makan, mereka berpamitan padaku dan malah membayar sateku, tanpa memberitahuku lebih dulu. Sungguh pemuda yang baik atau merasa kasihan padaku yang berjalan sendirian tanpa seorang teman?
Hatiku pun mencelus.
Di dalam naskah novelku yang berjudul Long Journey to Russia by Land, aku menulis: "Berjalan sendirian", entah muncul di kehidupan mana pun, kedua kata ini memiliki arti yang penuh simpati. "Berjalan" melangkahkan kaki satu langkah demi langkah, "sendirian" berarti kesepian. Orang yang berjalan sendirian selalu menarik simpati orang lain.
Sebelum tengah malam tiba, aku sudah berada di dalam kapal yang berlayar menuju pelabuhan Lembar, Lombok.
5. Hari Kelima
"Hallo, pelabuhan Lembar, kita berjumpa lagi." Aku menyapa pelabuhan Lembar untuk yang ke dua kalinya.
Aku melanjutkan perjalanan usai shalat subuh menuju kota Mataram.
Sangat sulit mencari makanan sewaktu bulan ramadhan di sepanjang perjalanan menuju kota Mataram, namun aku mendapatkan makanan Bali di pasar Cakranegara, harganya standar pelajar Jogja, sangat murah, enak banget, sesuai lidah orang Jawa, dan yang paling penting tidak ada daging babinya.
Kemudian, bang Doddy mengirim pesan padaku. Ia menanyakan di mana posisiku saat itu. Aku pun bergegas menuju rumahnya.
Bang Doddy adalah teman facebook-ku. Kami berkenalan pada akhir tahun 2014, waktu aku ingin berkunjung ke gunung Rinjani, tapi akhirnya malah nyasar sampai gunung Tambora. Sesudah turun dari gunung Tambora, aku tidak jadi naik gunung Rinjani, sehingga aku dan bang Doddy pun tidak jadi bertemu saat itu.
Rumah Doddy dekat bandara lama di Ampenan. Ketika kami sampai di rumahnya, dia menawariku untuk bermalam di rumahnya dan keesokan harinya dia ingin mengantarku sampai basecamp Sembalun, namun aku menolaknya dengan santun, takut merepotkan, hahaha.
Aku menitipkan roadbike-ku dan berbagai tools-nya di rumah bang Doddy, lalu dia mengantarku mencari peralatan pendakian: flysheet, matras, dan lain sebagainya. Mode survival diaktifkan. Sesudah itu, kami menuju halte dekat terminal Mandalika. Beruntung, aku langsung mendapatkan bus jurusan pelabuhan Kayangan, pintu gerbang menuju pulau Sumbawa.
Ketika sampai di pasar Aikmal, aku berbelanja logistik untuk pendakian. Kurma, buah apel, susu, dan sereal adalah daftar menu favorit bagi standar pendakianku. Kemudian, aku mencari mobil pick-up yang siap berangkat menuju desa Sembalun. Biasanya, sopir-sopir di sana sudah paham dengan para pendaki gunung Rinjani. Mereka akan menyapa kita dengan ramah dan menawarkan jasanya. Namun, kita bisa tawar-menawar ongkos jasa itu.
Singkat cerita, aku sampai di desa Sembalun sore hari. Udara di sini sangat dingin. Masyarakat desa sangat baik dan ramah. Di sini banyak masjid yang bagus dan cukup megah. Tidak jauh dari kantor Taman Nasional Gunung Rinjani, ada supermarket, pasar sederhana, ada juga jasa open trip dan tempat penyewaan peralatan pendakian gunung.
6. Hari Keenam
Sembalun, suatu kehormatan bisa berada di sini bersama gadis-gadis mahasiswi universitas negeri dari Semarang yang lagi KKN.
Hari itu aku hanya fokus untuk beristirahat total; bersih-bersih, cuci baju, dan lain-lain.
Sore hari menjelang shalat magrib, datanglah dua orang pendaki dari Probolinggo menggunakan motor sport yang, kukira, awalnya petugas TNGR. Setelah diberitahu oleh pak Kades bahwa mereka ingin mendaki gunung Rinjani keesokan harinya, aku pun langsung menyapa mereka dan memperkenalkan diriku. Mereka berdua menempuh jarak 700-an km menggunakan sepeda motor. Pernah menginap di hotel merah-putih a.k.a stasiun pengisian bahan bakar umum. Kami pun menjadi satu tim dan keluarga baru: Luca, Rangga, dan Dori.
7. Hari Ketujuh
Tim kami memulai pendakian pukul 06.15 WITA. Butuh waktu sekitar 40 menit perjalanan kaki dari basecamp menuju gerbang utama pendakian gunung Rinjani. Ini adalah gerbang yang umum dilewati pendaki lokal. Sedangkan gerbang utama pendaki asing berada di barat.
Hal yang paling mengesankan menuju pos 1 adalah sekumpulan sapi cokelat yang berkeliaran di sekitar jalur pendakian. Beruntung, ada pengembala sapi berjaga sambil membawa senjata api, jadi tim kami tidak perlu takut.
Idealnya, waktu yang dibutuhkan dari gerbang pendakian sampai pos 1 gunung Rinjani adalah 60 menit. Medannya biasa saja, namun panjang, bahkah motor pun masih bisa melaluinya.
Di Pos 2, ada sumber air yang mengalir. Ini adalah rest area yang cocok untuk makan siang atau mendirikan kemah.
Aku bertemu Miss Polandia di bukit Penyesalan. Miss Polland tidak bisa berbahasa Indonesia, tapi bahasa Inggrisnya sama sepertiku, tidak terlalu baik. Kami hanya mengobrol tentang diri kami dan kebanyakan topik obrolan berasal darinya.
Selanjutnya, ada Miss Malaysia yang sedang kelelahan mendaki bukit Penyesalan. Aku memperkenalkan diriku padanya, menyemangatinya, dan kami pun bertukar ID Instagram.
Camp di Pelawangan Sembalun.
Malam hari sambil melihat bintang-bintang sendirian dan ditemani secankir kopi, aku seolah melihat rasi bintang yang menyerupai unicorn.
Ketika aku tenggelam dalam duniaku sendiri, melakukan suatu hal yang kusukai, aku tidak menyesal menghabiskan masa dewasa mudaku hanya berkutat dengan sepeda, jalan, dan menyatu dengan alam. Setiap orang memiliki minat dan hobi tersendiri, sehingga kepuasan yang diperoleh tidak akan sama. Banyak orang-orang di sekelilingku yang mencibir gaya hidupku, tapi aku tidak pernah meremehkan apa yang orang lain tekuni, karena aku sadar bahwa aku dan mereka memang berbeda.
8. Hari Kedelapan
Summit pukul 01.28 WITA. Sampai puncak pukul 05.37 WITA.
Turun sendirian, menikmati indahnya alam gunung Rinjani dan para tamunya cewek-cewek Eropa, Amerika, Australia, dan Asia.
Perjalanan turun bertemu Miss France. Orangnya cantik, cute, rambutnya blonde, bodynya macam Jessica Milla Agnesia, pokoknya tipeku banget. Namun, sama seperti Miss Polland, Miss France tidak bisa berbahasa Indonesia, dan kemampuan bahasa Inggrisnya juga biasa saja.
Perjalanan turun bersama Miss France terasa indah sekali. Dia tertinggal cukup jauh dari teman cowoknya, sementara aku berstatus siaga membelakanginya. Jadi, sewaktu Miss France terpeleset, aku membantunya berdiri. Ketika ia kelelahan, aku menemaninya beristirahat. Ketika ia ketakutan, aku mengulurkan tanganku dan menyuruhnya memegang erat-erat. Ketika ia kehausan, aku memberikan bekal minumanku. Namun, ketika ia kebelet pipis, aku disuruh menjauh. Huft, pa salahku? Aku merasa dimanfaatkan, ibarat kata habis manis sepah dibuang. Fiuh….
Jika dingat-ingat lagi, aku menyesal tidak memperkenalkan diriku kepada miss France secara gentle waktu itu. Mungkin karena jam terbangku ngobrol sama bule cantik masih minim, jadi aku masih merasa malu-malu. Pada akhirnya, aku melewatkan kesempatan untuk berkenalan.
Sampai di tempat camp sekitar pukul 09.15 WITA. Aku dan tim beristirahat sebentar. Namun, tragedi menimpa tim kami. Beberapa makanan dan peralatan mandiku dicuri oleh sekawanan monyet. Beruntung, tim kami dapat mengambilnya kembali, meskipun harus turun ke jurang yang tidak terlalu membahayakan.
Selanjutnya, kami turun ke danau Segara Anak.
Di perjalanan turun, tim kami bertemu bang Fandri dan Amak yang sedang membawa plang bertuliskan "Dilarang Berenang Di Air Terjun".
Sesampainya di danau, kami mandi di air hangat dekat danau Segara Anak.
Sewaktu makan malam, aku dan tim mulai muncul perbedaan pendapat. Aku merasa tidak dibutuhkan lagi, seperti benalu, dan tim mulai jarang berbicara padaku lagi.
Saat itu yang ada di kepalaku hanya ingin turun ke basecamp secepatnya.
Setelah makan malam sendirian, aku duduk di tepi bebatuan danau sambil melihat bintang-bintang yang ada di atas gunung Barujari, menghayal akan sesuatu yang sangat indah (bukan menghayal bintang-bintang porno Eropa dan Amerika, ya!!!).
Aku kedinginan akibat angin malam gunung yang ganas. Aku sudah cukup bosan. Sebelum kembali ke tenda, aku memainkan sebuah plastik kresek yang kutendang-tendang setinggi-tingginya seperti menjuggling bola sepak. Beberapa kali tendang, plastik kresek itu malah terbang tinggi layaknya balon udara. Plastik kresek yang sombong, namun sangat menarik.
Ternyata begitu. Permainan jugling plastik kresek itu seperti kehidupan di masa remajaku yang penuh kegagalan. Ketika aku berusia dewasa muda, tak peduli betapa kerasnya aku menggapai cita-citaku, selamanya aku begitu jauh dari keberuntungan. Dan aku hanya bisa mencurahkan isi hatiku di lembaran kertas A4 microsoft word.
9. Hari Kesembilan
Pagi-pagi sekali aku melihat Amak memancing di danau. Amak sangat pintar, hanya bermodalkan sebatang kayu sepanjang dua meter dan peralatan pancing sederhana, dia mampu menangkap banyak ikan. Sungguh suatu keahlian yang sangat berharga di dunia outdoor. Ikan hasil tangkapannya pun menjadi menu sarapan pagi kami.
Setelah selesai makan pagi, aku memutuskan turun lewat Sembalun bersama bang Fandri dan Amak, sedangkan Rangga dan Dori masih ingin menikmati suasana danau sampai siang hari. Namun, pada akhirnya aku naik ke Pelawangan Sembalun sendirian, karena langkah Fandri dan Amak sangat cepat, seperti bus patas saja. Aku tak mampu mengimbangi mereka.
Sampai di Pelawangan Sembalun, aku bertemu lagi dengan bang Fandri dan Amak yang sedang mengobrol bersama dua pendaki gunung dari Jepara, Jawa Tengah. Nama mereka adalah bang Arif dan bang Harfi. Sayangnya, mereka tidak turun ke danau karena masalah waktu dan lebih mengutamakan puncak Rinjani. Kami pun menjadi satu tim turun Sembalun.
Di pos 1, semuanya berkumpul kembali, termasuk Rangga dan Dori. Kami membeli es kelapa muda dari pedagang di pos 1 dan meminumnya sambil bercerita tentang keseruan mendaki gunung Rinjani. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju gerbang pendakian gunung Rinjani.
Bang Fandri menawari kami untuk bermalam di rumahnya. Kami pun menyetujuinya dan sangat bersyukur sekali.
Di rumah bang Fandri, istrinya memasak makanan khas Lombok, dan kami menyantapnya dengan lahap. Masakan khas Lombok yang dimasak oleh orang asli Lombok sangat enak dan nikmat. Dalam sekejap saja, makanan sudah habis.
Karena enak atau kelaparan? Semuanya tertawa, termasuk aku, Rangga, dan Dori yang sudah tidak saling bicara sejak perselisihan di danau.
Hubungan antar manusia kadang kala mengalami pasang surut. Tapi, hubungan antara orang yang baru kenal sangat sulit ditebak. Pada akhirnya, hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.
10. Hari Kesepuluh
Keesokan harinya, Fandri mengajak kami bermain ke rumah adat di desa Beleq, desa yang dipercaya warga Sembalun sebagai desa nenek moyang mereka.
“Terima kasih. Saya mendaki gunung Rinjani dengan sangat gembira. Suatu hari jika ada kesempatan, saya ingin mengulanginya lagi.” Aku berkata dengan jujur saat semuanya berpamitan dengan bang Fandri dan keluarganya.
Petualangan ini adalah salah satu petualangan terbaik dalam hidupku.
Aku memutuskan pulang bersama bang Arif dan bang Harfi naik mobil sayur ke Aikmal. Perjalanan pulang naik mobil sayur saat itu sangat heboh. Kami sibuk berfoto selfi dan bernyanyi-nyanyi sehingga mengundang perhatian orang di sekitar jalan.
Sampai di Aikmal, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Mataram. Namun, kami turun sebelum terminal Mandalika. Kemudian melanjutkan perjalanan kaki menuju penginapan bang Arif dan bang Harfi. Penginapannya sebenarnya aman, tapi aku takut banget dengan banci yang juga menginap di sini. Namun, aku memutuskan untuk menginap di penginapan bang Arif dan bang Harfi selama satu malam sambil menunggu jadwal kapal menuju Surabaya yang jatuh pada lusa.
11. Hari Kesebelas
Bang Doddy menjemputku di kota Cakranegara, lalu dia mengantarku membeli oleh-oleh selimut khas Lombok di pasar.
Sampai di rumah bang Doddy, aku mendapat kejutan dari bang Doddy berupa kaos bertema gunung Rinjani dan terdapat karakter seorang lelaki yang mengendarai sepeda bertuliskan: Magelang - Lombok - Rinjani. Kaosnya keren sekali. Sampai saat ini masih sering kupakai.
Terima kasih bang Doddy, sukses selalu buat Friday Attack! Fighting!
Ketika sore tiba, aku berjalan-jalan di Islamic Center NTB dan kota Mataram sendirian.
Ketika makan bakso di kota Mataram, aku dapat kenalan cewek asli Lombok. Namanya Lina dan Nissa. Mereka berdua SPG Transmart. Gila aja itu si Lina agresif banget, masa' aku mau dilamar saat itu juga dengan mas kawin sebotol air mineral kemasan kecil yang diketok di keningku. Padahal aku sudah bilang kalau aku ini seorang pengangguran, gembel lagi. Eh, dia malah mau terima apa adanya.
"Nanti kalo anak kita susah dan gak bisa makan, gimana?" Candaku waktu itu.
"Bikin anak lagi." Lina sudah gila.
"Kok, gitu?" Aku bingung.
"^__^" Lina nyengir bagai kuda.
"...." Aku terheran-heran.
Hm, seandainya saja dia tipeku, pasti sudah terjadi hal-hal yang diinginkan saat itu juga, hahaha.
Kemudian, senyumin aja, lah.
Ketika malam tiba, bang Doddy mengajakku berkeliling Senggigi dengan sepeda motornya. Dia juga mengantarku membeli asesoris berupa gelang petualang di toko milik temannya.
Bermalam di rumah bang Doddy.
12. Hari Keduabelas
Di pelabuhan Lembar lagi, Pelayaran bersama KMP Legundi.
Sebelum mengantarku menuju pelabuhan, bang Doddy mengajakku berkeliling kota Ampenan. Kota lama dan kota baru di sini sangat ramai. Banyak barang-barang antik yang di jual di kota lama. Sedangkan di kota baru adalah pusat perbelanjaan.
Kemudian, sampai di pelabuhan Lembar pukul 10.25 AM. Antrian di loket kapal Legundi yang akan berlayar menuju Surabaya sudah sangat panjang. Aku menunggu hingga barisan terakhir sambil bercengkerama dengan penjual makanan di sekitar pelabuhan.
Perjalanan pulang bersama kapal Legundi terasa sangat menyenangkan. Ini adalah kapal terbaik yang pernah aku naiki saat itu; bagus, bersih, fasilitasnya juga oke. Lama perjalanan sekitar 19-20 jam. Meski begitu, aku sangat senang dan menikmati pelayaran ini.
Di atas dek kapal saat itu, aku berbincang-bincang dengan pasutri asal Bima yang ingin mudik ke Jawa lebih awal. Mereka seperti resah dengan statusku yang masih single di usiaku yang menginjak awal 25 tahun.
"Jadi kamu jomblo, nih?" Tanya bapak itu sambil ngemil keripik kentang.
"Bukan, saya seorang MGTOW," jawabku simpel.
"MGTOW itu apa?" Istrinya bertanya.
"MGTOW itu singkatan dari: MEN GOING THEIR OWN WAY. Artinya, seorang cowok yang hidup dengan jalannya sendiri. Yang tidak mengikuti apa yang society dikte, or in this case, apa yg wanita dikte." Aku menjelaskan dengan baik.
Lalu, beliau bingung….
13. Hari Ketigabelas
Tiba di pelabuhan Tanjung Perak pukul 09.30 WIB.
Aku langsung gowes santai menuju terminal Bungurasih dan menikmati suasana kota Surabaya. Jaraknya dari pelabuhan Tanjung Perak sekitar 20 km lebih. Namun, itu sangat seru karena jalan yang sangat halus dan lebar. Itu adalah surga bagi pecinta roadbike.
Di mataku, kota Surabaya sangat megah. Mungkin kota termegah yang pernah kukunjungi seumur hidupku. Banyak gedung-gedung tinggi yang saling berdekatan satu sama lain. Pekerja kantoran yang rapi. Anak muda yang terpelajar. Aku iri sekali dengan mereka.
Ketika sore tiba, aku sudah berada di terminal Purabaya.
Harus ekstra hati-hati di terminal Purabaya, sebab di sini sangat rawan tindak kriminal. Banyak tipu muslihat dan calo di sini sadis-sadis tak kenal ampun terhadap korbannya. Pengalaman burukku di sini adalah menjadi korban penipuan tiket bus palsu dan busnya ghoib. Saranku, langsung datangi outlet resmi bus. Pastikan seragam pegawai, tiket, dan bus sesuai dengan nama bus.
Loading bersama P.O bus Crazy….
14. Hari Keempatbelas
P.O bus Crazy menurunkanku di Terminal Giwangan Yogyakarta pada tengah malam. Aku merasa dibohongi karena sejak awal aku ingin berhenti di Secang atau Magelang tanpa oper bus. Ternyata jalur P.O bus Crazy tidak lewat Magelang dan awak bus Crazy tidak ada rasa bersalahnya padaku. Mereka memintaku menunggu bus jurusan Yogyakarta-Semarang yang berangkat pada pukul 03.30 WIB. Tapi aku menolaknya dan meminta biaya ganti rugi. Cuma dikasih 50.000. Sampai sekarang pun aku masih sakit hati dengan P.O bus Crazy ini dan berniat menulis surat pembaca di media sosial hingga media cetak.
Aku sangat lelah, ketakutan, kemudian mencoba menghubungi teman-temanku di Jogja, namun tidak ada yang bisa menolongku.
Aku beristirahat di kedai sambil memesan minuman hangat.
Kemudian, jalan terakhir dan mungkin satu-satunya, aku meminta tolong di grup FB ICJ Jogja, kali aja ada orang yang pulang ke arah Magelang, apalagi timnas Indonesia baru saja bertanding melawan timnas Puerto Rico di stadion Maguwoharjo, Sleman.
Teman-teman ICJ langsung sigap dan mengamankanku di bascamp terdekat.
Tak disangka, aku diantar pulang ke rumah menggunakan mobil. Awalnya aku sempat menolak keras, tapi teman-teman ICJ malah memaksaku. Ya sudah lah, akhirnya aku menurutinya.
Sampai di rumah sekitar pukul 03.10 WIB. Ayah dan ibuku menjamu teman-teman ICJ dengan makanan sederhana dan kopi hangat.
Cerita perjalananku mendaki gunung Rinjani sudah selesai.
Pertemuan dengan bang Doddy, Rangga, Dori, Miss Polland, Miss France, Amak, Fandri, Arif, Harfi, Lina, dan Nissa juga sudah selesai.
Petualangan indah yang membuatku begitu bahagia.
Meskipun petualangan ini berhasil, namun pengalaman ini mengajarkanku untuk tidak terlalu percaya diri ketika berpetualang.
Delapan belas bulan kemudian, aku yang saat itu sangat percaya diri untuk berpetualang ke Flores dengan bersepeda, terpaksa harus gagal karena mengalami kecelakaan pada Desember 2018 lalu.
Kemudian, sejak insiden itu, aku takut bersepeda jarak jauh lagi.
Kadang kala aku sering berpikir, masih diberi kesempatan hidup tanpa ada cacat sedikit pun akibat kecelakaan itu adalah suatu anugerah yang Tuhan berikan padaku.
Lalu, Clarista, teman baikku, memberikan sebuah novel berlatar perang Dunia II dan cinta segitiga di dalamnya untuk kubaca.
Kisah itu cukup rumit, namun mampu menghiburku yang sedang bersedih saat itu.
Selesai…..


Komentar
Posting Komentar