Seorang penulis hebat berawal dari seorang pembaca yang hebat.
Frasa itu merupakan landasan kuat mengapa aku memilih dunia tulis-menulis sebagai salah satu hobiku, selain sepeda, backpacker, hiking, renang, lari, sepakbola, badminton, dan menghafal nama-nama pornstar dari benua Eropa hingga Amerika.
Orang yang hobi membaca punya pemikiran-pemikiran yang berbeda dengan kalian. Pemikiran-pemikiran kami kuat dan brilian; kaum intelek (meskipun sebagian dari kami bukan sarjana). Bukan pemikiran-pemikiran bodoh dan rendahan macam bergosip, mengurusi hidup orang lain, hingga pamer harta dan pencapaian-pencapain yang tidak bermanfaat bagi orang lain.
Kemudian, sudah berapa banyak uang yang kuhabiskan untuk membeli buku-buku itu? Itu hanya koleksi buku-buku-ku di lantai bawah, belum di loteng rumah, kamar tidurku.
Sebenarnya, bakat menulisku sudah mulai terlihat di tahun 2013, namun aku baru mulai menulis di tahun 2015, dan berhasil menyelesaikan dua naskah novel yang sangat berarti dalam hidupku pada tahun 2016.
Sejak ditolak Gramedia dan kawan-kawannya, hatiku hancur, impian menjadi seorang penulis terkenal sirna, aku tidak semangat lagi menulis. Dan pada tahun 2017, 2018, 2019, selama tiga tahun itu aku tidak membaca dan menulis sama sekali. Aku juga tidak peduli lagi dengan naskah-naskahku yang mangkrak.
Clarista, teman baikku, sampai protes kenapa aku tak kunjung memberikan naskah novel You Are My Flaky Pain of The Past untuk dibaca sampai akhir. Dia sangat penasaran dengan cerita itu, karena aku hanya memberinya enam draft awal naskah itu untuk dia baca. Sisanya, aku ingin dia membeli buku-ku jika sudah terbit nanti.
Bu Tina, pedagang buku bekas, juga protes kenapa aku tidak mengunjungi toko bukunya lagi selama tiga tahun terakhir ini.
Fika, yang memberikan dukungan agar aku memeluk mimpiku, percaya jika aku memeluk impian itu, maka Tuhan akan mengabulkannya.
Nana, yang dulu mengatakan karakter menulisku sangat kuat, percaya jika naskahku akan menembus penerbit major.
Aida, yang dulu yakin jika aku akan menjadi seorang penulis, kini sudah menikah dan memiliki seorang anak.
Mbak Nina, seorang pembaca hebat yang sedari kecil menyukai buku, mengapresiasi naskah-naskah novelku. Penilaian dari seorang pembaca hebat seperti dia sangat penting bagiku. Sebab, aku akan semakin percaya diri untuk menerbangkan naskah-naskahku lagi.
Aku, yang mudah menyerah dan pesimis, kadang selalu ragu jika aku tidak mungkin menjadi seorang penulis. Karena blog dan youtube sudah menjadi tren di masa sekarang hingga masa depan.
Namun, sejak bertemu miss Japan, Vietnam, dan Jerman, semangat menulisku kembali berkobar. Jiwa seniku mulai berwarna-warni lagi. Hatiku dilanda keceriaan untuk menyelesaikan cerita tentang kami. Lalu, menunjukkan pada dunia bahwa aku pasti bisa.
Lima tahun dari sekarang, aku yakin sekali, dari 20-30 naskah novelku, masa tidak akan ada naskah-naskahku yang menembus penerbit major?
Jika itu terjadi, mungkin aku bisa ke Rusia lebih cepat; bertemu miss Vietnam di Thailand, bertemu Yuko di Cina, dan bertemu Natalia di Berlin, sebelum pulang ke Indonesia atau mati di Eropa.
Membangkitkan Semangat Menulis Yang Mulai Memudar Karena Malas dan Terjebak Waiters Block.
You Are My White Vanilla Chocolatte

Komentar
Posting Komentar